
"Maaf, Mbak Jingga!"
"Ya?"
"Apa, Anda yakin, mau ikut masuk?" tanya, Raihan.
"Tentu!"
"Sangat bahaya, loh!"
"Tidak masalah."
"Nona, ko pemberani juga, ya? Sa salut sama ko, cantik-cantik bernyali. Mantaap, ko seng ada lawan!" ujarnya pun juga si obet dengan dialek papuanya. Hingga membuatku tersenyum padanya.
Setelah merasa agak aman, kami pun bergerak. Dan kami sudah berada di depan salah satu pintu kecil, yang mungkin itu adalah pintu alternatif masuk ke gudang tersebut.
"Aku lalu, berujar menyampaikan usulanku". Bagaimana kalau kita coba dulu cari jalan lain yang mungkin ada di belakang gudang ini!"
__ADS_1
"Kenapa, kalau lewat depan?"
"Ya, siapa tahu saja, masih ada teman mereka yang tinggal berjaga-jaga,"
"Benar juga," ucapnya Raihan.
v7 u 7vuvuv8huv8 uvubuv8vuvubu uvubhvuvuvuvuvu hvu uvu uvu hvuvhvy u u hhvu uvuu u h vu u vh u u h u. v v v vvbc u h h y hv u u u u g u u y u yh y h h y g h g g h hvg g h ggy gg yv g h hvy yv g gg g g v vv v gv vv gg gv h h gvh v vg g v g gg vgv gg ggg gvg yg g yv h yv gvlantai dua tersebut luasnya kira-kira hanya seperdua dari luas ruang gudang seluruhnya.
Kami mengendap-ngendap untuk mencapai tangga, dengan tentunya kami melangkah berhati-hati sekali. Karena ruangan tersebut sedikit gelap serta banyak kayu-kayu bekas peti yang berserakan.
Cahaya lampu yang temaram yang terdapat dilantai dua itu, membuat kami sedikit leluasa bergerak. Hingga kami pun sudah berada di ujung atas tangga.
Merasa aman, kami bergegas menuju salah satu kamar itu untuk memeriksanya. Tepat berada di depan pintu, kembali kami mencoba memastikan di kamar tersebut aman dan tentunya berharap kakaknya Fadil di sekap di kamar tersebut.
"Bagaimana?" tanyaku berbisik.
"Sepertinya kosong," jawabnya Raihan.
__ADS_1
Kamar pertama, terasa kosong. Raihan pun membuka pintu kamar itu dan memang benar, kamar itu kosong.
Kami beralih ke kamar kedua. Belum tepat kami berada di depan pintu. Kami sudah mendengar ada suara sayup-sayup di dalam.
Di depan pintu, lagi Raihan dan aku memastikan siapa yang di dalam kamar itu, dengan menempelkan telinga pada daun pintu yang terbuat dari bedi plat.
Aku lalu menyatakan kalau aku merasa di dalam bukan teman penjahat tadi. Karena samar-samar aku hanya mendengar suara anak perempuan, namun lebih dari satu.
Alhasil, Fadil pun berseru memanggil nama, kakaknya. Namun segera diperingati oleh, Raihan. Agar sekiranya dia tidak terlalu berteriak.
Kembali Fadil memanggil kakaknya, yang kali ini, tidak terlalu keras suaranya. Dan dari dalam, seorang pun menyahut.
"Itu suara, Fania!" seru Fadil.
Fadil, sangat yakin itu suara kakak perempuannya. Akhirnya tanpa membuang waktu. Raihan dan obet pun segera mendobrak pintu tersebut.
Sangat keras untuk didobrak dengan hanya menendang. Akhirnya kuusulkan memakai balok besi yang mungkin fungsinya dulu adalah tiang.
__ADS_1
Aku ikut membantu dengan sekuat tenagaku. Setelah berhasil mendobrak