
Dan bukan hanya itu yang membuatku meradang. Tapi juga dia, adalah harapanku untuk mempertemukan aku dengan, adelio.
Akh, aku harus nulis permohonanku padanya lagi di setiap akuntnya. Agar sekiranya dia bisa serius menanggapiku.
"Hei...!"
"Duh, Nit. Hobi banget ngagetin orang!"
"Yee, Kakak tuh, yang hobi melamun. Padahal biasa saja aku ngagetinnya."
"Kaget beneran, tau!" hardikku dengan merengut.
"Oh iya....!"
"Aaaaduuh, tuh kan...!" hardikku pun lagi padanya seraya mempelototinya."Ngagetin lagi, dech," lanjutku berucap.
"Maaf, maaf...! Aku lupa kalau, Kakak tidak boleh dikagetin."
"Paling juga, entar ngagetin lagi."
"Tidak lagi. Tapi ingetin, ya!"
"Mau jadi pelawak, Bu bos?"
"Maksudnya?"
"Masa aku ingatin kamu, supaya tidak ngagetin aku."
"Oh iyaya..hihihi.."
"Eh, btw tadi kamu bilang, aku tidak boleh dikagetin. Emang kenapa?" tanyaku kemudian setelah terbersit rasa penasaranku pada ucapannya, Qanita, tadi.
__ADS_1
"Ya, ya itu. Kamu selalu kesal."
"O, kirain ada hubungannya dengan sakitku."
"Tidak. Eh, Lagi ngapain, sih?"
"Lagi cek akuntnya nadia, Nit."
"Gimana, udah dapat respon?"
"Belum. Ini nih yang bikin aku melamun tadi. Aku sedih, Nit. Tampaknya nadia tidak lagi peduli denganku."
"Belum sempat dia mungkin."
"Masa sih sampe segitunya tidak sama sekali memberi aku respon. Kan, dia tahu aku nyari dia."
"Sudah pernah aktif di akuntnya?"
"Tidak, sih. Tapi, sesibuk-sibuknya dia. Masa tidak menyempatkan beri kabar, atau beri tahu alamat dia kalau belum bisa temui aku. Biar aku yang nyari alamatnya. Lagi pula dia sudah dapat nomor Whatsapp-ku."
"Makanya, Nit. Aku rasa dia memang sudah tidak menganggapku lagi."
"Sabar ya, Kak. Aku janji akan bantu kamu nyari, adelio!"
"Terima kasih, Nit!"
"Ya. Eh jalan-jalan, yuk!"
"Ke mana?"
"Ke tempat, fadil."
"Wah, boleh."
__ADS_1
Sebelum berangkat ke tempatnya, fadil. Akupun meminta waktu sebentar ke Qanita, untuk mandi dulu. Tadi pagi memang belum sempat mandi. Soalnya setelah salat subuh, aku langsung beraksi di dapur, nyiapin sarapan. Selesai itu, lanjut bersihin rumah. Ya, namanya numpang di rumah orang. Harus rajin dan tidak boleh ngeluh.
"Jangan lama!"
"Beres, Ibu bos!"
Selesai mandi, akupun menemui Qanita yang sedang menungguku di teras.
"Yuuk, berangkat!" ajakku pun setelah berada di samping Qanita.
Tak lama kemudian, sampailah kami di tempatnya, Fadil. Dan tak hanya Fadil bersaudara yang kami temui. Raihan dan Obet pun ada di rumah tersebut.
"Waduh, Obet, sudah siang masih tidur saja," ujarku mendapati Si obet sedang pulasnya tidur.
Dan Raihan yang ada di sampingnya, Siobet, sedang main game di Handphonenya, ikut menimpali". Tau, tuh si obet. Beberapa hari ini, kerjanya tidur mulu."
"Woee, bangun..!" seruku membangunkan Si obet.
"Aduuu, Nona Jingga'e. Napa kas bangun sa kah? Jadi tanggung sudah, padahal sa mo enak, baru!" gerutunya pun Si obet setelah kelopak matanya terbuka lebar.
"Aduu, Obet'e, ko su tra betul ini. Ko mimpi jorok toh, obet?" tanyanya Qanita. Yang ketularan di alek Papuanya Si obet.
"Iya ih, Obet, jorok..." sambungku.
__ADS_1
"E, tra jorok, Kaka. Sa tadi mimpi sa pu kakek deng nene di papua sana. Sa pu kakek tu....ada vvv nnnn mmmm vbb vvvv. nnjj