
g u u uvivu ibhv8 u 8 8 7 uvuvhvuvu hvuhh u u h u u u u u
Tentunya kedua pria dihadapanku itu bukan manusia yang baik. Ya, kemungkinan besar mereka tak segan membuat riwayatku tamat.
Mungkin rasa emosionalku akan empatiku pada nasib anak-anak itu yang bakal buruk di tangan para preman jahat itu, hingga kubernyali bisa menyelamatkan anak-anak itu. Walau apapun risikonya. Dan mungkin juga rasa amarahku dengan tindakan para preman itu yang benar-benar tidak berperikemanusiaan.
Aku serasa tidak sadar bahwa aku ini seorang wanita. Dan tentunya belum emak-emak.
Tapi nyaris emak-emak, sih, hihihi....Kalau emak-emak, kan, punya kekuatan.
The power of emak-emak. Lah, aku...! Ahk yang jelas, aku yakin, Allah SubhanaWataala, bersamaku.
"Hei, Ayo ringkus mereka sebelum, bos, datang!"
Pria preman berambut gonrong ikal itu pun mengajak temannya meringkus kami.
"Benar, Bro. Bisa dapat masalah kita. Tapi bagaimana cewe ini?"
"Lu, gimana sih? Ya, dia juga. Lumayan dapat bonus kita entar, dapat yang bening, ya kan? Mahal, Bro...!"
"Ahaiii, kamu benar, Bro...!"
__ADS_1
"Hei, cewe! Sebaiknya kamu kerjasama dengan kami, kalau kamu tidak ingin kami melakukan kekerasan padamu!" ujarnya padaku.
Dan akupun tersenyum sinis serta menatap nanar pada mereka, lalu kuberujar juga padanya". Ok, kita kerjasama!"
"Nah, gitu. Kamu pintar!"
"Kita kerjasama, lepaskan mereka dan kamu tidak akan di penjara, karena pihak berwajib segera kemari," ujarku terkesan mengancam mereka.
"*******, malah menakuti kami. Hahaha....lu, siapa? Lu, kagak kenal kami, ya?"
"Ya, aku kenal kalian. Kalian penjahat murahan, yang hanya bisa memanfaatkan kelemahan anak-anak wanita!" timpalku juga berseru lantang.
"Hei, asal kamu tahu, kami ini mafia terbesar di kota ini, tidak ada yang bisa menangkap kami. Hahaha..." ujarnya juga temannya, lalu keduanya pun tertawa terbahak-bahak.
Dua preman, penjahat ataukah mafia, ahk sama sajalah. Mulai bersiap menyerang kami.
"Eits, sabar dulu, Bro!" ujarku segera untuk menahan keduanya untuk tidak menyerang dulu.
"Kenapa? Mau nyerah saja, ya?"
"Bro, tolonglah! Kalian lihat wajah anak-anak itu! Kasihan mereka, cobalah pikirkan dari lubuk hati kalian paling dalam. Mereka itu bukan, binatang. Mereka manusia seperti kamu, andaikan kamu atau anakmu, adikmu diperlakukan seperti itu, apa yang kamu rasakan?"
__ADS_1
"Ahk, bacot lu....!"
Raihan yang tadinya ada di belakangku, kini sudah di sampingku bersama obet.
"Mundurlah, Mbak Jingga. Biar kami yang hadapi!" ujarnya Raihan padaku.
Aku hanya mundur selangkah, lalu berucap pada Raihan dan Obet". Kalian yakin?"
"Entahlah, moga bisa lawan mereka. Badannya tidak terlalu besar," ujarnya Raihan.
"Tenang, sa pasti bisa atasi dong dua orang itu!" ujar pula si Obet.
Terlihatlah dua penjahat itu kian murka karena Raihan dan Obet terkesan menantangnya.
"Hei, tunggu dulu!" seruku..
Setelah itu, aku kembali bergerak selangkah ke depan, tepat di tempatku tadi, atau kembali berada di sampingnya, Raihan.
"Hei, bagaimana kalau aku yang mencoba agar mereka tidak menyerang kita, maksudku mengulur waktu. Dan salah satu dari kita mencari bantuan masyarakat," bisikku pada Raihan.
"Kamu yakin bisa membuat mereka bersantai dulu?" tanya Raihan padaku.
__ADS_1
"Aku coba," jawabku.