Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Cafe Nata


__ADS_3

Bab. 64


Cafe Nata.


Ghani menggandeng mesra Rinda memasuki cafe yang ia rintis sedari kelas 3 SMP. Benar-benar dari bawah dan tanpa nama belakang keluarganya. Oleh sebab itu Ghani memilih nama tengahnya sebagai nama cafe nya tersebut.


Beberapa karyawan yang melihat kedatangan Ghani dan Rinda, membungkuk hormat. Ghani hanya meliriknya saja. Sementara Rinda membalasnya dengan senyuman ramah serta mengangguk. Sebagai balasan mereka yang juga menghormati dirinya.


Rinda menghela napas ketika melihat sikap suaminya yang begitu dingin dan datar. Bahkan tidak membalas sapaan mereka. Ingin sekali ia mencubit lengan Ghani, namun takut menurunkan image suaminya yang memang dari sana nya sudah disetel seperti itu. Walau terkadang Rinda merasa tidak enak hati pada manager cafe yang juga dicueki oleh Ghani. Benar-benar tidak pandang bulu. Padahal usianya mungkin terpaut lima belas tahun dari mereka.


Sesampainya di ruangan kerja Ghani, pria itu meletakkan tas Rinda dan juga ponselnya di atas meja. Untuk kemudian melepas jas yang dia pakai. Tidak lupa pula membuka kancing paling atas kemejanya, juga yang ada di pergelangan lengan. Baru ia gulung ke atas secara asal. Membuat Rinda menghela napas melihat sikap suaminya.


"Yaang, sini deh!" Ghani menepuk pahanya sendiri. Menyuruh Rinda untuk duduk di pangkuannya. Seperti yang biasa mereka lakukan jika sedang berdua seperti ini.


Rinda menurut saja. Mendudukkan tubuhnya di sana dengan posisi miring.


"Mau bicara apa sih, Mas? Kayaknya penting banget. Sampai ke sini segala macam," tanya Rinda kembali memanggil Ghani dengan sebutan sayangnya pada pria itu.

__ADS_1


Ghani tidak menjawab. Pria itu justru membenamkan wajahnya di leher Rinda. Membuat Rinda merasa geli sekaligus risih.


"Hamil sekarang aja ya, Yaang?" pinta Ghani lagi. Semakin membuat Rinda curiga.


"Kamu ada masalah apa sih, Mas? Kok aneh banget perasaan," sahut Rinda sembari mendorong suaminya agar bisa melihat wajah Ghani.


Ghani menarik napas panjang. Cepat atau lambat memang harus segara dikatakan kepada Rinda.


"Aku keterima, Yaang," ucapnya dengan wajah lesu.


Sementara Rinda masih bingung di tempatnya.


"Kuliah di Amsterdam," jawab Ghani dengan suara lirih. Bahkan pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Rinda.


"Loh, bagus dong!" sahut Rinda yang tampak bahagia.


Ghani menatap Rinda tak percaya. "Gitu doang, Yaang?"

__ADS_1


Rinda mengangguk santai. "Memangnya aku musti gimana, Mas? Nangis? Kan ya nggak mungkin. Orang itu untuk bekal kamu kam nantinya kalau udah resmi mimpin perusahaan kamu?"


Pertanyaan Rinda membuat Ghani bertambah kesal. Pria yang sedang dilanda delima tersebut melingkarkan tangannya di perut sang istri dan memeluknya dengan sangat erat.


"Kamu kok seneng banget sih, Yaang ... jauh-jauh sama aku? Aku nggak tahan ....!" rengek Ghani. Berbeda sekali dengan sikapnya beberapa menit yabg lalu ketika berada di depan karyawannya.


Rinda tersenyum. Mengerti betul maksud suaminya. Rinda mengusap lengan suaminya yang melingkar di perutnya.


"Cuma satu tahun loh, Mas. Itu sebentar banget. Nanti kalau aku udah lulus, aku bakalan susulin kamu deh ke sana," ujar Rinda berusaha untuk membujuk suaminya.


Ghani menatap sang istri dengan tatapan penuh makna. Jika dirinya seorang perempuan, mungkin sudah meraung menangis tidak mau pisah.


Namun, apa yang dikatakan oleh Rinda juga ada benarnya. Meskipun pengalaman dan teori yang diberikan papanya kepada dirinya, tentu masih belum cukup untuk Ghani menempati posisi papanya nanti. Jelas akan ada perdebatan di antara para dewan direksi.


"Jadi kamu beneran nggak apa aku tinggal, Yaang?" tanya Ghani menatap serius istrinya. Ingin memastikan, agar dirinya tidak berat meninggalkan gadis yang memberi warna dalam hidupnya selama enam bulan terakhir ini.


Rinda menghadapkan tubuhnya ke arah Ghani. Gadis itu semakin mengeratkan tangannya ke leher sang suami.

__ADS_1


"Beneran, Mas. Aku bakalan tunggu kamu pulang, atau kalau nggak, aku yang akan susulin kamu ke sana. Tapi nggak buat kuliah. Cuma jengukin kamu doang," ucap Rinda sembari meringis.


__ADS_2