
Bab. 48
Sesampainya di sekolah, Rinda langsung berlari menuju ke kelas. Karena Felisha sudah ada di sana untuk mengulang lagi materi pelajaran yang selama ini hanya gadis itu tumpuk dengan begitu rapi di dalam bukunya. Tanpa mengulang lagi apa yang sudah diajarkan kepadanya.
"Gue belum telat, kan?" tanya Rinda dengan napas terengah. Karena berlari secepat mungkin agar bisa masuk ke kelasnya.
Felisha mengangkat wajahnya, menatap jengah ke arah Rinda.
"Udah telat," jawabnya asal yang kemudian menatap ke arah buku yang ada di atas meja.
Rinda tahu betul kebiasaan Felisha yang selalu belajar di kelas sebelum ulangan dimulai. Apa lagi sekarang ini ulangan dadakan.
"Ck! Kalau udah masuk, mana mungkin lo bisa santai seperti ini," ledek Rinda sembari mendudukkan tubuhnya di tempat duduk sebelah Felisha. Memasukkan tas ke dalam laci lalu mengeluarkan pouch yang berisi pensil beserta keluarganya.
Raut muka Felisha semakin ditekuk di saat Rinda memperjelas kondisinya.
"Diem aja deh lo, kalau nggak niat kasih contekan!" sembur Felisha melirik sekilas ke arah Rinda, lalu kembali fokus dengan buku yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"Diem, udah ... diem. Nggak ganggu ganggu lagi," sahut Rinda sembari mengangkat kedua tangannya hingga
Rinda benar-bena tidak mengganggu Felisha yang sedang belajar. Gadis itu menyempatkan melihat ponselnya sebentar sebelum bel masuk berbunyi.
Mata Rinda menyipit di saat mendapat satu pesan dari orang yang sangat ia kenal.
Dalam pesan itu ada sebuah foto yang menunjukkan sebuah kunci motor yang tengah dipegang oleh tangan seorang pria.
Suami Lucknut.
Hanya satu kata yang tertulis di bawah gambar kunci motor yang Rinda tahu itu adalah kunci motornya.
"Ih, bisa-bisanya sih gue sampai lupa cabut kunci. Males banget deh harus ketemu dia di sekolah," bukannya dengan suara lirih, karena tidak mau mengganggu konsentrasi Felisha.
Rinda tidak membalas dan langsung menutup layar ponselnya untuk kemudian ia simpan di dalam saku. Tidak lupa ia ubah mode dering ke mode silent. Agar nanti tidak di rampas oleh guru killer yang sebentar lagi bakalan masuk ke dalam kelas mereka.
Benar saja, sesuai dugaan Rinda. Guru tersebut masuk ke dalam kelas mereka dan keadaan menjadi hening seketika.
__ADS_1
Ulangan pun berjalan dengan sangat lancar dan tanpa ada kalimat protes yang melayang kepada guru killer tersebut. Karena memang tidak ada yang berani. Kalau tidak, mereka sendiri menanggung akibatnya.
Jam istirahat pun tiba. Seperti biasa, Rinda menghabiskan waktunya bersama Felisha di kantin.
"Gilllaaaaa ... yang gue baca tadi pagi nggak ada yang keluar sama sekali, anj*r!" umpat Felisha sembari menempelkan pipi nya yang sebelah ke meja yang ada di kantin dengan tangan yang berada di bawah meja.
"Dasar lo nya aja yang kagak paham-paham," sahut Rinda sembari menyeruput es teh manis yang dia pesan tadi.
Tentu saja, tangannya tidak menganggur. Jari jemari gadis itu berseluncur indah, menscroll scroll layar ponselnya yang menampilkan pangeran Lucas di sana. Salah satu FL favorit Rinda dalam cerita komik yang sedang Rinda ikuti secara online. Sudah ada dua tahun gadis itu masih setia mengikuti cerita yang tidak tamat-tamat tersebut.
"Gimana mau paham, orang itu guru neranginnya sambil melotot. Mana bisa fokus gue sama apa yang di ucapkan. Yang ada pingin banget pegang bibirnya dan gue tarik ke atas. Biar senyum, gitu. Kan manis. Ntar gue cicipi sekalian," ucap Felisha senyum-senyum sendiri.
Rinda menggelengkan kepala. Felisha memang salah satu barisan dari tim penggemar berat guru tersebut.
Dan di saat mereka sibuk membicarakan guru killer idola siswi yang ada di sekolah ini, tiba-tiba saja ada seorang cowok datang menghampiri meja mereka. Berdiri tepat di samping Rinda. Membuat dua gadis itu mengangkat wajah mereka.
"Boleh pinjam Rinda-nya?"
__ADS_1