Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Kebiasaan Rinda


__ADS_3

Bab. 44


Selesai bicara dengan mamanya, Ghani segera masuk ke dalam kamar. Membuka lemari dan mengambil baju santai di sana. Pria itu memilih celana trining serta kaos yang tampak pas di badannya. Lalu menaruh handuknya di sampiran yang terletak di sebelah lemari pakaian.


Sembari menunggu Rinda yang tampaknya belum selesai mandi, Ghani memutuskan untuk membuka laptopnya dan duduk bersila di atas ranjang. Mengecek beberapa email yang masuk, serta menyelesaikan pekerjaannya yang tinggal sedikit.


Meski statusnya masih sebagai pelajar, namun Ghani sudah menjabat posisi yang lumayan tinggi di perusahaan keluarganya. Pria itu juga memiliki sebuah usaha sampingan. Tanpa ada sampur tangan kedua orang tuanya.


Tiga puluh menit sudah terlewati, tetapi tidak ada tanda-tanda Rinda akan keluar dari dalam kamar mandi.


Curiga dan khawatir, Ghani pun langsung turun dari ranjang dan menuju ke arah kamar mandi. Mengetuk beberapa kali sambil memanggil nama Rinda, namun tidak kunjung mendapat respon darinya.


"Rinda, lo nggak berencana tidur di kamar mandi, kan?" tanya Ghani dari luar kamar mandi. Tangannya masih setia mengetuk pintu, agar kalau memang Rinda sibuk dengan showernya, masih bisa mendengar suara ketukannya.


Satu menit.


Lima menit.

__ADS_1


Sepuluh menit.


Tetap tidak mendapat sahutan dari dalam. Sehingga membuat Ghani memutuskan untuk masuk secara paksa. Karena pikirannya sudah tidak menentu lagi. Berbagai prasangka buruk terlintas di benaknya.


Mendobrak pintu kamar mandi, merupakan solusi yang sangat tepat. Akan tetapi, Ghani tidak mau gegabah dan memilih untuk mengambil kunci cadangan yang ada di laci lemari pakaiannya bagian bawah.


Membukanya dengan cepat dan langsung main masuk begitu saja. Di sana, ia tidak mendapati keberadaan Rinda. Hingga Ghani memutuskan untuk melangkah lebih masuk lagi dan melewati meja wastafel menuju ke arah ruangan yang lebih kecil dengan bersekat kaca buram.


Sreeekk


"Rinda!"


Cepat-cepat Ghani menghampiri Rinda dan langsung meraih tubuh gadis itu. Mengabaikan sebuah bulatan yang lolos begitu saja di depan matanya. Meskipun jantungnya semakin berpacu tidak normal, sebisa mungkin Ghani untuk berpikiran jernih. Walaupun sebenarnya sangat sayang sekali untuk dilewatkan.


Setelah berhasil mengangkat tubuh Rinda, tangannya yang satu lagi meraih asal handuk yang ada di dekatnya lalu melilit tubuh Rinda dengan handuk berukuran jumbo tersebut. Sehingga imannya tidak terlalu mendapat ujian yang sangat sulit sekali dilalui.


"Udah tau habis kehujanan, malah berendam," gumam Ghani sembari membawa tubuh Rinda ke aras ranjang lalu membaringkannya. Baru setelah itu menutupi tubuh gadis itu dengan selimut hingga batas leher. Membuat Rinda merasa lebih hangat dari sebelumnya.

__ADS_1


Ghani menempelkan telapak tangannya ke kening Rinda.


"Nggak panas."


Lalu berpindah semakin turun hingga leher. Menelusupkan di sana.


"Nggak panas juga," ucap Ghani yang mulai bingung. "Masa dia ketiduran, sih. Tapi nggak mungkin. Orang aku gendong ke sini ya tetep aja. Nggak sadar sedikit pun."


Ghani mulai teringat ketika beberapa malam yang lalu ia bawa pulang ke rumah ini.


Pria itu tersenyum ketika mengingat kebiasaan Rinda ketika tidur. Tentu, Ghani mengetahuinya dari cerita ibu mertua dan kakak iparnya.


"Ck! Dasar, jago bikin orang kelimpungan memang." ujar Ghani mencolek ujung hidung Rinda yang mancung, namun sangat pas dengan wajah mungilnya.


Tiba-tiba saja ide jahil mulai muncul di kepala Ghani. Pria itu kemudian ikut masuk ke dalam selimut yang sama dengan Rinda, dan mulai menempatkan posisinya senyaman mungkin di sebelah Rinda.


"Kita lihat nanti, apakah setelah ini lo masih terus membantah omongan gue," ujar Ghani tersenyum penuh maksud.

__ADS_1


__ADS_2