Ketika Jingga Bertasbih

Ketika Jingga Bertasbih
hapus


__ADS_3

Dua tahun lebih berlalu dengan kehidupan baru yang kulalui. Ya, bisa dikatakan begitu.


Perasaanku, jiwaku, kucurahkan semuanya dalam membina kelangsungan rumah tanggaku. Sulit memang, tapi kuterus berusaha pokus. Berusaha terus menepis pikiran-pikiran yang menuntunku untuk lari atau menghindar dari tekanan yang ada. Bersabar dan bersabar.


Oh, ada apa dengan, dia? Kok, dia makin aneh. Ya, suamiku menurutku sangat aneh kali ini. Aku perhatikan, dia. Telah seminggu ini, dia, bertingkah aneh.


Ya, dia, begitu perhatian padaku. Dia mendadak lembut dan romantis.


Oh, ada apa dengannya? Apakah dia sudah berubah?!


Ya Tuhan, apakah dia dalam seminggu ini adalah wujud dari harapanku selama ini?!


Ya. Semoga saja!


Dan malam ini. kulihat dia tampak bingung. Namun, aku tidak berani bertanya padanya, apa gerangan yang dia pikirkan.


Aku hanya pura-pura tidur sembari sesekali memicingkan mataku memperhatikan, dia, mondar-mondar di samping tempat tidurku.

__ADS_1


"Jingga, kamu bisa bangun sebentar!" ucapnya pelan mencoba membangunkanku.


Setelah dua kali dia bersuara membangunkanku. Aku pun bangun dengan seolah-olah terjaga dari tidur nyenyakku.


"Apa, Bang?" tanyaku


"Ada yang penting ingin aku bicarakan padamu!" ujarnya pelan


"Apa itu?"


"Aku ingin menikah lagi!"


"Ya."


Tak pelak. Aku pun tertegun juga dengan penyampaiannya. Dalam pikirku, apakah ini hal buruk terjadi padaku, karena aku telah berusaha keras untuk mendampinginya sepenuh hatiku. Tapi ternyata apa yang kulakukan padanya itu tidak cukup. Hingga dia akan menduakanku.


Di lain sisi dalam pikirku. Akh, mungkin baik untukku. Ya. Mungkin ini adalah alasan tepat buatku untuk keluar dari kehidupanku sekarang ini. Dan momen yang tepat di tunjukkan oleh,Tuhan, untuk menyudahi ujian-Nya padaku selama ini.

__ADS_1


Begitulah pikiran konyolku saat itu


Akupun menguatkan diriku untuk berbicara padanya. Menyampaikan isi hatiku maupun gejolak perasaanku. Aku rada takut juga, dia akan marah besar dan mungkin akan berlaku kasar kembali padaku. Tapi harus kulakukan dan menerima apapun risiko kudapatkan.


"Bang. Selama ini aku berusaha keras menjadi selayaknya seorang isteri. Dan aku berusaha dengan baik menjadi isterimu. Jika, Abang mau menikah lagi. Silakan..!"


"Jadi kamu setuju?"


"Ya. Tapi ceraikan, aku!"


"Hoo..tidak akan! Kamu tetap akan bersamaku, tetap menjadi Istriku. Camkan, itu....!"


"Hei, bisakah sedikit kamu memakai hati nuranimu sebagai manusia! Perlu kamu ketahui, aku bagai burung yang kau belenggu dengan sadis. Aku tahu kamu bukan seorang suami yang baik. Tapi atas nama, Tuhan, kurela menderita batin, kurela mengorbankan perasaanku, jiwaku, demi tuntutan sebagai seorang istri. Ya, aku berharap suatu saat nanti aku mendapat keindahan dan kebahagiaan batin, darimu. Tapi sekarang kamu malah ingin menikah lagi!?"


"Hentikan, ocehanmu....!" serunya menghardikku dan tampak matanya memerah mempolototiku.


Ya, entah apa yang merasukiku. Kukeluarkan beberapa ungkapan gejolak hatiku padanya tanpa rasa segan maupun takut lagi.

__ADS_1


"Terima kasih, kalau kamu bbnn. bbbb b n b b b b h h b b b h h h h b h b j j h h h h h h h h h j j j jb j j j jb bb j. j bjb h h ** bb jb j. j hb jb n bnbjb j j j b j jn j jb j jn


 


__ADS_2