Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Membentak


__ADS_3

Bab. 68


Sementara itu Rinda berjalan cepat sambil menyeret kopernya yang tidak terlalu besar menuju mobil yang sudah disuruh menjemput dirinya. Tentu saja, semua itu mertuanya yang mengatur. Karena sebelum ke sini, Rinda mengatakan kalau ingin memberi kejutan kepada Ghani.


Tepat pada pukul satu siang waktu setempat, Rinda meninggalkan Schiphol Airport dengan sopir suruhan mertuanya.


"Langsung ke kantornya saja ya, Pak," ucap Rinda dalam bahasa belanda.


Tentu, gadis itu sudah menyiapkan diri untuk membekali dirinya sedikit-sedikit mengenai bahasa yang ada di sana. Walaupun sebenarnya sopir tersebut juga bisa bahasa Inggris dan sedikit bahasa Indonesia.


"Baik, Nona," jawab sang sopir yang kemudian mengemudikan mobilnya menuju kantor yang disebutkan tadi.


Tidak membutuhkan waktu lama, karena kebetulan jarak antara perusahaan cabang ke bandara tidak terlalu jauh. Hanya perlu tiga puluh menit saja mereka sudah sampai.


Sesampainya di depan bangunan yang menjulang tinggi. Mungkin, bisa dikatakan lebih tinggi dari bangunan perusahaan yang ada di Jakarta.


"Ini benar kantornya di sini, Pak?" tanya Rinda sedikit ragu.


Karena semenjak menikah dengan Ghani, ia hanya datang ke perusahan tiga kali kalau nggak salah. Rinda tahu keluarga suaminya itu kaya. Namun, ia tidak menyangka jika mereka sekaya ini.


"Benar, Nona. Ini perusahaan cabang keluarga Bagaskara," jawab sopir itu dengan penuh yakin.


"Baru sadar gue kalau suami gue kaya," gumam Rinda sembari mengagumi bangunan yang ada di depannya saat ini.

__ADS_1


***


Jam makan siang pun tiba. Ghani yang baru menyelesaikan presentasenya di kampus, serta lanjut rapat di kantor, pun segera menuju ke ruang kerjanya.


Pria itu mendudukkan tubuhnya di kursi, lalu menyandarkan tubuhnya di sana. Hari ini sangat melelahkan bagi pikiran dan raga nya.


Betapa tidak, ia harus menyelesaikan pertemuan yang cukup menguras otak tersebut dalam kurun waktu empat jam di dua tempat yang berbeda. Tentu, topik yang dibicarakan pun juga berbeda.


"Mau makan sekarang?" tanya Leo pada bosnya.


Ghani membuka mata, menatap ke arah asistennya.


"Boleh. Nanti kita jam dua juga ada pertemuan, kan?" tanya Ghani memastikan ulang jadwalnya hari ini.


Belum selesai mengatakan sesuatu kepada Ghani, Leo merasakan getaran dari saku kemejanya. Di mana terdapat ponselnya di sana.


"Ya, hallo?" sapa Leo pada nomor yang tidak dikenal.


"Hallo, Om Leo, ya?" tanya seseorang dari seberang sana.


Dahi Leo tampak mengernyit, mendengar pertanyaan dari seorang perempuan di seberang sana yang memanggil dirinya dengan sebutan om.


"Ini siapa?" tanya Leo dengan suara dingin. Membuat Ghani juga menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Saya Rinda, Om. Istrinya Mas Ghani. Saya dap—"


"What! Siapa siapa?" tanya Leo lagi dengan nada terkejut. Semakin membuat Ghani menatapnya aneh.


"Om! Jangan teriak-teriak dan jangan sebutin namaku!" bentak Rinda dari seberang sana. "Awas saja kalau rencana saya gagal. Saya aduin ke papa mertua saya biar Om dipecat!" ancam Rinda sedikit ngegas.


Menyadari tatapan Ghani yang curiga ke arahnya, membuat Leo menurunkan rasa keterkejutannya. Berusaha semaksimal mungkin untuk tenang.


'Busyet! Udah manggilnya om, sekarang malah diancam, pula. Padahal belum pernah ketemu.' gerutu Leo di dalam hati.


"Om ... Om! Masih di sana, kan?" tanya Rinda dari seberang sana dengan suara yabg cempreng.


"Ya," sahut Leo singkat.


"Ya sudah, Om bisa jemput aku di lobby, nggak? Tapi jangan bilang sama Mas Ghani. Awas aja kalau di bocorin." ingat Rinda lagi.


"Hah? Di mana?" lagi dan lagi Leo tampak terkejut.


"Di lobby, Om. Aku udah ada di bawah ini. Nggak tau musti lewat mana ke ruangan Mas Ghani. Cepetan! Aku sendiri di sini! Kek anak hilang aja. Oh, ya, aku make baju terusan biru, jaket jeans biru, sama bawa koper. Oh, ya. Sama satu lagi, aku yang paling imut di antara orang yang ada di sini. Rambutku sebahu," Ucap Rinda memberitahukan ciri-cirinya.


"Ya, iya. Baik."


Setelah itu sambungan telepon di antara mereka putus.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Ghani dengan alis terangkat. Memicingkan matanya ke arah Leo.


__ADS_2