
Bab. 73
"Yaang ... bangun dulu. Kita makan malam dulu. Baru nanti lanjut lagi," ucap Ghani sembari memberi kecupan di wajah Rinda yang tampak lelah.
Bahkan gadis, eh, bukan. Wanita itu masih mengenakan baju kimononya. Belum sempat berganti pakaian atau beranjak dari terakhir kali Ghani mengangkat tubuh Rinda dan merebahkan Rinda di sofa.
Di ruangan kerjanya yang ada di kota ini, tidak sama seperti ruangan kerja Ghani yang berada di Jakarta. Jika di sana memiliki ruang istirahat yang terdapat tempat tidur dan fasilitas lainnya, di sini tidak.
Memang ada tempat istirahat milik Ghani di perusahaan cabang ini. Namun, letaknya berbeda lantai. Yakni di lantai bawah dan yang sempat Rinda pakai untuk membersihkan tubuh terlebih dulu tadi.
"Sayang ...." Ghani terus memberi kecupan dan mengusik tidur sang istri yang tampak masih ngantuk banget.
"Apaan sih, Mas. Aku masih ngantuk, lemes," adu Rinda mencoba mendorong wajah Ghani dengan kondisi mata yang masih terpejam.
Ghani terkekeh melihat Rinda yang seperti ini. Sudah lama sekali ia tidak melihat muka bantal istrinya yang tampak jauh lebih cantik di mata Ghani. Apa lagi jika wanita itu terlihat kelelahan karena ulah nya.
"Ya makanya, bangun terus makan dulu, Yaang. Baru nanti dilanjut lagi tidurnya," ucap Ghani.
__ADS_1
Rinda yang merasa terganggu dengan sikap suaminya, perlahan wanita itu membuka mata. Mengerjap pelan hingga terbuka dengan sangat sempurna.
Dilihatnya pertama kali ialah wajah suaminya yang sudah segar. Bahkan pria itu kini mengenakan kaos. Bukan lagi kemeja yang sebelumnya Ghani kenalan.
"Masih capek? Hmm?" tanya Ghani lembut namun berusaha menahan senyumannya.
Melihat ekspresi Ghani yang seperti itu, membuat Rinda bertambah kesal saja. Wanita itu langsung memberi cubitan di pinggang suaminya.
"Ini semua tuh gara-gara kamu, Mas! Kenapa juga mainnya luama buanget!" semprot Rinda. Ingin memberi cubitan lebih, namun apa daya tubuhnya benar-benar lemas saat ini.
Menempuh perjalanan jauh, lalu langsung dilahap begitu saja oleh suaminya, di tambah lagi perut yang belum terisi makanan sama sekali semenjak menginjakkan kakinya di kota ini. Tentu, hal itu sangat wajar Rinda rasakan.
"Ya sudah, aku suapi ya, Yaang?" tawar Ghani. Namun pria itu sudah lebih dulu mengarahkan sendok yang berisi penuh dengan makanan ke arah Rinda.
Dengan senang hati Rinda membuka mulutnya lalu mengunyah makanan yang masuk ke dalam. Ghani tampak begitu telaten menyuapi istrinya. Karena keadaan Rinda yang seperti ini juga karena ulah nya.
***
__ADS_1
"Jadi kamu tinggal di sini, Mas?" tanya Rinda setelah memasuki rumah yang selama ini Ghani tempati. Pandangannya mengedar ke segala arah. Melihat bagaimana tempat tinggal suaminya selama jauh dengannya.
Ghani menaruh koper Rinda di dekat sofa, lalu pria itu mendudukkan tubuhnya di sana.
"Iya, Yaang. Suka nggak?" tanya Ghani. "Warna yang kupilih semua kesukaan kamu loh. Nggak ada lagi warna hitam atau silver," ucap Ghani kemudian.
Rinda mengangguk sembari tersenyum manis. Kemudian wanita itu menghampiri suaminya dan memilih duduk di pangkuannya.
"Sesayang itu ya kamu sama aku? Hmm?" goda Rinda sembari mengecup singkat bibir suaminya.
"Buanget!" jawab Ghani memeluk erat tubuh istrinya. "Kamu kuliah di sini saja ya, Yaang? Biar kita bisa sama-sama terus. Atau ...." dengan sengaja Ghani menggantung kalimatnya. Membuat Rinda memicingkan mata.
"Atau apa, Mas? Jangan buat aku penasaran kayak gini!" desak Rinda tak sabaran.
Ghani terkekeh melihat Rinda yang seperti ini. Sampai-sampai pria itu mengecup lalu menggigit pipi Rinda karena gemas.
"Aww! Sakit, Mas!" pekik Rinda sembari mengusap pipinya.
__ADS_1
"Atau kamu jadi ibu saja, Yaang. Bikin baby yang lucu-lucu kayak kamu. Serta yang banyak juga, ya. Pasti seru. Mau ya? Ya?" bujuk Ghani.