Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Peringatan Mama Ayumna


__ADS_3

Bab. 43


Sesampainya du rumah, Rinda langsung mandi terlebih dulu di kamarnya Ghani. Karena tadi meskipun sudah mengebut, tetap saja mas Hujan lebih dulu menyapa mereka. Mana main keroyokan, pula. Sementara Ghani memilih mandi di kamar lain. Agar lebih cepat dan tidak kedinginan.


Di dalam kamar mandi, Rinda tidak serta merta terburu. Gadis itu justru menikmati air hangat yang ada di bath up. Menenggelamkan badannya hingga batas leher. Juga tangannya yang memainkan busa-busa sabun yang ada di permukaan air. Sehingga tubuhnya benar-benar tidak terlihat.


"Andai aja di rumah ibu ada air hangatnya, pasti gue nggak bakalan keluar dari kamar mandi," celetuk Rinda sambil terkikik.


Lucu sendiri ketika membayangkan dirinya lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar mandi, daripada di luar ruangan. Atau paling tidak memilih ruangan lain.


Habis kedinginan dan lelah karena tiba-tiba saja ada kerja bakti di sekolah, tanpa sadar gadis itu pun ketiduran dengan posisi kepala yang bertumpu pada lengannya di pinggiran bath up. Tidak mendengar suara teriakan dari luar kamar mandi.

__ADS_1


Sementara itu, di sisi yang berbeda, tampak Ghani dengan memakai handuk yang melilit di pinggang dan tengah mengusap rambutnya yang basah itu dengan handuk lebih kecil lagi, sedang berjalan menuju ke kamarnya.


"Loh, kamu habis mandi di mana, Gha?" tanya mama Ayumna ketika tanpa sengaja berpapasan dengan Ghani.


Ghani menoleh ke belakang. Tampak mamanya membawa bunga anggrek di tangan wanita itu.


"Mandi di kamar tamu, Ma. Kenapa, Ma?" tanya Ghani begitu santai meskipun hanya berpenampilan seperti itu di depan wanita yang sudah melahirkan dirinya sembilan belas tahun yang lalu.


"Sedang dipakai Rinda," jawab Ghani santai.


"Ck ck ck! Kalian itu udah suami istri. Sah sah saja dong mandi bersama," celetuk mama Ayumna. Membuat Ghani mengangkat satu alisnya.

__ADS_1


"Nggak, Ma. Nanti kalau Ghani kebablasan gimana? Kami masih sekolah," balas Ghani dengan muka yang ditekuk.


Lagi pula, siapa juga yang menolak mandi bersama Rinda? Justru Ghani juga pingin. Tetapi masalahnya gadis itu akan keluar tanduknya jika ia benar-benar melakukan hal tersebut. Dan juga apa yang ia katakan ada benarnya. Kalau sampai dirinya tidak bisa menahan rasa penasaran di tambah rasa yang lain, bisa-bisa Rinda putus sekolah.


"Iya juga, ya. Ya udah, kalau emang kamu sampai nggak bisa nahan, dikeluarinnya di luar aja, Gha. Walaupun cara itu tidak terlalu efektif, tetapi terkadang manjur juga. Atau kalau enggak, kamu yang makai pengaman. Untuk Rinda, jangan makai apa-apa. Terutama alat kontrasepsi. Mama nggak ijininnx tegas mama Ayumna.


Entah kenapa Ghani sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dibahas oleh mamanya. Karena di dalam pelajaran yang ia terima di sekolah, tidak diterangkan pembahasan ini.


"Mama ngomongin apa? Bikin dedek?" tanya Ghani lebih jelasnya. Membuat mama Ayumna memukul keningnya.


"Astaga ... Mama lupa. Nanti malam deh kalau Rinda udah tidur, kamu ngobrolnya sama Papa. Biar enak sharing nya. Pokoknya sekarang jangan disentuh dulu. Ditahan sampai kamu benar-benar paham," ucap mama Ayumnya.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu lupa, jika usia Ghani masihlah sangat muda dan tentu saja belum mengerti mengenai hal-hal yang lebih dalam dan detail. Walaupun sudah mengerti cara bikin dedek nya, tetapi dia tidak akan mengerti cara mengahalau agar tidak sampai jadi janin.


__ADS_2