Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Konsekuensi Hamilin Istri


__ADS_3

Bab. 74


Satu tahun telah berlalu dari Rinda yang menyusul Ghani ke Amsterdam. Mereka tidak lama berada di sana dan terpaksa Rinda menunda keinginannya untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi.


Padahal wanita itu sudah mengantisipasi dengan membawa pil KB saat menyusul suaminya. Namun ternyata niatannya untuk menunda lebih dulu terbaca oleh Ghani. Dengan licik nya pria itu menukar pil KB dengan vitamin penunjang kesuburan rahim. Dan yang membuat Rinda terkecoh ialah, bungkus kedua pil itu hampir sama. Jika tidak dilihat dengan teliti, mungkin tidak menemukan perbedaannya.


Tepat di bulan ke tiga Rinda berada di sana menemani sang suami, dia nyatakan positif hamil. Dan sekarang ini usia kandungannya mencapai trimester akhir. Bahkan sudah mendekati HPL.


Tidak ada yang berubah dalam diri Rinda semasa hamil. Kecuali hanya pada perutnya saja. Untuk lengan dan bagian tubuh lainnya, masih terbilang normal. Sehingga wanita itu lebih terlihat seperti seseorang yang mengalami busung lapar. Karena hanya bagian perutnya saja yang membesar.


Apakah Ghani selama ini nyaman-nyaman saja? Oh ... jelas saja tidak! Pria itu sepertinya tidak hanya dikerjai oleh istrinya sendiri. Namun juga babang bayi yang ada di dalam kandungan sang istri.


Ghani seperti seorang suami pada umumnya di saat sang istri hamil. Muntah-muntah bahkan mengidam pun sempat Ghani rasakan. Bahkan pria itu kembali menekuni dunia balap. Meskipun tidak tanding lagi dengan club lain.


Tetapi, rasa-rasanya kecintaannya pada motor sport nya semakin besar. Bahkan hal itu pun juga dirasakan oleh Rinda. Sampai-sampai membuat mama mertua dan juga ibunya sering kali dibuat pusing jika sepasang suami istri itu mulai membeli motor sport yang baru.

__ADS_1


"Sayang ... udah, dong. Jangan beli-beli lagi," pinta mama Ayumna ketika melihat menantunya sibuk memilih motor yang dia suka.


Meskipun tidak bisa mengendarai sendiri, karena tinggi tubuhnya yang tidak memungkinkan serta memang Ghani melarang Rinda mengendarai motor jenis seperti itu. Namun Rinda selalu ingin menambah koleksi motornya.


"Ini yang terakhir deh, Ma. Rinda janji nggak bakalan minta belikan lagi," rengek Rinda dengan tatapan penuh mohon.


Tangan wanita itu tidak hentinya mencubit pinggang Ghani tanpa sepengetahuan mertuanya. Memberi kode pada sang suami, kalau ia sangat menginginkan motor yang sekarang ini ada di hadapan mereka.


Ghani menghela napas. Sebenarnya ia sendiri juga merasa aneh dengan perubahan sifat sang istri. Namun, lagi dan lagi mamanya selalu mengingatkan kalau hal seperti itu memang sering terjadi pada ibu hamil. Bahkan dirinya juga sempat pernah mengalaminya sendiri.


"Bukan masalah belinya, Sayang. Tapi itu motor yang di rumah mau di apain? Mau buka dealer sendiri? Hmm?"


Mendengar itu Rinda meringis ke arah mama mertuanya. Beruntung tidak ada ibunya di sini. Kalau ada, sudah pasti ia di omelin habis-habisan.


Di dalam perjalan pulang, Rinda tampak begitu diam dan cemberut. Bahkan ketika Ghani terus mengajaknya berbicara pun sama sekali tidak Rinda hiraukan.

__ADS_1


"Yaang ... jangan diemin aku kayak gini dong. Mau apa? Hmm? Motor yang tadi?" tanya Ghani bingung sendiri jika sudah Rinda diam seribu bahasa seperti ini.


"Ingat pesan dokter loh, Yaang. Nggak boleh marah-marah. Nanti dedek yang ada di dalam perut sedih loh," ingat Ghani yang tak habis akal untuk bisa membuat Rinda mau bicara lagi kepadanya.


Mereka pulang dari pusat belanja terbesar yang ada di Jakarta dengan menggunakan mobil yang berbeda. Karena keperluan calon cucu pertama di keluarga Bagaskara tersebut hampir satu mobil penuh.


"Yaang ..." panggil Ghani sembari mengusap tangan Rinda. Namun dengan segera ditepis oleh wanita itu.


Rinda meliriknya tajam.


"Ini semua gara-gara kamu, Mas! Kalau saja kamu nggak hamilin aku, aku nggak bakalan pingin aneh-aneh. Terus tadi pas aku minta motor yang harganya hanya dua ratus tujuh puluh empat juta rupiah aja nggak kamu belikan. Padahal itu bukanlah apa-apa untuk kamu kan, Mas? Kamu emang udah nggak sayang sama aku. Kenapa? Karena badanku tambah gendut kayak gini? Hah! Atau jangan-jangan uang hasil kerja kamu selama ini kamu berikan ke selingkuhanmu? Iya?" tuduh Rinda dengan segala pemikirannya. "Kamu emang udah nggak cinta sama aku lagi, Mas. Semuanya kamu kasih ke wanita lain, kan?" lanjut Rinda.


Tangisnya pecah seketika. Membuat Ghani yang tengah menyetir pun hanya bisa menghela napas pasrah dan menulikan telinganya. Sebab, jika ia bantah, maka tuduhan yang lebih parah lagi akan bermunculan dari mulut wanita yang ada di sampingnya.


'Sabar, Gha ... sabar. Ini konsekuensi buat lo yang udah seenaknya hamilin dia tanpa dibicarakan dulu. Terima aja udah.' batin Ghani menguatkan dirinya sendiri ketika Rinda seperti ini jika kemauannya tidak dituruti.

__ADS_1


__ADS_2