Ketika Jingga Bertasbih

Ketika Jingga Bertasbih
hapus


__ADS_3

Di saat kami masih asyik mengobrol, sampai-sampai aku lupa tujuan lainku, yaitu cari kerja. Dan tiba-tiba di depan kami, tepatnya sebelah jalan jalur dua, yang mana ada restoran. Di depan restoran itulah tiba-tiba terjadi kerumunan orang.


Aku dan Fadil


"Om, mohon pertolongannya! Anak itu butuh tumpangan untuk dibawa ke Rumah sakit," pintaku memohon pada, si Om, tersebut.


Si Om, yang seperti seorang pejabat atau pengusaha kaya itu, hanya meresponku dengan dingin. Begitupun istrinya. Terlihat mereka seolah tidak peduli.


Ya, aku dibuatnya mengelus dada. Dia berkata, anak itu tidak apa-apa, itu hanya modus anak-anak jalanan untuk nyari uang. Walau aku berusaha meyakinkan mereka, kalau anak itu tidak berlaku demikian, dia itu anak baik, dan aku kenal dia. Eh, malah aku dituding, sekongkolannya.


Udahlah, aku mengalah saja. Daripada debat panjang, mending aku cepat usaha sendiri bawa, fais, ke Rumah sakit.


Ya, memang apa yang ditudingkan ke faiz maupun ke aku, hanyalah asumsi mereka. Jadi aku hargai saja. Tetapi kuharapkan agar setiap orang, jika mengalami hal demikian. Jangan langsung berprasangka buruk. Ya, setidaknya cek dulu. Siapa tahu tidak seperti itu. Kasian,kan, korbannya.


"Ayo, Dek. Kita bawa, Faiz. Ke Rumah sakit. Aku sudah dapat ojek, tuh!"


"Tidak usah, Kak Jingga. Aku tidak apa-apa," ujar Faiz.


"Tapi katanya, kamu keserempet mobil, tadi? Jadi takutnya kalau ada luka dalam."


"Cuma kesentuh badan mobil, dikit kok. Tadi, memang aku sempat linglung sebelum keserempet. Aku serasa lemes, Kak," terangnya Faiz pelan.

__ADS_1


"Kamu sudah makan, Dek?" tanya Fadil pada Adeknya.


"Belum, Kak," jawabnya Faiz sambil menunduk.


"Ya, pantas kamu lemas. Kamu bandel, sih! Kakak tadi suruh makan, bilangnya entar, entar," ujar Fadil sedikit memarahi adiknya.


"Kalau gitu, bawa Faiz ke ruko, Dek! Aku beli makanan dulu."


Setelah aku sudah berada di ruko lagi. Aku langsung menelpon qanita, untuk meminta tolong padanya untuk menjemput kami. Tapi, qanita tidak dapat menjemput kami, karena dia sedang ada kuliah saat itu.


"Makan dulu, Dek! Baru kita pulang!"


"Terima kasih, Kak." ucap Faiz pelan.


"Kamu makan juga, Dil!" Pintaku pada Fadil. Kemudian pamit untuk pergi sebentar.


"Kakak, mau ke mana?"


"Kakak cari ojek dulu."


"Buat apa, Kak Jingga?"

__ADS_1


"Buat antar, Faiz, pulang."


"Kak Jingga, Tidak usah!" sahut Faiz.


"Tapi, kamu masih lemas, Dek Faiz!"


"Aku sudah sehat, Kok. Aku bisa kok jalan kaki, pulang ke rumah," ucapnya lagi Faiz.


Ya, walaupun Faiz mau jalan kaki. Tetapi aku tetap mencarikan dia ojek. Kasihan dia, dia masih tampak lemas.


Setelah dapat ojek. Aku pun meminta, Om ojek tersebut, mengantar Faiz pulang. Sedang aku dan Fadil jalan kaki.


"Naaah......ini dia cewek tadi!"


Astaga......huu, aku kaget. Tiga orang pria keluar dari balik semak di pinggir jalan yang kami lalui. Dan mereka mencegat kami dengan gesture tidak bersahabat sama sekali.


Oh, kuperhatikan mereka. Rupanya preman yang di pasar tadi.


"Mau ngapain lagi kalian?" tanyaku pelan berupaya tenang.


"Masih nanya. Lah kami, ingin kamu membayar kesalahanmu pada kami!"

__ADS_1


"Aku tidak punya uang!" ujarku.


Walau aku


__ADS_2