Ketika Jingga Bertasbih

Ketika Jingga Bertasbih
hapus


__ADS_3

"Pake motor? Emang masih jauh?"


"Lumayan jauh, Mbak. Sekitar lima kilo lagi."


"Yeni, yeni. Itu mah jauh, bukan lumayan!"


"Mbak, yang mau boncengin, atau aku, Mbak?"


"Yeni, saja. Kan, kita mau ke tempatmu!"


"Oh, iyaya...!"


"Kenapa disimpan di sini, motornya, Yen?"


"Biar tidak ketahuan mereka kalau aku datang kerumahnya, Mbak. Dan tidak ketahuan juga kita kabur dari rumah itu. Kalau dekat rumah itu disimpan motor ini. Kedengar suaranya sama mereka , Mbak," tuturnya Yeni menerangkan alasannya.


"Ya juga, sih."


Yeni memang tidak bekerja sehari full di rumah itu. terkadang dia hanya datang saat pagi, siang, sore, dan kerap juga datangnya malam saja.

__ADS_1


Tidak berapa lama, kami pun telah sampai di rumahnya, Yeni. Bersamaan dengan adzan subuh berkumandang di Masjid. Setelah salat subuh bareng, Yeni. Aku pun mohon ijin pada, Yeni, untuk tidur sebentar. Ya, aku sangat ngantuk saat itu. Semalaman tidak ada tidurku.


"Memar di wajahnya di obati dulu, Mbak!"


"Nanti saja, Yen. Aku ngantuk sekali."


"Baiklah, Mbak. Silakan tidur dulu!"


Tak berapa lama akupun terjaga dari tidurku. Lalu kubergegas mencari yeni di bagian belakang rumahnya., sekalian mencari kamar kecil.


"Sarapan dulu, Mbak Jingga!"


"Sama-sama, Mbak. Walaupun sebenarnya apa yang kulakukan belum setimpal dengan kebaikan, Mbak jingga, padaku."


Ujarnya, Yeni, seraya menatapku dengan tatapan sendu. Dan aku hanya menanggapinya dengan tersenyum simpul. Lalu aku bertanya pada, Yeni. Kenapa, dia nekat membantuku keluar dari rumah itu.


"Seperti yang tadi aku katakan, Mbak! Mbak begitu baik padaku selama aku kerja dengan, Mbak. Jadi sudah selayaknya aku nolongin, Mbak. Tentunya aku juga kasihan pada, Mbak Jingga."


"Tapi kamu bisa dapat masalah kalau ketahuan. Kamu bisa di pecatnya atau mungkin juga dia akan berbuat kasar padamu!"

__ADS_1


"Tidak masalah, Mbak. Aku memang tidak mau kerumah itu lagi. Dan aku sudah yakin siap menanggung risikonya."


"Tidak, Yeni. Aku yakin dia belum tahu sekarang pelakunya yang mengeluarkan aku dari kamar itu. Jadi kamu tetap harus ke sana, agar dia tidak mencurigaimu. Ya, untuk saat ini tetaplah kerja di sana. Kamu tahukan sifatnya dia? Dia akan berbuat kasar padamu. Kasihan keluargamu, Yeni."


"Baiklah, Mbak. Lalu apa rencana, Mbak?"


"Mungkin aku akan ke Kantor Polisi sekarang, untuk membuat laporan penuntutan terhadap perlakuan kekerasannya padaku. Lalu ke Pengadilan Agama."


"Apa tidak lebih baik kalau, Mbak pergi saja dari daerah ini! Pulang ke tempat orang tuanya, Mbak, gitu!"


"Jalan terbaik melaporkan dan menuntutnya, Yen. Malah akan rumit maupun masalah besar lagi menimpaku kalau aku pergi. Ya, lari tidak akan menyelesaikan masalahku ini. Lagian entah kedua orang tuaku bakal mendukungku."


"Ya, juga sih, Mbak. Kalau masalahnya, Mbak, sudah ditangani pihak berwajib, artinya sudah ada perlindungan buat, mbak. Bukan begitu, Mbak?"


"Sangat benar, Yeni. Dan aku mungkin akan cari tempat lain untuk tinggal sementara waktu."


"Loh, Mbak di sini saja. Aku senang mbak disini, kok. Aku ingin membantu menyelesaikan masalah, mbak. Ya, sebisaku."


"Tidak bisa aku di sini, Yeni. Aku tidak ingin terjadi suatu yang buruk padamu serta keluargamu! Ya, karena aku. Tidak, Yen. Ini masalahku, Yen. Tolong, ya, Yeni. Jangan libatkan dirimu!"

__ADS_1


"Baiklah, aku akan carikan tempat aman


__ADS_2