Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Ketahuan


__ADS_3

Bab. 38


Sementara itu di tempat lain, Ghani mencari keberadaan Rinda, namun tetap tidak menemukan gadis itu. Bahkan dia sampai mengabaikan pertanyaan dari kekasihnya.


"Lo kenapa sih? Dari tadi kita ikutin bolak balik aja?" tanya Dimas yang sudah mulai kesal.


Plak!


"Lagian siapa juga yang nyuruh lo ikutin Ghani, Dim?"


Geplakan itu hadiah dari Johan yang geram dengan Dimas. Dia yang lari ngikutin Ghani, lalu kenapa tangannya juga Dimas tarik.


"Gue penasaran, Anj*r! Ghani panik kek begitu. Kirain itu badut udah—mmphh!"


Dengan cepat Johan menutup mulut Dimas yang sangat ember itu rapat-rapat. Menatap mendelik ke arah Dimas, memberi isyarat kalau diam saja. Johan baru menarik tangannya setelah mendapat anggukan kepala dari Dimas.

__ADS_1


Sedangkan Ghani mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi seseorang. Namun, panggilan darinya tidak dijawab sama sekali.


"Siall! Kena omel lagi gue ntar!" umpat Ghani memukul udara dengan rahang yang mengatup keras.


"Lo kenapa sih, Gha?" kali ini Johan yang bertanya sambil menarik lengan Ghani agar menatap ke arahnya.


Ghani menggeleng kepala. "Gue balik duluan."


"Loh, bukanya ntar kita ada pertemuan lagi. Masa mau balik?" protes Dimas yang tidak terima jika pekerjaan Ghani dilimpahkan kepada dirinya semua.


Meskipun dia sedikit melenceng dari yang lain, namun otak Dimas juga tidak bisa diremehkan begitu saja. Pria itu memiliki banyak ide yang cemerlang jika dibutuhkan.


Dua teman Ghani tersebut sama-sama menatap ke arah sahabatnya itu dengan tatapan tidak percaya.


"Gimana kalau kita angkat Nathan aja sebagai ketos?" usul Dimas.

__ADS_1


"Boleh juga, tuh! Ghani makin ke sini kok dia makin ke sana aja." sahut Johan masih menatap punggung Ghani yang menjauh.


Sementara Ghani langsung berlari cepat menuju ke tempat mobilnya berada. Cepat-cepat pria itu masuk ke dalam mobil dan ingin segera menuju ke rumahnya.


"Kalau sampai itu cewek yang pulang duluan, bisa panas ini telinga kena omel Mama," gumam Ghani sembari menghidupkan mesin mobilnya.


Keadaan parkiran sudah sepi. Karena semua siswa sudah pada pulang. Kecuali anggota osis dan beberapa orang yang membantu jalannya pensi akhir pekan nanti.


Dan ketika Ghani melewati perempatan dekat sekolahnya, samar-samar pria itu melihat sosok yang sepertinya dia kenal. Ingin mengabaikan karena urusan Rinda lebih penting demi kenyamanan hidupnya di rumah. Namun, ada setitik penasaran yang membuat Ghani pada akhirnya mengurangi kecepatan mobilnya dan menatap lebih intens lagi ke sosok yang dia duga kenal dengan orang tersebut.


Hingga tidak berapa lama, Ghani benar-benar bisa melihat orang itu dengan sangat jelas dan yakin.


"Ck! Kalau bukan karena taruhan yang dibuat anak-anak dulu, gue nggak akan macarin lo!" sesal Ghani.


Namun, ia tidak memungkiri jika dekat dan menjalin kasih dengan cewek itu, menimbulkan rasa nyaman dan terbiasa dalam diri Ghani. Meskipun ini bukan kali pertamanya ia memergoki Musi berbuat seperti ini di belakangnya.

__ADS_1


"Jangan lo pikir, gue nggak tau dan lo akan terus menerus bersikap seperti itu, Musi. Jelas, gue akan balas perbuatan lo. Tapi tidak dalam waktu dekat. Tunggu gue benar-benar menghancurkan lo. Karena lo nggak bisa jaga nama gue," ujar Ghani menatap penuh dendam ke arah seorang cewek yang malah dengan santai nya duduk di samping cowok lain.


Bahkan tanpa punya rasa malu sedikit pun, cewek itu bergelanyut manja di lengan seorang cowok yang juga baru Ghani ketahui beberapa minggu terakhir ini.


__ADS_2