Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Khilaf Yang Berkelanjutan


__ADS_3

Bab. 60


Ghani terdiam, tampak mengingat apakah yang untuk kali pertama kegiatan penyatuan jiwa dan raga yang semalam mereka alami memakai atau tidak. Namun, seingatnya ia tidak memakai apapun dan langsung main hajar.


Dengan senyuman menyengir serta menggaruk pelipisnya, Ghani akhirnya menggelengkan kepala samar sebagai jawaban atas pertanyaan istrinya.


Sontak, mata Rinda membeliak, tidak percaya kalau suaminya begitu tega dan tidak mendengar peringatan dari dirinya ketika awal-awal mau menyentuh.


"Kaaaaakkkk ....!" pekik Rinda yang langsung melempar bantal ke arah Ghani. Namun tidak kena, karena pria itu dengan cepat menghindar.


Berbeda dengan Rinda yang gerakannya terbatas. Padahal ingin sekali memukul serta mencubiti pria itu sampai puas. Kalau perlu memotong ujung helm si Jun yang bertingkah sangat nakal dan tidak patuh.


"Kenapa kamu nggak makai sih, Kak! Gimana kalau sampai jadi? Aku masih kelas dua, loh!" protesnya dengan suara meraung.


Membayangkan dirinya kalau sampai hamil lalu otomatis keluar dari sekolah sebelum waktunya, membuat Rinda begitu ngeri. Di tambah lagi, belum genap usianya di angka dua puluh tahun, masa ia harus menyandang status lagi sebagai seorang ibu.


"Yaang ... maafin aku. Aku khilaf, Yaang. Lagi pula aku belum ada pengalaman, makanya nggak ngerti pas mau keluar itu gimana," elak Ghani yang tidak sepenuhnya berbohong.

__ADS_1


Sedangkan Rinda menatap tajam ke arah suaminya.


"Bohong! Bilang aja kalau keenakan, kan?" sanggahnya dengan nada sinis.


Ghani menyengir. "Ya itu salah satunya juga, sih."


Mata Rinda membeliak. Semakin gemas sekaligus heran kepada suaminya sendiri.


"Kak, sini bentar deh," pinta Rinda sembari menyuruh Ghani untuk mendekat ke arahnya. Karena kalau dirinya yang turun dan berjalan menghampiri Ghani, ia masih belum sanggup. Rasa sakit di bagian paling pribadinya masih terasa begitu jelas sekali.


"Yaang, kalau begitu aku berangkat dulu, ya?" pamit Ghani tahu maksud Rinda. Sudah jelas dirinya akan dihabisi oleh istrinya sendiri.


"ARGHAAAANNNIIIII!" teriak Rinda menggema di ruang kamar mereka. Beruntung, kamar Ghani kedap suara dan pintunya sudah ditutup rapat oleh pria menyebalkan.


Sementara Ghani berlari menuruni anakan tangga sembari senyum-senyum sendiri.


Bukan karena tak disengaja, tetapi memang Ghani tidak mau memakai pelindung untuk si Jun untuk kali pertamanya melakukan hal tersebut. Karena Ghani ingin benar-benar menikmati cita rasa dari sang istri.

__ADS_1


Dan ternyata sesuai dugaannya. Di kali kedua mereka melakukan penyatuan dan Ghani menggunakan pelindung, rasanya sangat berbeda. Lebih nikmat tidak mengenakan pelindung. Ada sensasi terjal-terjalnya.


"Ghani berangkat dulu Ma, Pa," pamit Ghani tidak lupa mengecup tangan kedua orang tuanya secara bergantian.


"Loh, Rinda beneran nggak bisa turun, Sayang?" tanya mama Ayumna yang kini tampak khawatir.


Ghani menggeleng. "Kemungkinan siang nanti, Ma. Kalau untuk sekarang, biarkan dia di kamar dulu. Nggak usah ditanya aneh-aneh. Malu nanti dia," pesan Ghani kepada mamanya.


Membuat mama Ayumna mendelik. Bisa-bisanya putranya ini berkata seperti kepada dirinya.


Plak!


Hemas dengan sikap putranya dari pagi tadi, akhirnya tangan mama Ayumna tidak bisa menahan diri lebih lama.


"Aww! Sakit, Ma!" protes Ghani sembari mengusap keningnya.


"Mama lebih tau rasanya apa yang dirasakan oleh Rinda saat ini, Gha!" geram mama Ayumna. "Kalian para pria aja yang nggak mau mengerti keadaan istrinya. Maunya minta terus. Sedangkan kami tidak merasakan enak sama sekali. Yang ada sakit." tekan mama Ayumna menatap sinis ke arah putranya, lalu berpindah ke arah suaminya yang duduk di sampingnya dengan tatapan sinis.

__ADS_1


'Ck! Kena lagi.' batin papa Langit pasrah. Tidak berani membantah atau mengelak.


__ADS_2