
Bab. 49
Rinda dan Felisha sedikit terkejut di saat melihat sosok wakil ketua osis di sana.
"Ada apa ya, Kak?" tanya Rinda menatap ke arah cowok yang saat ini tengah tersenyum lembut ke arahnya. "Emang Rinda ada masalah sama anak osis ya?" tanya Rinda lagi dengan nada begitu sopan dan lembut. Bahkan tidak ada sedikit pun nada kerja yang biasa gadis itu lontarkan.
Cowok yang berdiri di samping meja mereka pun tersenyum ke arah Rinda.
"Ada hal yang mau aku bahas sama kamu. Bisa?" tanya cowok yang tidak lain ialah Nathan.
"Bawa aja udah, Kak. Baa," sahut Felisha yang seolah menjadi kompor di sini.
Rinda langsung memukul lengan sahabatnya tersebut. Mencelikkan matanya dan memberi isyarat agar gadis itu diam. Lalu Rinda menatap ke arah Nathan lagi.
"Memangnya Kak Nathan mau bahas apa? Kan di sini juga bisa," ucap Rinda.
Bukan karena apa dirinya tidak mau beranjak dari sana. Akan tetapi Rinda sangat malas sekali kalau sampai dirinya digosipkan dengan wakil ketua osis tersebut. Akan sangat bahaya, bukan bukan, maksudnya ia tidak mau berurusan dengan fans pangeran kedua yang ada di sekolah ini.
__ADS_1
Nathan menggaruk belakang kepalanya dengan raut muka yang entah tidak bisa dipahami oleh Rinda.
Felisha seolah menangkap sesuatu yang berbeda. Lalu gadis itu menawarkan dirinya saja yang pergi dari sana.
"Gimana kalau gue aja yang pergi? Sepertinya Kak Nathan kurang nyaman kalau ada yang denger," usul Felisha.
"No! Lo tetep di situ!" tolak Rinda seraya menahan.tangan Felisha agar temannya itu tidak beranjak dari sana.
Sementara Nathan tampak bingung. Di tambah lagi kini dua orang gadis tengah menatap ke arahnya.
"Emangnya mau nanya apa sih, Kak? Kok mencurigakan banget," tanya Rinda lagi. Tidak sabaran dengan sikap Nathan yang kurang sat set menurutnya.
Rinda sangat malas sekali sebenarnya meladeni orang yabg bertele seperti Nathan. Akan tetapi atas nama sopan santun dan keramahtamahan dirinya, Rinda rela menahan itu semua.
"Ya sudah, duduk aja di sebelahnya Felisha, Kak. Nggak ada yang marah, kok. Orang dia kagak laku," ucap Rinda sambil mempersilahkan Nathan untuk bergabung dengan mereka, namun di sisi lain juga tengah menjungkirkan Felisha.
"Sialaan lo!" sahut Felisha seraya mendorong kening Rinda dan dibalas dengan kekehan dari gadis itu.
__ADS_1
Sedangkan Nathan yang masih berdiri di tempatnya, tampak pria itu menatap ke arah bangku kosong yang ada di samping Rinda.
"Boleh duduk di situ, nggak?" tanya Nathan sambil menunjuk bangku yang ada di sebelah Rinda.
Rinda mengikuti arah yang ditunjuk oleh Nathan, sementara Felisha berusaha menahan tawanya.
"Oh, di sini?" ulang Rinda yang juga menunjuk bangku di sampingnya dan mendapati anggukan malu-malu dari Nathan.
"Di sini tempat gue!" sahut seseorang yang main duduk saja di sana tanpa permisi terlebih dulu. "Lo di sana aja."
Tentu saja, Rinda, Nathan, dan juga Felisha dibuat kaget dengan kedatangan sosok yang tidak di undang sama sekali.
"Asataga ... kenapa Kak Ghani kayak jelangkung, sih?" refleks Rinda yang langsung memukul lengan Ghani.
Lagi dan lagi Felisha memberi isyarat untuk Rinda agar melihatnya dengan jelas lagi siapa yang dia pukul.
'Gawat! Ketos sama wakilnya bersatu. Yang ada kita disuruh lari puterin lapangan habis ini kalau sampai salah satu di antara mereka nggak ada yang dipilih Rinda.' batin Felisha. Menyesal kenapa dirinya juga ada di sini di saat yang tidak tepat sama sekali.
__ADS_1
Ayaaangg ... bolehlah kasih rate bintang lima. Biar Yuta semangat nulisnya. Apa lagi kemungkinan akhir bulan ini nopel tamat. Paling lambat ya awal bulan lah.