
Bbb h h j j h j j h h h h hv0 o o o o o obobobo obobobobobobojkbjbibovovSetelah slama dua pekan aku dirawat di rumah sakit. Akupun diperbolehkan oleh Dokter Rumah sakit tersebut, pulang kerumahku Tapi tentunya tetapmnyarankan untuk beristirahat di rumah dalam beberapa hari, hingga kondisi tubuhku benar-benar fit.
"Maafkan aku, ya, Nadia! aku selalu merepotkanmu."
"Eits..santai saja, cantik!"
"kamu tidak ada kegiataan hari ini?" tanyaku
"Tidak ada, dong. makanya aku kemari menemanimu," ucapnya, Nadia, seraya menyunggingkan senyumannya padaku.
"Terima kasih, ya, Ndia!"
"Ya. Eh, sepertinya kamu sudah bisa masuk sekolahbesok, Jingga," ujar Nadia.
Aku tidak menanggapinya. Aku hanya tertunduk membisu saat itu.
"Kamu menangis, Jingga?" tanyanya, Nadia, kala melihat pipiku yang basah oleh air mataku.
Kuseka air mataku, lalu kuangkat wajahku menatap Nadia, sembari aku berucap pelan". Aku malu, Nadia."
__ADS_1
"Tidak, Jingga. Jangan ada perasaan seperti itu pada dirimu!"
"Kamu tahu kan, seperti apa hidupku sekarang ini?"
"Aku tahu. Aku paham dengan apa yang kamu rasakan. Tapi perlu kamu ketahui, semua manusia pasti pernah atau akan ada saatnya mengalami keterpurukan. Biarlah untuk saat ini kehidupanmu terpuruk, asal jangan mentalmu. Karena jika keduanya terpuruk. Maka kamu sangat rugi. Apakah kamu tidak ingin mengubah nasibmu saat ini? Apakah kamu tidak ingin bangkit dan menjadi lebih baik lagi dari yang dulu?"
"Tentu, Nadia. Aku tidak ingin dikucilkan, tidak lagi dicibir sebagai gadis sombong yang kini miskin. Aku tidak ingin lama di cap sebagai, anak seorang koruptor!"
"Makanya, mentalmu harus kuat. Biarkan saja anjing menggonggong, kafilah berlalu. Toh, itu tidak akan bisa kau hindari. Jika kamu hindari, hingga tidak mau kesekolah lagi. Maka akan membuat hidupmu terpuruk lebih parah lagi. Kamu, terlalu lama Tidak mengikuti mata pelajaran di sekolah. Maka bisa di pastikan kamu akan dikeluarkan. Dan, mau jadi apa kamu, jika putus sekolah. Apakah kamu bisa berbuat sesuatu tanpa pendidikan yang cukup?"
"Apa aku kuat, Nadia?"
"Terima kasih, Nadia! Aku benar malu pada diriku sendiri. Aku malu pada perilakuku yang pernah ada!"
"Jika kamu malu tentangmu yang dulu atau jika kamu merasa salah. Maka, seharusnyalah kamu tidak minder. Anggap saja, saat ini adalah hukuman buatmu! Ya, terima dengan lapang dada apapun yang berlaku padamu. Jadikan pelajaran untuk menjadikan dirimu dewasa serta lebih kuat lagi. Tentunya menjadikan dirimu lebih baik lagi."
Begitulah tuturnya, Nadia, yang tidak mampu aku tanggapi. Karena memang suatu pernyataan yang tidak bisa kusangsikan. Dan, ada perkataan, Nadia, pula. Yang begitu sedikit menambah kekuatan jiwaku. Bahwa sejatinya musibah yang terjadi pada kita, adalah ujian dan serta sebagai penghapus dosa.
Ya. Aku ingin jadi orang yang berhati baik.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan menghadapinya!" ujarku pada, Nadia. Dan, Nadia pun tersenyum. Lalu merangkulku.
"Gitu dong...! Ini baru sahabatku. Semangat....!"
"Terima kasih sahabatku!"
"Sama-sama. Ohya, aku pamit pulang, ya. Sudah hampir tengah malam, ni."
"Kamu tidak ingin menginap?"
"Besok saja, ya!"
"Baiklah."
Keesokan paginya. Dengan mengerahkan rasa percaya diriku, mentalku. Kulangkahkan kaki menuju sekolah. Berat terasa sebenarnya kakiku melangkah. Terutama pada saat berada di pintu gerbang sekolah. Hampir-hampir aku balik badan pulang kerumah.
Tetapi, ucapan-ucapannya, nadia. Sedikit membantuku untuk membuatku mampu mengalahkan rasa tidak percaya diriku. Ya, aku harus tetap percaya diri seperti dulu. Dan ini memang hukuman buatku. Jadi aku akan jalani.
Setelah beberapa langkah dari pintu gerbang. Kulihat dari arah depanku. Adelio berlari k
__ADS_1