Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Mas Imin


__ADS_3

Bab. 23


Jam pulang sekolah pun tiba. Seperti biasa, Rinda dan Felisha berjalan menuju parkiran sekolah. Mereka jalan beriringan sembari bergurau. Entah, apa saja yang mereka bahas. Yang penting tidak sedang membicarakan orang lain.


"Eh, lo hari ini mau mampir ke rumah komik nggak?" tanya Felisha ingat jika beberapa hari yang lalu Rinda tidak sempat mampir ke rumah komik karena ada acara keluarga.


"Ini hari apa sih?" bukannya menjawab, Rinda justru balik bertanya.


Felisha yang gemas dengan sahabatnya pun langsung mendorong kepala Rinda ke samping menggunakan jemarinya.


"Lo tuh beneran pinter nggak sih? Mencurigai sekali," ujar Felisha.


"Mencurigakan," ralat Rinda melirik sinis ke arah Felisha.


"Ya lagian lo tuh sekarang makai seragam apa? Terus itu artinya apa. Ya kali, baru pagi tadi kan cerdasnya. Masa sekarang udah pikun lagi," ledek Felisha.


"Nggak apa pikun, yang penting tetep cantik," sahut Rinda sembari memainkan alisnya.


Felisha menggelengkan kepalanya. Pusing sendiri lama-lama jika menganggap Rinda terlalu serius.

__ADS_1


"Hari rabu. Mau apa emangnya? Ada acara lagi?" tanya Felisha sedikit penasaran.


Rinda menggeleng. "Nggak ada sih. Cuma pingin ngetes lo doang. Pikun juga apa nggak."


Sumpah demi apapun, emang ini anak begitu rese banget.


"Untung ... sohib. Coba kalau bukan, udah kupenyet penyet lo, Rind!" kesal Felisha sembari menahan geramnya.


Sedangkan Rinda justru tertawa melihat Felisha yang kesal padanya.


"Emangnya lo mau ke sana?" tanya Rinda. Kali ini mereka sampai di tempat parkir.


"Iya kayaknya. Sekalian mau beli kasetnya ayang," sahut Felisha yang mendapat cebikan dari Rinda.


"Nggak apa kali. Sekarang beli kasetnya dulu. Nanti kalau dia tour ke Jakarta, bakalan gue temuin dan gue ajak bikin anak sekalian. Jadi biar dia nggak bisa pulang," balas Felisha seraya memainkan alisnya.


Rinda bersiap memakai helmnya. Lalu mencari kunci yang ia simpan di dalam saku rok seragamnya.


"Bukannya gitu sih, Fel. Takutnya gue tuh lo kecewa nanti kalau ketemu sama dia," ujar Rinda sambil menegakkan motor maticnya.

__ADS_1


"Lah, kecewa kenapa? Jelas seneng banget dong gue. Orang udah gue belain ngejomblo selama delapan belas tahun ini, Rinda. Ya kali gue bakalan kecewa sama dia. Kagak lah!" sahut Felisha yang begitu percaya diri.


"Masalahnya, dia mau kagak sama lo yang modelan lemper begini?" ejek Rinda seraya menatap penampilan Felisha dari bawah ke atas. Membuat sahabatnya itu langsung mengumpat kesal ke arahnya.


"Cialan, lo!" umpat Felisha seraya memukul lengan Rinda.


Sementara Rinda tertawa terbahak melihat wajah Felisha yang merah menahan amarahnya.


"Gue sebagai temen yang baik, cantik, tidak sombong, tidak suka menabung, dan paling pengertian sama lo, gue cuma mau bilang jujur aja, Fel. Takut kalau lo nanti kecewa terus bunuh diri di pohon pepaya. Nanggung, kan? Mending di bawah pohon singkong aja!"


Tawa Rinda semakin pecah di saat menyelesaikan ucapannya. Membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian seketika. Terutama Rinda yang terlihat manis saat tertawa seperti itu.


"Udah, ah! Beneran gue blacklist lo dari daftar sahabat gue!" ancam Felisha.


"Nggak masalah. Palingan cuma bertahan sepuluh menit doang." tantang Rinda sembari memainkan alisnya.


"Ini mulut bener-bener pingin gue jahit!" geram Felisha yang mendapat kekehan dari Rinda.


"Udah deh, gua mau mampir dulu ke rumah komik. Kalau lo mau, susulin aja." Rinda mulai menyalakan mesin motornya.

__ADS_1


"Kenapa nggak bareng sama gue aja sih. Biar nggak ribet. Mumpung gue bawa mobil," tawar Felisha yang mendapat lirikan sinis dari Rinda.


"Terus kesayangan gue ini mau dikemanain? Ditinggal?"


__ADS_2