Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Makai Tidak?


__ADS_3

Bab. 59


Ghani membawakan sebuah nampan yang berisi makanan dan juga teh hangat untuk Rinda.


Pria itu melangkah masuk ke dalam kamarnya, sengaja tadi tidak menutup rapat pintunya. Sehingga Ghani tidak kesusahan saat membukanya.


"Yaang," panggil Ghani ketika tidak mendapati istrinya di atas ranjang.


Kemudian pria itu menaruh nampan berisi makanan tersebut ke atas nakas. Lalu berjalan menuju ke kamar mandi di kala indera pendengaran nya menangkap sebuah suara rintihan dari dalam kamar mandi.


Cepat-cepat Ghani masuk ke dalam dan betapa terkejutnya dia ketika melihat cara jalan Rinda yang terseok. Seperti tengah menahan sakit.


"Kamu kenapa, Yaang?" tanya Ghani dengan nada panik. Pria itu benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pad istrinya.


Rinda tesentak kaget di saat mendapati suaminya yang sudah berada di sana.


"Loh, Kak Ghani belum berangkat?" tanya Rinda mengabaikan pertanyaan suaminya.

__ADS_1


Namun, langkah kaki nya tidak bisa membohongi suaminya mengenai bagaimana kondisi dirinya sekarang ini.


Ghani tidak tega melihat Rinda berjalan seperti itu. Bahkan sampai mengernyitkan kening dan juga menggigit bibir bawahnya demi menahan rasa sakit akibat ulahnya.


Dengan cepat Ghani mengangkat tubuh istrinya. Lalu berjalan keluar kamar mandi dan menuju ke ranjang.


"Sesakit itu ya?" tanya Ghani sembari mendudukkan Rinda dengan teramat pelan di pinggiran ranjang.


Rinda yang malu di tatap seperti itu, di tambah lagi keadaan dirinya yang hanya melilitkan handuk di dada serta setengah dari pahanya terekspos begitu jelas. Wanita itu memberi anggukan samar sebagai jawaban dari pertanyaan Ghani barusan.


Wajah Ghani berubah sendu seketika. Menyesal, mungkin itu yang terlintas sekarang di benak pria berusia sembilan belas tahun tersebut.


Rinda langsung melotot laku memukul lengan Ghani.


"Jangan bercanda deh, Kak. Sekarang tuh Kak Ghani kan ada ujian. Jangan ngadi-ngadi deh!" semprot Rinda yang tidak setuju dengan ucapan Ghani barusan.


"Ya aku kan nggak tega liat kamu kayak gini, Yaang. Maaf, karena aku nggak tau kalau efeknya separah ini," ucap Ghani menatap sendu istrinya.

__ADS_1


Rinda menggeleng. "Nggak apa, Kak. Nanti juga sembuh dengan sendirinya. Lagi pula, ini udah setara dengan kesabaran Kak Ghani selama enam bulan terakhir, kan?" balas Rinda.


Ghani terdiam kemudian mengangguk. "Iya sih. Meskipun masih kurang banget," ujar Ghani yang kembali menatap genit ke arah Rinda. Membuat wanita itu tersipu malu.


"Nggak! Masih sakit banget. Tahun depan aja kalau mau lagi," tolak Rinda mentah-mentah.


"Loh, Yaang ... kelamaan buanget itu, Yaang! Nggak mau. Pokoknya selesai ujian. Minta lagi. Kegiatan enak banget kok mau di skip lama. Nggak. Nggak bakal tahan aku," keluh Ghani.


Kemudian pria itu mengambilkan baju santai untuk Rinda dan kembali mendekat ke arah Rinda.


Sementara itu Rinda seperti ingat sesuatu setelah mengedarkan pandangannya ke arah sekitaran ranjang. Masih berantakan. Bahkan baju nya yang semalam pun masih tergeletak di atas lantai. Belum sempat memungutnya.


"Cari apa, Yaang?" tanya Ghani sembari menyerahkan baju beserta dalamaan kepada Rinda.


Rinda menggeleng. "Enggak, Kak. Itu ..." Rinda malu sekali mau menanyakan. Tetapi kalau tidak ditanyakan, ia akan kepikiran.


"Apa, Yaang? Jangan suruh aku nunggu lama-lama, loh! Ini udah hampir setengah tujuh," ingat Ghani. Karena jam tujuh kurang sepuluh menit Ghani harus sudah berangkat ke sekolah.

__ADS_1


"Emm ... anu, Kak. Mengenai semalam ... Kak Ghani makai pengaman nggak? Pas mau keluar itu?" tanya Rinda. Ada rasa takut yang menyelinap.


Karena seingat Rinda, waktu awal-awal Ghani menyentuh dirinya tidak menggunakan pengaman. Baru tadi pagi Ghani menggunakannya. Itu pun karena Rinda mengingatkan walau melalui perdebatan singkat.


__ADS_2