
Bab. 57
Pagi harinya, Ghani tampak begitu bersemangat dan lebih segar setelah keluar dari kamar mandi. Rambut yang basah serta tetesan air di bahu serta dada, semakin menambah daya pikat Ghani yang luar biasa. Membuat seorang gadis yang masih terbaring di atas tempat tidur pun melengos ke arah lain. Memilih untuk tidak menatap ke arah suaminya.
"Kamu kenapa Yaang? Hmm?" tanya Ghani melangkah menuju ranjang, lalu membaringkan tubuhnya di sana dan menaruh kepalanya di atas lengan Rinda. Sengaja membuat gadis itu agar menoleh dan melayangkan protes kepadanya.
Karena setelah apa yang mereka lewati semalam, Rinda benar-benar mengunci mulutnya. Tidak mengeluarkan kata sepatah pun. Kecuali suara desahaan yang keluar dan terdengar begitu merdu di telinga Ghani.
"Kaaakk ... kepala Kak Ghani berat, loh!" protes Rinda sesuai dengan harapan Ghani.
Kini gadis, eh, bukan. Lebih tepatnya gadis yang sudah berganti status menjadi seorang wanita tersebut pun menoleh ke arahnya.
Ghani terkekeh lalu menjauh dari lengan Rinda dan berbantalan dengan lengannya sendiri. Menatap wanita yang semalam sungguh memberikan dirinya kepuasan lahir dan batin. Bahkan sampai mengulang nya entah berapa kali. Yang jelas sampai Rinda merengek meminta berhenti. Terlebih lagi Ghani melakukannya dengan penuh semangat.
Betapa tidak. Dia sudah menunggu momen seperti semalam itu selama enam bulan. Mungkin, jika itu terjadi pada pria lain yang tidak memiliki tingkat sabar setinggi dirinya, sudah jelas istrinya akan diperkosa di hari pertama mereka menikah.
"Mau lagi, Yaang," cicit Ghani. Membuat Rinda membeliakkan matanya.
Sementara pria itu sudah menyembunyikan wajahnya di leher Rinda dan mengendus di sana.
__ADS_1
Rinda berusaha untuk menjauhkan kepala Ghani dari sana.
"Nggak mau, Kaak ...! Semalam kamu udah melahap diriku beberapa kali. Capek. Perih. Masih lecet ini!" tolak Rinda mentah-mentah.
Baru satu jam yang lalu mereka menyudahi kegiatan tambahan di pagi hari sebelum mandi. Namun, kini suaminya sudah meminta lagi.
"Bentar doang loh, Yaang," bujuk Ghani.
Dengan cepat Rinda menggeleng.
"Sebentar apa-an? Orang Kak Ghani mainnya lama banget. Lemes kakiku," bantah Rinda sembari menatap kesal pada suaminya.
Ghani terkekeh mendengarnya. "Ya jangan salahin aku, Yaang. Salahin ininya kamu yang legit banget," ucap Ghani sembari tangannya yang nakal itu dengan cepat menyelinap masuk ke dalam selimut dan menowel apa yang dia maksud.
Tentu saja, perbuatan Ghani membuat Rinda memekik kaget. Bahkan tubuhnya sampai berjingkat. Kemudian langsung memukul dada suaminya.
"Sakit tau, Kak!" protesnya mendelik tajam.
Sedangkan sang pelaku bukannya merasa kasihan, tetapi malah tertawa senang.
__ADS_1
"Udah, yuk mandi dulu, Yaang. Ditungguin Mama di bawah, loh," ujar Ghani.
Pria itu beranjak dari sana dan menuju ke arah lemari. Mengambil segaram sekolahnya.
Kebetulan hari ini Ujian Nasional untuk kelas 12. Sehingga kelas 10 dan 11 pun diliburkan. Itulah mengapa Rinda bersikap sangat santai. Namun, masalah yang sebenarnya bukan itu.
"Kak Ghani ke bawah sendiri, ya? Aku mau tiduran bentar," ucap Rinda beralasan.
Dia tidak mungkin meminta suaminya untuk memapah dirinya ke kamar mandi. Sedangkan kondisi sekarang masih belum mengenakan apapun dan hanya tertutup oleh selimut.
Ghani menoleh ke arah Rinda sembari memakai bajunya di sana dengan begitu tenang. Tanpa punya rasa malu sedikit pun. Berbeda sekali dengan Rinda yang mengalihkan pandangannya.
"Kenapa? Kamu sakit, Yaang?" tanya Ghani.
Rinda melirik malas.
'Ck! Jadi laki nggak peka banget. Siapa juga yabg buat gue kayak gini. Masih aja nanya-nanya.' kesal Rinda yang tentu saja tidak akan dia ucapkan pada Ghani.
"Enggak kok, Kak," jawab Rinda berbohong. "Semangat kerjain ujiannya. Semoga bisa jawab semua soalnya nanti," sambung Rinda.
__ADS_1
Ghani tersenyum miring sambil menggeleng kepala samar. "Kamu remehin otak suami kamu sendiri, Yaang."