Ketika Jingga Bertasbih

Ketika Jingga Bertasbih
hapus


__ADS_3

Darahku mendidih, amarahku bergejolak. Aku benar-benar murka dengannya.


Ya, seperti itulah diriku saat ini.


Jika mungkin ada orang yang berpandangan, bahwa aku tidak seharusnya bersikap demikian. Murka berlebihan padanya.


Karena menurutnya, akulah, yang membuat kisah ini rumit, sebab tidak sedari dulu kubuat keputusan kembali bersamanya.


Ya, memang benar!


Tapi, entah apa yang kiranya orang tersebut rasakan jika menjadi diriku.


Ini soal perasaan, ini soal kepekaan hati seorang wanita.


 


................


 


Sekilas kulirik seorang wanita yang duduk di sebelahku. Dan si wanita itu memandangiku. Pastinya, aku menjadi bahan tontonannya, dia, sedari tadi.


Lalu sejenak tatapanku beradu dengan si Wanita itu. Dari tatapannya tersebut seolah, dia, tampak prihatin padaku. Ya, raut wajahnya kelihatan terenyuh.


Akupun berbicara padanya seolah menyampaikan unek-unekku tentang, adelio.


"Dia benar pergi meninggalkanku. Benar-benar dia tidak peduli denganku," kataku pada si Wanita tersebut.


Dan si Wanita tersebut pun menanggapi dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Apa lelaki tadi kekasih, Anda?" tanyanya padaku.


"Dia lelaki yang pernah memberiku suatu harapan dan dia memang juga adalah harapan bersahajaku. Tapi, bohong rupanya yang telah dia nyatakan padaku. Ya, hari ini pertemuan pertamaku setelah lama berpisah. Dan hanya kecewa yang kudapatkan, bukan wujud harapanku yang semestinya."


Wanita tersebut terus terpaku memandangku. Entah apa yang terbersit dalam pikirannya. Hanya sekedar kasihan'kah?! Atau sedang meresapi lirih perih batinku ini.


Dan, aku kembali mengubah posisi dudukku seperti sebelumnya. Ya, kembali menghadap ke meja.


Kusandarkan punggungku dengan pandangan lurus kedepan, tentunya pandangan kosong.


Aku kembali berbicara selayak berbicara dengan seseorang di depanku. Tentu pula aku selayak orang yang telah hilang kewarasannya.


Aku tidak bisa lagi memendam gejolak batinku. Kuingin mencurahkan semua unek-unek tentang rasa kecewa maupun asumsiku terhadap sikap, adelio, padaku.


Humm...benar-benar aku tidak menyangka, adelio, tidak sepeka dulu. Ya, dulu dia adalah sosok kesejukan dalam sandaran hatiku dan seorang mampu memahami setiap keresahanku. Namun kini.....?! Ahk, pecundang! ujarku dalam hati kali ini.


Kuhela napasku, lalu aku embuskan kuat.


Dan lalu kuseka air mataku yang terus mengucur.


Kemudian kembali aku bergumam". Oh. Tidak'kah, dia, sedikit saja memahami rasa perih hati ini, yang telah jauh merangkak dengan segala harapanku, padanya?!


Mengapa, dia, tidak bertanya sedikit pun?!


Apakah aku baik-baik saja?


Ya. Andaikan, dia bertanya demikian, maka akan kukatakan bahwa sekarang aku telah mati. Aku kini tidak punya titian lagi untuk terus melanjutkan kehidupan ini.


Dan, apakah aku masih punya harapan lain lagi?!

__ADS_1


Ya, kurasa tidak ada lagi. Karena pertemuan hari inilah, adalah harapanku satu-satunya. Hari di mana hatiku sudah mulai tertawa lagi, namun ternyata hanyalah tertawa sekejap untuk menangis selamanya.


Yang kudapatkan hari ini, hanyalah suatu yang lebih dari segala kesedihan di kehidupan ini.


Kini kududuk membatin dengan berderaikan air mata. Kuratapi diri ini yang benar-benar malang.


Ya Allah! Apakah kekecewaan yang kudapatkan hari ini telah tertulis pada jalan hidupku?!


Ya Allah...! Kenapa tidak engkau cabut saja nyawaku secepatnya! Aku mulai lelah, Ya Allah!


Tidak ada lagi harapanku untuk terus berjuang hidup.


Ya, aku kini rela engkau cabut nyawaku, segera...!


Tangisku kian pecah dan tidak memedulikan lagi, aku berada di mana. Aku tidak peduli tatapan orang-orang yang ada di dalam kafe. Akupun seolah benar-benar hilang kesadaran.


Brukkkkklkk


Aku menggebrak meja yang ada di depanku.


Mata orang-orang pun mengarah kepadaku.


Lalu, aku menangis sejenak.


Setelah itu, kuhentikan tangisanku. Kemudian berbicara sendiri terkesan sedang memaki, adelio. Walau dia sudah tidak ada dihadapanku lagi.


Aku


.....................

__ADS_1


 


__ADS_2