
Keterpurukan sosial ekonomi serta keterpurukan sosial kepercayaan orang-orang sekitar daerahku terhadap keluargaku tidak lagi berpengaruh padaku. Walaupun kini aku hidup sederhana, namun aku bahagia.
Kesederhanaan adalah kehidupan baruku. Tapi lebih nikmat atau lebih bemakna kurasakan.
Ya, ternyata benar. Bahagia itu simpel. Menjadi orang yang apa adanya, menyenangkan, dan bersahabat. Membuat hidupku terasa nyaman. Hariku seceria mentari pagi yang bersinar tanpa beban.
"Kamu tampak makin anggun setelah berhijab, Jingga,"
"Benarkah?"
"Yuup. Dan terlihat aura keanggunanmu makin bersahaja. Adem ngeliat kamu."
"Jadi selama ini, tidak adem, ya?"
"Ademnya beda. Kali ini seadem-ademnya. Seolah rasa terkesimaku itu langsung dari dalam hatiku yang paling dalam."
"Mulai, gombal lagi."
"Ngapain aku gombal lagi, dek. Kamu kan udah jadi kekasih hatiku."
"Ya, juga sih."
"Kak, benarkah kah kalau pandangan cowo ke wanita berhijab, tidak ada bawaan nafsu saat cowok memandang?"
"Sejatinya mungkin memang benar. Hijab bagi wanita itu melindungi tatapan mesum pria. Serta hijab mencerminkan wanita yang suci dan berakhlak. Tapi yang berhijab tergantung niatnya. Kalau memang niatnya atas nama, Allah Swt. Ya pastinya, Allah, akan bersamamu dan menjagamu dari perbuatan tercela. Dan menurutku lagi, kalau hijab itu menandakan wanita beragama, wanita muslim, muslimah tentunya. Jadi yang memandang atau melihat wanita berhijab. Mungkin akan terketuk di hatinya maupun di benaknya tentang, agama. Ajaran agama tentunya. Lalu mungkin, si pria akan ingat bahwa dia seorang muslim serta sadar bahwa wanita itu adalah wanita baik-baik. Jadi akan merasa tidak enak hati jika berbuat macam-macam pada wanita yang baik. Apalagi kalau seorang itu punya ibu yang juga berhijab. Kemungkinan besar dia akan ingat atau terbayang, ibunya. Menurutku, ya!"
"Ya, sangat masuk akal."
"Syukurlah kalau masih bisa di pahami. Apalagi panjang lebar,"
__ADS_1
"Lumayan. Hihihi....."
"Malu, aku."
"Penyampaiannya cukup bisa dipahami, kok, Kak!"
"Harap, maklumlah!"
"Kak, kalau sekiranya kita benar berjodoh. Dan nikah lalu punya anak. Maunya kakak anak kita jadi, apa?"
"Jadi seorang yang berhati mulia dan berhati cerdas,"
"Tidak kepengen anaknya jadi dokter, polisi atau apa gitu?"
"Kalau sudah berhati mulia dan berhati cerdas. Maka dia akan bisa jadi apapun yang dia mau. Tentunya tidak akan jadi penjahat. Dan,Tuhan, pasti melapangkan jalan mencapai kesuksesannya."
"Benar, juga."
"Nyindir, aku, Kak?"
"Astaga...! Maaf,maaf
, Dek! Tidak maksud.....!"
"Hihihi....jangan tegang gitu, akh! Tidak masalah, Kak. Santai, saja!"
"Aku minta maaf, ya, Dek!"
"Tidak perlu minta maaf, Kak. Memang benar, kok, perkataaan Kakak."
__ADS_1
"Eh. Pulang, yuuk!"
"Bentar lagi, Kak!"
"Sudah hampir mau magrib ni, Sayangku,"
"Ih, Kakak. Padahal masih betah disini, berdua ma, Kakak!"
"Udah, besok lagi. Yuuk bangun!"
"Gendong, Tapi!"
"Ahk, manja."
"Kak. Aku mau nanya dulu?"
"Apa?"
"Apa bedanya persamaan senja dengan Kakak?"
"Ahk kiraian mau nanya apaan. Apa, ya! ahk tidak tau."
"Persamaannya adalah, sama-sama ngangenin, hihihihi..."
"Ealaah...Garing tau! lagian tiap hari juga ketemu,"
"Ih, Kakak. Gitu.....!"
"Yuuk, ahk. cepat jalannya! udah masuk saat magrib, nih..."
__ADS_1
Waktu demi waktu terus berlalu. Tidak terasa akan hampir setahun kebersamaanku dengan, adelio. Suatu masa indah yang masih sejengkal. Namun, cukup terpatri dalam hatiku. Cukup merasakan Hakikat hidup ini.
Dan masa bahagia itu, bersama dengan, Adelio. tentunya rasa di hati ini, kepekaan hati ini, dan kedewasaan pikiranku pelan mulai bertasbih. Ibarat jingga di langit senja. semburat warnaku pelan mulai jadi penghias yang indah dan mampu berada di antara kehidupan yang