Ketika Jingga Bertasbih

Ketika Jingga Bertasbih
hapus


__ADS_3

u u u u u i u i u r gvvu h uvu uvu u u uvu u u u h u u uvh uvuvuvi i i ivuvuvuvuu uvhu u ucvuhu uh gh hh vbvjh hh h


Kubuka pelan pintu kamarku, lalu mengintip keluar. Ya, Bundaku sedang berada di ruang tengah, sedang menonton Tv.


Aku pun menemui, Bundaku, untuk membicarakan niatku, serta tentunya mengharap ijinnya dengan rasa degdegan.


Walau telah seyakin-yakinnya akan keputusanku ke Jakarta. Tapi degdeganku ini, entah akan apakah kiranya keputusan, Bundaku. Apakah beliau ijinin atau tidak.


"Eh, Nak. kirain sudah tidur?" tanyanya, Bundaku saat aku sudah berada di dekatnya.


"Belum bisa tidur, Bunda," ucapku sembari duduk disamping, Bundaku.


"Bun, ada yang Jingga, pengen sampaikan!"


"Ya, sampaikanlah, Nak! Kok seperti segan, gitu?"


"Bunda, aku mau ke Jakarta," ucapku pelan terkesan nyaris tak terdengar.


Bundaku yang berada di sampingku sedang menonton tv, melirikku cepat. Mungkin beliau mendengar ucapanku jelas.


"Jakarta?"


"Iya, Bunda. Aku mau ke Jakarta," ucapku lagi tapi kali ini seraya menunduk.

__ADS_1


Bundaku membisu, entah apa yang beliau pikirkan saat itu. Memang sempat kulihat beliau tampak tertegun.


"Kamu serius, Nak?"


"Iya, Bunda,"


"Untuk apa, Nak?" tanya Bundaku lagi.


Sejenak aku membisu, soalnya entah kenapa berat rasanya menjawabnya. Ya aku bingung dengan jawaban apa baiknya yang kusampaikan.


"Bunda, aku akan berupaya di sana untuk menggapai harapanku. Ya. Ada harapan yang akan kukejar, di sana?"


"Nak, kamu yakin? Tidak bercanda, kan?"


Kembali Bundaku bertanya tampak lemas. Kedua bola mata bundaku, mulai terlihat berkaca-kaca.


"Padahal, Bunda sudah lega bisa bersama dirimu lagi. Bunda, Pengen dekat lagi denganmu, Nak. Tapi malah kamu ingin pergi jauh lagi!"


"Maafkan aku, Bunda. Sebenarnya akupun mengharapkan seperti itu. Selalu bersama, Bunda," ucapku, lalu kuseka air mataku.


Setelah itu, kupeluk, Bundaku, sembari berucap". Aku sangat menyangi, Bunda. Menyayangi keluarga kita. Jadi tentunya aku ingin selalu bersama."


"Tapi harus dengan begitu, Anakku?"

__ADS_1


"Mungkin dengan cara tersebut. Aku bisa meraihnya, dan aku bisa lebih tenang jika sudah kulakukan. Walau apapun hasilnya, kelak."


"Bukannya aku tidak setuju, Nak. Tapi, Bunda mengkhawatirkanmu. Bunda, takut kamu kenapa-kenapa."


"Insya Allah, Bunda. Jingga akan selalu berhati-hati, dan terus menjaga diri."


"Nak, kamu memang orangnya nekat."


"Kumohon ijinkan aku tuk berupaya meraih harapanku, Bunda!"


"Jujur aku berat melepasmu, Nak. Bunda, bingung juga mau beri pernyataan apa. Karena di lain sisi, Bunda sudah janji padamu untuk selalu merestuimu dalam menggapai harapanmu serta mendukungmu."


"Kumohon, Bunda!"


"Nak, apakah kamu ke Jakarta ingin menemui, adelio?" tanya, Bundaku dengan menatapku tajam.


Dan akupun membalas menatap, Bundaku. Sebentar. Ya, tidak kuduga beliau bertanya, itu.


Ya, tadi aku sangat terperanjat. Mengapa, Bundaku, bisa tahu.


"Iya, Bunda. Maaf!" ucapku lirih.


Saat itu aku serasa malu hati. Hingga, aku hanya bisa menunduk mengakui maksud tujuanku.

__ADS_1


Walau sebenarnya memang aku akan mengatakannya. Tapi nanti, jika sudah ada momen yang pas. Namun tidak kuduga, aku keduluan.


"Maaf, Bunda. Apakah kiranya aku salah jika mengharapkannya, dan apakah aku sekiranya merendahkan h hvjvjvbj jv j hb j vj u


__ADS_2