
Di depan pintu kuberdiri terpaku. Kerinduanku pada keluargaku sedikit di sisipi oleh rasa takut, bilamana Bundaku masih berada di tepian egonya.
Ya, beliau tetap pada kehendaknya. Aku takut beliau tidak memahamiku maupun menyangkalkan kebenaran yang bakal kusampaikan.
Aku takut beliau berpikiran bahwa perceraianku terjadi karena aku memang yang utama menginginkannya.
Ahk, semoga saja, Bundaku tidak berpikiran demikian. Gumamku pun dalam hati sembari mengetuk pintu dengan jantungku yang berdegup kencang.
Huuuf. Degdegannya melebihi saat di depan pintu ruang kelas, karena terlambat.
Tidak berapa lama kemudian. Pintu pun terbuka. Dan dari dalam, Bundaku histeris menyergapku dengan rangkulannya.
Beliau menciumiku seraya menangis tersedu-sedu.
Aneh, kenapa Bundaku bertingkah seperti ini. Tidak seperti sebelumnya saat aku dan mantanku berkunjung kesini. Gumamku bertanya-tanya dalam hati.
"Bunda, rindu sekali padamu, Nak!" ucapnya, Bundaku, seraya menatapku sendu.
Dan, aku terbuai tangisan lirih, Bundaku, hingga air mataku pun mengucur. Kali ini, akulah yang memeluk erat, Bundaku. Lalu kusampaikan jualah tentang rasa rinduku dan permohonan maafku bila aku tidak bisa menjadi seperti yang di inginkan.
"Maafkan aku, Bunda! Karena anak wanitamu ini tidak bisa sesuai yang, Bunda, harapkan."
"Sudahlah, anakku. Tidak usah kamu ungkit lagi. Bundamu ini yang salah."
__ADS_1
"Jadi, Bunda bisa memahamiku?"
"Tentu, Anakku."
"Di mana, Ayah, Bunda?"
"Ayahmu lagi ke Papua. InsyaAllah lusa baliknya."
"Untuk apa ke sana, Bunda?"
"Sehari kebebasan Ayahmu pada dua minggu yang lalu. Pak Burhan, langsung mengajak Ayahmu untuk membantunya menangani proyeknya di Papua."
"Gimana keadaan Ayahku, Bunda?"
"Iya, Bunda."
"Atau kamu makan dulu, Nak!"
"Nanti saja, aku mau mandi dulu."
Hari sudah sore rupanya. Humm, memang terasa nyaman jika di rumah sendiri.
Akh, sebaiknya aku temuin, Bundaku. Aku pengen ngobrol sebentar, baru kerumahnya, nadia.
__ADS_1
"Bunda, ada hal yang penting ingin kusampaikan. Tapi sangat kuharapkan, Bunda, bisa memahaminya," ucapku di samping, Bundaku, yang sedang merapikan pakaian yang baru diangkat dari jemuran.
"Tidak perlu, Anakku! Bunda sudah tahu dan sangat memahaminya," sahut bundaku, tanpa menolehku karena dia memulai menyetrika.
"Bunda, sudah tahu yang telah terjadi padaku dan-
"Iya, Nak. Saya sudah tahu," ujar Bundaku menyela pertanyaanku, kemudian menghentikan setrikaannya dan menatapku.
Aku membisu heran serta bingung. ya, apa yang dimaksudkan, Bundaku. Tanyaku dalam hati.
"Kamu sudah bercerai dengan, doni, kan?! Lanjut Bundaku menekankan suatu hal yang beliau telah tahu bahwa hal itulah yang ingin kusampaikan.
Aku masih terdiam menunduk. Aku tidak berani membalas tatapan, Bundaku.
"Tidak perlu merasa bersalah, Nak, pada, Bunda. Sejatinyalah, Bunda, yang harus di persalahkan. Jadi, Bunda, mohon dimaafin, ya, Nak!"
"Oh, tidak, Bunda! Bunda tidak bersalah padaku. Aku tidak pernah menyalahkan, Bunda. Itu makanya aku mencoba bertahan, namun pada akhirnya aku pisah juga. Aku tidak sanggup lagi, Bunda."
"Oh, Nak, Bundamu telah berlaku dzalim padamu. Maafin, Bunda!" ujarnya, Bundaku, berderai air mata seraya merangkulku.
"Kumohon jangan ada perasaanya, Bunda, telah berlaku dzalim padaku. Tidak, Bunda!"
"Jujur, tiap malam aku menangisimu, Nak. Semenjak pernikahanmu, aku selalu dihantui rasa bersalah. Dan setelah setahun pernikahanmu berlalu. Rasa bersalah itupun makin menyiksaku, aku mulai menyadari bahwa aku telah merenggut masa remajamu. Apalagi
__ADS_1