
Bab. 50
Dua orang cowok yang sama-sama menjadi idola murid di SMA Dahlia itu tampak saling menatap dalam diam. Hingga salah satu di antara mereka memutus tatapannya dan mengarahkannya ke arah gadis yang menjadi tujuannya.
"Kenapa nggak dibalas?" tanya Ghani langsung tanpa berbasa basi. Bahkan pria itu mengabaikan tatapan heran dari beberapa siswa yang ada di kantin saat ini.
Jelas saja mereka heran. Karena yabg mereka tahu, Ghani sudah memiliki kekasih dan mereka terlihat selalu bersama. Namun, kenapa pria itu malah mendatangi Rinda? Itulah mungkin pertanyaan yang ada di kepala mereka.
Rinda menoleh sekilas ke arah Ghani, lalu meminum kembali es teh manisnya. Mengabaikan pertanyaan Ghani yang menurutnya tidak penting.
"Rinda ..." geram Ghani karena merasa dicueki oleh gadis itu. Ghani pun sampai menarik gelas es teh milik Rinda. Mendapat tatapan tajam dari gadis itu langsung.
"Kak! Kalau haus, beli sendiri sana!" protes Rinda dengan wajah cemberut. Karena dengan santai nya Ghani meminum bahkan sampai menghabiskan es teh miliknya.
Dengan ekspresi tanpa rasa bersalah, Ghani menatap Rinda dengan alis yang terangkat.
"Lo lupa, seharusnya tugas lo itu ngelayani gu—"
Cepat-cepat Rinda memasukkan kentang goreng yang dia pesan tadi ke dalam mulut Ghani. Agar pria itu tidak berbicara ngelantur.
__ADS_1
"Makan sekalian ini, Kak. Enak kok. Gurih," ucap Rinda tersenyum penuh maksud.
Sedangkan tangannya yang berada di bawah pun langsung memberi cubitan di paha Ghani. Membuat pria itu meringis menahan sakit akibat cubitan Rinda.
"Lagi," pinta Ghani setelah menelan kentang yang sudah ia kunyah.
"Hah? Apanya?" Rinda tidak mengerti yang dimaksud oleh pria di sebelahnya ini.
Pun begitu dengan dua orang yang dari tadi menatap curiga ke arah mereka. Juga interaksi mereka yang terlihat dekat. Bahkan sikap Ghani yang biasanya dingin pun tampak berubah total.
"Suapin," perintahnya.
Ghani mengangkat satu alisnya ketika tidak mendapat apa yang ia inginkan.
"Mau di buka semua? Hmm?" tawar Ghani penuh makna.
Bukan bukan, pria itu sedang memberi ancaman pada Rinda jika tidak menuruti apa yang dia mau.
"Ck! Lo kan punya tangan. Manfaatkan dong! Lagian kenapa juga Kak Ghani di sini? Sana, ke teman-temen Kak Ghani noh!" usir Rinda sembari menunjuk ke arah meja yang tak jauh dari tempatnya saat ini. Di sana tampak Johan dan Vian, teman Ghani. Mereka sedang melambaikan tangan ke arah Rinda.
__ADS_1
"Ada perlu sama lo. Tapi suapin dulu itunya," balas Ghani lalu menarik piring yang berisi kentang goreng dan mengarahkan tepat di depan Rinda.
"Gue yang lebih dulu ada perlu sama Rinda, Gha. Sebaiknya lo balik ke temen sama pacar lo sana. Rinda nggak nyaman banget tuh keliatannya."
Nathan yang sedari tadi memilih untuk diam, pun kini pria itu angkat bicara. Tidak suka melihat Rinda diperlakukan seperti itu oleh Ghani.
Ghani menatap datar ke arah Nathan.
"Lebih baik lo aja yang pergi. Karena Rinda milik gue!" tegas Ghani. Tatapannya berubah serius.
Tidak hanya Nathan yang dibuat kaget, tetapi semua siswa yang mendengar kalimat Ghani barusan. Sampai-sampai ada satu gadis melangkah mendekat ke arah Ghani dan langsung menarik lengan pria itu.
Sedangkan Rinda sendiri hanya bisa menghela napas. Suaminya tengah berulah, dan dirinya sangat terlambat untuk menyangkal.
"Apa maksud kamu, Beb? Kamu itu milik aku!" protes seorang gadis yang baru datang tersebut. Membuat keadaan semakin kacau.
"Kan ... habis ini gue yang kena getahnya," gumam Rinda dengan suara lirih dan langsung mendapat senggolan di kakinya dari Felisha yang kini memberi isyarat kepadanya untuk diam dan menonton saja.
"Ribet banget sih hidup mereka," Rinda mengabaikan peringatan dari Felisha. Gadis itu justru dengan begitu santai nya menempelkan kepalanya ke atas meja setelah menggeser piring berisikan kentang goreng tadi. Menonton pertikaian babak baru di depannya.
__ADS_1