
Bab. 61
Hari kelulusan Ghani pun tiba. Jika itu hal yang ditunggu-tunggu oleh kebanyakan siswa, namun tidak untuk Ghani.
Pria itu dibuat dilema oleh pilihan yang sangat sulit menurutnya. Betapa tidak, jika ia ternyata diterima di universitas yang ada di Amsterdam. Besar kemungkinan dirinya harus rela hidup berpisah dengan sang istri.
Hal itu juga yang membuat dirinya tidak seperti biasa. Lebih banyak termenung dan melamun. Bahkan pada saat Rinda bertanya kepadanya pun tidak begitu Ghani respon.
"Kak, kamu kenapa sih?" tanya Rinda yang entah sudah ke berapa kalinya. Karena sedari tadi tidak mendapatkan respon dari Ghani.
Sangking kesalnya Rinda, gadis itu mencubit lengan suaminya yang saat ini tengah duduk di depannya. Bahkan makanan yang tadi di pesan pun belum disentuh sedikit pun oleh Ghani.
"Kalau tetep nggak digubris, aku pulang sendiri aja nanti sama Felisha," ucap Rinda mengancam Ghani setelah mencubit lengan suaminya.
Mendengar hal tersebut, Ghani terkesiap kaget.
"Jangan, Yaang!" sahutnya dengan nada begitu tinggi. Membuat beberapa siswa yang ada di sekitar mereka pun menoleh kaget.
__ADS_1
Bagi siswa di SMA Dahlia, bukan hal asing atau baru lagi melihat kebucinan mantan ketos mereka. Terlebih lagi mereka selama ini sering kali tampil berdua. Bukan bukan. Lebih tepatnya Ghani yang selalu mengantar dan menjemput Rinda hingga di depan kelasnya. Tidak jarang juga terkadang sampai di tempat duduk Rinda.
"Lagian, dari tadi aku dicuekin mulu. Nyebelin banget jadi orang," protes Rinda dengan muka yang cemberut.
Cepat-cepat Ghani meraih tangan Rinda dan menggenggamnya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, iya ... enggak lagi. Tadi kamu bilang apa, Yaang? Mau punya anak sekarang? Hmm? Berapa? Dua, tiga, empat, atau enam sekalian?" goda Ghani sembari tersenyum nakal ke arah Rinda.
Membuat wajah Rinda tersipu dan langsung menepis tangan Ghani yang tengah menggenggam tangan nya.
"Apaan sih kamu, Kak!" kesal Rinda yang dibalas kekehan oleh Ghani.
"Aku serius, Yaang," ucap Ghani menatap serius ke arah Rinda.
"Kamu lupa ya, Kak? Kalau aku masih sekolah?" tanya Rinda sembari menarik ujung hidung suaminya dengan gemas.
Pernikahan mereka sudah berjalan tujuh bulan. Dan hubungan penyatuan jiwa dan raga tetap berjalan dengan sangat lancar sesuai jadwal yang mereka sepakati.
__ADS_1
Beruntung, setelah kejadian di awal yang tanpa pengaman itu tidak membuahkan hasil. Rinda sangat senang akan hal tersebut. Karena itu artinya dirinya masih bisa melanjutkan sekolah dengan normal.
Namun, kenapa sekarang pria yang duduk di depannya saat ini malah mengatakan ingin punya anak secepatnya.
"Kamu bisa Home Schooling nanti, Yaang. Kan sama aja," bujuk Ghani.
Bukan karena tidak sanggup hidup berjauhan dengan istrinya. Akan tetapi Ghani takut kalau sampai Rinda berpaling dari nya.
Rinda yang gemas dengan permintaan suaminya pun, mengarahkan tangannya ke depan. Meremas mulut Ghani yang bicara tanpa dipikir terlebih dulu.
"Kalau ngomong ini dipikir dulu dong, Kak. Masa iya aku belum genap dua puluh tahun udah disuruh punya anak? Nggak mau!" tolak Rinda.
Gadis itu memicingkan matanya ke arah Ghani. Menelisik raut muka suaminya yang sepertinya sedang ada masalah.
"Kamu kenapa sih, Kak? Lulus dengan nilai tertinggi, tapi kok keliatannya nggak seneng banget. Malah permintaannya aneh-aneh," tanya Rinda heran. Kemudian gadis itu teringat mengenai beasiswa bagi murid yang lulus dengan nilai sempurna. "Oh, ya. Kudengar nilainya yang tinggi bakalan dapat beasiswa, kan? Kak Ghani dapat tawaran apa enggak?"
Deg!
__ADS_1
Ghani tersentak dengan pertanyaan Rinda. Itu artinya gadis ini belum mengetahui jika dirinya keterima di salah satu universitas yang ada di Amsterdam.