Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Tanggung Jawab!


__ADS_3

Bab. 45


Rinda terbangun di saat merasakan cacing di perutnya pada memberontak meminta untuk diberi makan. Karena memang sedari sepulang sekolah, ia belum makan sama sekali dan malah ketiduran.


Membuka matanya dengan sempurna, ia melihat sudah berada di dalam kamar suaminya. Menoleh ke samping, rupanya siang sudah berganti malam. Membuat Rinda ingin segera bangkit. Tidak enak dengan mertuanya jika dirinya tidak keluar-keluar dari kamar.


Namun, ada yang aneh Rinda rasakan. Di bagian perutnya terasa seperti ditindih oleh sesuatu yang berat. Juga bahunya terasa seperti terbuka.


Kemudian Rinda mengingat lagi. Terakhir dirinya berada di dalam kamar mandi dan sedang berendam. Tetapi kenapa tiba-tiba dirinya sekarang berada di sini?


Memberanikan diri dari segala prasangka yang sekarang bersarang di kepalanya, Rinda menoleh ke samping kirinya. Daaann ....


"Huuuaaaaaa ....! Mesuuuummmm ....!"


Teriak Rinda dengan suara yang begitu lantang di kala mendapati Ghani berada di sampingnya dengan posisi yang sangat dekat. Bahkan tangannya berada di atas perutnya dan wajahnya begitu dekat.

__ADS_1


Refleks, Rinda mendorong dada Ghani bersamaan dengan dirinya berteriak tadi. Membuat pria itu mundur dan berjarak dengan dirinya. Cepat-cepat ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang Rinda baru tahu hanya mengenakan handuk sebatas dada. Sedangkan tidak memakai ********** lagi.


Gadis itu melotot ke arah Ghani. Menatap penuh kesal pada pria itu.


"Apa yang Kak Ghani lakukan!" tanya Rinda dengan suara lantang. Melotot tajam ke arah pria yang tengah mengucek matanya.


Namun, bukan itu yang menjadi masalah utamanya. Tetapi, pria yang tidak memakai baju alias bertelanjang dada itu kini menatap ke arahnya dengan tatapan menyipit. Mungkin, karena silau lampu di kamar yang mereka tempati terlihat sangat terang memang.


"Kenapa sih? Teriak-teriak gitu. Kayak tinggal di hutan aja," ujar pria itu terdengar begitu menyebalkan di telinga Rinda.


Rinda semakin dibuat melotot di saat reaksi Ghani terlihat begitu santai dan seolah apa yang mereka alami itu hal yang wajar dan biasa-biasa saja. Tidak ada perubahan di raut wajahnya.


Sedangkan Ghani menatap Rinda dengan alis terangkat sebelah, pun begitu dengan bibirnya hingga membentuk senyuman miring.


"Kita udah nikah. Jadi, wajar aja. Nggak usah dilebihkan," ucap pria itu begitu santai. Membuat Rinda semakin gemas dan geram secara bersamaan.

__ADS_1


Tidak tahan menahan rasa kesalnya yang sudah menumpuk, akhirnya Rinda lepas kendali juga.


"Muluuuuutt ....!" pekik gadis itu sembari mengulurkan tangannya ke depan dan meremas mulut Ghani dengan sangat kuat dan sedikit di pelintir. "Kalau ngomong itu dijaga! Kita cuma nikah sesuai perjanjian. Tapi kenapa lo anu anuin gue, KETOS SIALAAAANN!" teriak Rinda sangking kesalnya.


Melayangkan pukulan demi pukulan ke arah Ghani yang masih terbaring di tempatnya. Dan pria itu melindungi dirinya dengan bantal yang ia taruh di atas kepalanya. Tidak apa-apa jika tubuhnya memar akibat pukulan dari istrinya sendiri. Asal asetnya yang paling utama tidak boleh lecet sedikit pun. Bahkan ketika Rinda menjambak dirinya pun, Ghani terima.


"Pokoknya lo harus tanggung jawab!" pekik Rinda lagi. Tangannya terasa kebas karena memukuli badan yang bahkan dua kali lipat dirinya ukurannya.


"Udah ... gue udah tanggung jawab. Kan udah dinikahin," jawab Ghani yang masih melindungi kepalanya.


Rinda semakin geram. "Bukan itu! Tapi ganti rugi!"


"Iya, nanti gue belikan es jasjus deh," sahut Ghani yang mulai memutar tubuhnya hingga kini posisinya terlentang. Menghadap ke arah Rinda yang terus memukuli dirinya.


"Ogah!" tolak Rinda. Enak aja cuma dikasih jasjus. Batinnya. "Lagian kenapa lo giniin gue sih, Kak! Lo kan udah punya pacar. Sama pacar lo sana! Ih, dasar cowok nyebelin!" lanjut Rinda yang kini berganti mencubiti perut Ghani.

__ADS_1


"Cieee ... cemburu ..." goda Ghani yang kemudian menangkap tangan Rinda.


"Enggak!" Rinda menepis tangan Ghani, namun tertangkap kembali. Hingga kini tatapan mata mereka saling beradu dalam diam.


__ADS_2