Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Ketahuan Mama


__ADS_3

Bab. 58


"Loh, Rinda di mana, Gha? Kok nggak ikut turun?" tanya mama Ayumna ketika Ghani hanya turun sendiri. Sedangkan menantunya tidak ikut bersama Ghani.


Ghani berjalan begitu santai. Mengecup kening mamanya lalu langsung menuju ke arah ruang makan. Perutnya terasa sangat lapar. Tenaganya terkuras habis rasanya. Namun, entah mengapa semangatnya sungguh terasa berlebih.


"Masih di kamar, Ma," jawab Ghani yang sudah menarik kursi dan bersiap duduk.


Mama Ayumna menatap heran kepada putra semata wayang nya. Kenapa anak itu kok terlihat berbeda. Batin mama Ayumna.


"Terus kenapa nggak diajakin turun sekalian, Gha?" wanita paruh baya tersebut sepertinya masih sangat penasaran dengan kondisi menantunya.


"Nanti Ghani bawain Rinda makanan, Ma. Ghani makan dulu. Laper banget soalnya. Capek juga," ujar Ghani sambil memasukkan sesuap nasi beserta lauknya ke dalam mulut.


Mama Ayumna semakin memicing curiga ke arah Ghani.


"Capek?" ulang mama Ayumna. "Memangnya kamu habis ngapain, Gha?" tanyanya lagi. Lalu wanita itu menutup mulutnya di saat melihat sesuatu yang aneh di leher Ghani bagian belakang.

__ADS_1


Di sana terdapat beberapa luka yang masih baru. Jika dilihat semakin dekat, sepertinya luka itu karena sebuah cakaran yang cukup keras.


Mama Ayumna menarik ke bawah kerah baju Ghani bagian belakang. Betapa terkejutnya mama Ayumna di kala matanya tidak hanya menangkap sebuah luka cakaran. Melainkan ada tanda yang sangat familiar sekali bagi wanita paruh baya tersebut.


"Kenapa, Ma?" tanya Ghani yang masih sangat santai.


"Kamu habis apain Rinda, Gha?" tanya mama Ayumna dengan nada tertahan. "Kamu pakai pengaman nggak semalam? Jangan bilang kalau kalian melakukan tanpa memakai pengaman." tuduh mama Ayumna pada putranya sendiri.


Sementara itu, dari sisi kanan mereka tampak seorang pria paruh baya datang menghampiri mereka. Tatapan pria itu menyipit di kala melihat wajah istrinya yang tidak seperti biasanya.


Sedangkan mama Ayumna dengan nada menggebu, menunjuk ke arah Ghani.


"Ini loh, Pa, anakmu. Dia habis anuin menantuku!" seru mama Ayumna begitu heboh. Membuat papa Langit merasa heran.


"Ya terus apa salahnya, Ma? Toh mereka lakuin itu juga halal kok. Nggak ada yang perlu ditakutin," ujar papa Langit begitu santai.


Pria itu kemudian menuju ke kursinya dan mendudukkan tubuhnya di sana.

__ADS_1


"Iya nih. Mama kayak nggak pernah aja," timpal Ghani. Pria itu kemudian berdiri dan mengambilkan makanan untuk istrinya.


"Itu untuk siapa, Gha?" kali ini papa Langit yang bertanya.


"Istrinya Ghani, Pa," jawab Ghani membuat kedua orang tuanya menatap bengong. Bahkan sampai Ghani meninggalkan mereka berdua di meja makan.


"Mas," panggil mama Ayumna dengan suara lirih.


"Apa, Sayang?" sahut papa Langit.


"Dia beneran anak kita bukan, sih?"tanyanya lagi. "Kok beda banget sama kemarin-kemarin yang ogah-ogahan dijodohin."


Papa Langit menggeleng. "Mungkin karena udah dapat jatah kali, Ma. Biarin aja mumpung masih bisa manis-manis. Nanti giliran punya anak yang rewel banget, tinggal pusingnya aja," ucap papa Langit begitu asal. Di mana pria itu langsung mendapat pukulan di lengan dari istrinya.


"Enak aja. Nanti kalau anaknya rewel, yang repot juga kita, Pa. Mereka pasti akan lanjutin sekolah mereka, kan?" sahut mama Ayumna.


Papa Langit membenarkan. Meskipun mereka akan punya anak mungkin dalam waktu dekat. Tetap, pendidikan nomor satu di keluarga mereka. Pun begitu dengan menantunya.

__ADS_1


__ADS_2