
Bab. 76. Tamat
"Siapa namanya, Mas?" tanya Rinda sekali lagi. Karena tadi pertanyaannya tidak dijawab oleh suaminya.
Kali ini keadaan Rinda sudah lebih segar dari sebelumnya. Membersihkan diri juga berganti pakaian. Tentu saja, semua itu di bantu oleh Ghani. Karena Ghani tidak ingin tubuh istrinya di sentuh oleh siapapun. Apalagi kalau sampai di telanjangii bulat seperti tadi.
Semua anggota keluarga Bagaskara pun juga berkumpul di ruangan VVIP ini. Pun begitu dengan keluarga Agastya. Mereka melihat cucu pertama mereka yang wajahnya mirip Ghani banget.
Bahkan karena hal ini pula tadi sempat membuat Rinda ngambek pada suaminya. Dirinya yang merasakan sakit, namun yang keluar malah duplikat suaminya banget. Rinda hanya kebagian bagian bibirnya saja.
"Iya, Gha. Namanya siapa? Kamu udah nyiapin nama untuk cucu Mama belum?" sahut mama Ayumna yang juga penasaran dengan nama cucu pertamanya tersebut.
Ghani mengusap lembut kepala Rinda. Memberi kecupan di kening wanita yang sudah hadir ke dalam hidupnya dan memberikan banyak keberuntungan serta kebahagiaan. Dan kini hidupnya semakin lengkap karena istrinya itu melahirkan keturunannya. Hasil jerih payahnya selama ini.
"Mas," panggil Rinda dengan tatapan kesalnya. Karena Ghani tidak kunjung memberitahu nama putra mereka.
"Alther," ucap Ghani yabg kemudian menatap ke arah bayi mungil dengan warna pipi yang kemerahan yang berada di pangkuan mertuanya. "Alther Davindra Bagaskara. Itu namanya, Yaang," lanjutnya lagi.
Papa Langit merasa senang mendengar nama cucunya yang masih menggunakan nama keluarganya. Lalu pria paruh baya tersebut menatap ke arah besannya.
Seolah mengerti, ayah Aga mengangguk sembari tersenyum tulus. "Tidak apa-apa, Lang. Yang penting cucu kita sehat dan berbakti kepada orang tuanya nanti," ucap ayah Aga.
__ADS_1
"Amiinn," sahut semua orang yang mendengar ucapan ayah Aga.
***
3 tahun kemudian.
Tiga tahu sudah berlalu dari kelahiran baby Al. Kini bocah berusia tiga tahun tersebut tengah bermain di taman dengan ditemani oleh mami nya.
"Al ... jangan jauh-jauh mainnya, Sayang!" teriak seorang wanita muda dengan laptop di pangkuannya.
Wanita itu tampak cantik. Masih muda. Dan di sekitarnya banyak kertas yang berserakan.
Ya. Satu tahun yang lalu Rinda memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Wanita itu membagi waktu kuliah serta menjadi seorang ibu dari bocah yang begitu tampan dan juga sedang aktif-aktifnya sekarang ini.
Rinda menoleh, melihat ke arah tangan baby Al yang tampak memegang sesuatu.
"Jangan lari-lari, Al. Nanti kamu kesandung, loh!" ingat Rinda segera merapikan tugas kuliahnya agar tidak diinjak oleh putranya itu. Lalu menaruhnya di atas komputer yang segera ia taruh di atas meja dekatnya.
"Al layi layi mau kacih liat ini ke Mami," ucap Al seraya menjulurkan tangannya ke arah Rinda.
Rinda yang penasaran pun mendekat.
__ADS_1
"Untuk Mami?" tanya wanita muda itu. Baby Al mengangguk dengan mata berbinar senang. "Waaahh ... anaknya Mami emang dabest deh," puji Rinda.
Lalu Rinda membuka tangan baby Al dengan pelan. Dan di detik selanjutnya wanita itu menjerit sekencang kencangnya. Membuat baby Al tertawa senang di saat melihat mami nya seperti itu.
"Hyyaaaaa ... Al! Buang itu, Al! Mami geli!" teriaknya. Namun tidak diidahkan oleh baby Al. Bocah itu semakin mendekatkan tangannya yang memegang ulat gemoy berwarna hijau itu ke arah Rinda.
"Ini lucu, Mi. Al cuka. Al mau peyihala ulat ini," ucap baby Al yang terdengar lucu.
Sementara Ghani yang baru datang lalu mendekat ke arah mereka. Melihat posisi Rinda yang naik ke atas kursi, sedangkan baby Al berada di bawah sembari menunjukkan sesuatu di tangannya.
"Ada apa ini, Sayang? Kok kamu naik ke kursi kayak gitu?" tanya Ghani.
Lalu pria itu mendekati baby Al dan berniat untuk menggendong putra semata wayang mereka. Namun, tiba-tiba saja Rinda loncat dan langsung memeluk dirinya. Otomatis Ghani menahan tubuh Rinda agar tidak jatuh.
"Anak kamu itu, Mas. Jahilin aku makai ulet. Mana gemoy banget uletnya. Kagak pernah kerja apa ya? Kok sampe gemoy kayak gitu," adu Rinda yang berada di gendongan sang suami.
Sementara baby Al terus mengusap lembut ulat gemoy berwarna hijau yang ada di tangannya itu.
"Ini lucu, Mi. Ya kan, Pi?" kemudian baby Al menunjukkan ulatnya kepada Ghani.
Ghani menggeleng kepala melihat tingkah anak dan ibu ini. Yang satu sangat suka sekali dengan hal-hal baru dan tidak memiliki takut apapun. Sedangkan wanita yang sekarang ada di gendongannya, sangat takut dengan hal-hal yang disebut baby Al lucu itu.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan para Ayang selama ini. Yuta benar-benar sangat berterimakasih pada kalian. Lopiyupul. Oh, ya. Di bawah ini ada lanjutan dari kisah anaak mereka. Kalia harus kaporitin dan baca, ya. Yuta maksa ini. hehe.