
Bab. 69
"Bukan siapa-siapa. Kalau begitu saya pergi ambil makan dulu," pamit Leo yang tiba-tiba saja menggunakan bahasa yang sopan.
Ghani ingin melayangkan pertanyaan, namun dengan segera Leo beranjak dari sana dan menghilang setelah menutup pintu ruangannya.
"Aneh banget," gumam Ghani. Lalu pria itu mencoba untuk menghubungi istrinya. Barang kali di angkat dan dirinya bisa menanyakan alasan Rinda tidak mengaktifkan ponselnya dari kemarin.
Sementara itu, Rinda yang berada di lobby sendiri, didatangi seorang petugas keamanan. Membuat gadis itu merasa kurang nyaman. Karena petugas keamanan itu menatapnya dengan tatapan yang begitu mengerikan.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya petugas keamanan tersebut. Mendekat ke arah Rinda yang tengah menunggu dan duduk di sofa.
Rinda menggeleng sembari meminum es di gelas cup yang baru dia beli tadi. Lebih tepatnya menyuruh sopir yang menjemputnya tadi untuk membelikan dirinya es dua cup. Satu untuk dirinya, dan yang satu lagi dia berikan kepada sopir itu sendiri.
"Nggak ada. Saya sedang menunggu orang di sini," jawab Rinda sedikit cuek. Karena gadis itu merasa tidak nyaman dengan tatapan petugas keamanan tersebut.
Petugas itu masih belum paham. "Sedang menunggu mamanya?" tanya petugas itu lagi.
__ADS_1
"Bukan. Tapi suami saya," jawab Rinda lebih jelas lagi. Membuat pria berbadan kekar tersebut mengerutkan keningnya. Seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rinda barusan.
"Suami?" ulang petugas itu.
Bagaimana bisa percaya jika gadis kecil dan imut serta menggemaskan ini mengatakan tengah menunggu suaminya. Pria itu sedikit terkekeh mendengar jawaban Rinda.
"Adik, di sini bukan tempat untuk kabur. Lebih baik sekarang kamu pulang, sebelum orang tuamu mencari nanti," ingat petugas itu sembari melihat ke arah koper Rinda. Lalu menatap penampilan gadis itu yang seperti anak usia dua belas tahun di kota ini. Benar-benar menggemaskan.
Rinda berdecak. Tidak menghiraukan peringatan yang diberikan oleh petugas keamanan tersebut. Gadis itu tampak menikmati es yang ada di tangannya. Menyeruputnya sembari menatap orang yang lalu lalang di hadapannya.
Tentu saja, kelakuan Rinda membuat petugas keamanan itu geram. Ingin sekali bersikap kasar, namun takut jika anak di depannya tersebut menangis.
Sementara itu, di arah belakang petugas keamanan tampak seorang yang berlari dengan sedikit tergesa. Raut wajahnya tampak panik. Kemudian dengan segera pria itu menghampiri keributan yang ada di depannya. Juga ia melihat seorang gadis yang jika dilihat dari ciri-cirinya, seperti perempuan yang menelponnya tadi.
"Ada apa ini, Pak?" tanya Leo pada petugas tersebut.
Petugas keamanan itu kemudian menjelaskan kepada Leo.
__ADS_1
Rinda menatap ke arah pria yang baru saja menghampiri mereka. Lalu gadis iru melihat ke arah layar ponselnya dan mencocokkan wajah di antara mereka.
"Om Leo?" sapa Rinda memastikan kalau dirinya tidak salah dalam mengenali orang.
Leo tersentak kaget di saat gadis yang ada di depannya saat ini mengenali dirinya.
"Siapa?" tanya Leo dengan sedikit bingung. Pria itu pun memperhatikan penampilan Rinda.
"Ck! Belum ada sepuluh menit udah dilupain peringatan dari gue. Memang harus lapor Papa ini. Biar Om Leo dipecat dengan kasus menistakan menantu satu-satunya keluarga Bagaskara," ucap Rinda santai namun terdengar begitu mengerikan di telinga Leo.
"Ah, Nona Rinda. Maaf, saya tidak mengenali anda. Karena ini pertemuan pertama kita," ucap Leo dengan nada merendah. Karena dirinya masih membutuhkan pekerjaan ini.
Rinda mengangguk. "Dimaafkan, Om. Ya udah, di mana ruangan Mas Ghani? Gue capek banget, pingin mandi dulu sebelum ketemu sama dia. Bisa, Om?" tanya Rinda yang merasa tubuhnya memang butuh mandi. Karena tidak ingin jika terjadi sesuatu hal yang mereka rindukan, sedang keadaan tubuhnya dalam keadaan tidak siap.
"Bisa, Nona. Mari, saya antar," sahut Leo sangat ramah dan tersenyum.
Padahal di dalam hatinya pria itu mengumpat kesal.
__ADS_1
'Gila aja Ghani nikahin bocil. Mana nyebelin banget anaknya. Tapi kalau dilihat liat, menggemaskan juga. Pantes itu anak bucin parah. Rasanya kali liat wajahnya yang ikut itu emang bikin pingin gigit terus,' batin Leo. Di mana pria itu langsung menggeleng, mengusir pikiran liarnya.