
"Kak Jingga. Maafkan aku, karena tadi aku seolah menyudutkan, Kakak."
"Tidak apa-apa. Ohya, Nit. Jadi menurutmu aku salah telah berharap bisa bersama Adelio lagi?"
"Entahlah, Kak. Mungkin sebaiknya membuat pengharapan itu, tidak hanya pada satu titik. Karena belum tentu satu titik tersebut dapat kita raih sepenuhnya atau mungkin titik tersebut tidak diperuntukkan buat kita. Bukankah hari esok saja, kita tidak tahu apa yang terjadi. Apakah esok itu, kita masih bisa bernapas atau tidak lagi. Dan tentu tidak bisa dipastikan. Bukan begitu, Kak?"
"Iya, sih," jawabku singkat membenarkan penafsirannya, Qanita.
"Tapi, jika sangat yakin pada satu titik tersebut dapat kamu raih. Maka yakinkan pula jiwamu untuk siap, bila ternyata titik tersebut salah untukmu," terang Qanita lagi
"Humm, jadi ungkapan bahwa apapun bisa diraih kalau kita yakin. Itu salah?"
"Aku kira itu hanya sekedar ungkapan motivasi, Kak. Masih rancu menurutku, sih. Menurut asumsi pribadiku, ya! Jadi tidak perlu diimani. Hihihi.."
"Lantas, berasas kenapa hingga rancu bagimu?"
__ADS_1
"Karena bagiku, tidak semua hal bisa diraih dan tidak semua orang bisa meraih semua hal yang diinginkan. Atau, tergantung tujuan apa dulu yang hendak diraih, siapa pelakunya, seberapa besar kesiapan si pelaku. Kalau hanya bermodal nekat dan tanpa pertimbangan, aku kira bakal gagal. Kecuali hoki, ya!"
"Gitu, ya?"
"Menurutku."
"Ada tambahan dasar dari pendapatmu itu, agar aku bisa lebih memahaminya dan bisa mengimani?"
"Hihi..apa ya? Ya, segala sesuatu itu perlu pertimbangan, perlu mengukur sekuat apa atau seberapa bisa kita melakukannya. Apakah kamu bisa menggapai bulan di atas sana? Atau kakak hendak ke suatu tempat tapi tidak mempertimbangkan berapa lama kira-kira untuk sampai, apa nanti ada jurang, ada sungai, atau nantinya tidak ada jalur kendaraan bermotor untuk sampai di tempat itu. Lalu, Kakak pergi begitu saja ketempat itu dan tidak menyiapkan segala sesuatunya termasuk mental Kakak untuk menanggung apapun yang terjadi nantinya.
"Iya, Nit. Terima kasih pencerahannya," ujarku, menekankan apresiasiku pada pendapatnya Qanita, walau sebenarnya tidak sepenuhnya jelas kupahami.
"Bukan pencerahan, Kak. Hanya pendapatku seadanya! Dan tentang kenapa aku seolah menyudutkan, Kakak. Itu karena aku ingin, Kakak tidak berlarut memendam amarah dan kekecewaanmu, pada Adelio dan Nadia."
"Iya, Nit. Aku sudah paham dan akulah sebenarnya yang seharusnya meminta maaf, padamu. Karena tadi aku bersuara keras padamu, Nit."
__ADS_1
"Tidak masalah itu, Kak. Aku paham, kalau jiwa kakak sedang tertekan. Ya, aku berharap kakak bisa membijakinya sehingga tidak menjadi penderitaan pada batin dan jiwa, Kakak.
Memang aku juga bukan seorang yang bijak, Kak. Tapi, aku rasa tidak ada salahnya jika kukatakan bahwa sejatinya wanita itu, adalah kaum yang bijak. Karena wanita lebih peka perasaannya, jadi lebih mampu berpikir baik. Dan bisa saja bersahajanya seseorang itu, bukan karena cerdasnya. Tapi karena mempunyai sikap yang bijak."
"Terima kasih, Nit. Semoga aku cepat bisa melepas kekecewaanku terhadap Adelio dan Nadia."
"Ingat, Kak! Kakak tidak boleh stres. Kesehatanmu lebih utama."
"Buat apalagi, aku terus berupaya bertahan pada sakit yang bakal juga akan merenggut nyawaku. Apalagi, harapanku yang selama ini membuatku ingin sehat dan tetap hidup. kini sirna, Qanita! Jadi, buat apa lagi." tuturku dengan suara lirih.
"Astaga, Kak. Aku kira tadinya, Kakak, sudah berpikir baik. Eh, ternyata tidak. Kak jingga gimana, sih?!"
"Aku sudah lelah bertahan, Nit."
"Kakak nyerah karena, Adelio? Oh, sungguh kakak ini adalah manusia yang merugi. Hanya karena harapan pada seseorang tidak tercapai hingga menyangsikan Kebesaran Allah. Ada banyak orang yang terkena kanker yang
__ADS_1