
Bab. 72
"Tunggu tunggu, Mas!" cegah Rinda ketika milik Ghani baru saja dibebaskan dari celana.
Mata Rinda membulat, gadis itu bahkan reflek mundur dari tempatnya meskipun itu sangatlah tidak mungkin. Karena sofa yang mereka tempati saat ini tidak lah cukup lebar untuk pergerakan mereka yang lebih leluasa lagi.
Ghani mengernyit di kala sang istri menghentikan pergerakannya. Padahal dirinya sudah sangat siap untuk memasuki rumah yang selama ini ia tinggalkan demi menempuh masa depan untuk mereka berdua.
"Kenapa lagi, Yaang? Pengaman?" tanya Ghani. Ingat betul kebiasaan Rinda yang sering mengingatkan dirinya dulu sebelum mereka melakukan sesi penyatuan jiwa dan raga.
"Bukan itu, Mas. Tapi anu ..."
Rinda bingung sendiri mau mengutarakannya seperti apa. Yang jelas, milik suaminya bertambah besar dari terakhir kali ia lihat hampir satu tahun yang lalu. Mengerikan. Batin Rinda.
"Nggak usah pakai pengaman ya, Yaang? Nggak enak," tawar Ghani. Bukan bukan. Lebih tepatnya itu pernyataan Ghani.
Rinda menggeleng. Sama sekali tidak mempermasalahkan suaminya memakai pengaman atau tidak. Karena dirinya membawa pil KB yang ia dapat dari mama mertuanya.
Akan tetapi yang menjadi pertimbangan Rinda ialah, apakah mungkin milik suaminya itu bisa masuk ke dalam miliknya. Sedangkan ukurannya saja sangat jauh berbeda.
__ADS_1
"Bukan itu, Mas," rengek Rinda sembari menggigit bibir bawahnya. Menahan sesuatu ketika Ghani mulai mengusapkan ujung miliknya di bibir Rinda bagian bawah.
Sementara Ghani sudah tidak sabar untuk menyambangi milik Rinda yang tampak berwarna pink kemerahan. Di tambah lagi tadi Ghani sempat mengoyak dengan mulutnya.
"Apa lagi sekarang, Yaang? Jangan bilang kalau mau mau pipis atau segala macam?"
Meskipun itu terjadi seperti dulu pernah Ghani alami, di kala miliknya berada di tingkat tegangan yang sangat kuat, tiba-tiba saja Rinda bilang ingin pipis. Detik itu juga tegangan Ghani menurun begitu anjloknya.
Rinda menggeleng bibir yang dia gigit sendiri. "Mi-milik kamu kenapa tambah besar, Mas?" tanya Rinda takut. "Nggak bisa dikecilin kayak dulu? Dulu aja udah XL loh, Mas. Udah bikin aku sobek. Masa sekarang mau kamu sobekin la—aakhhhh!"
Pekik Rinda di saat tanpa aba-aba lebih dulu ketika Ghani mendorong tubuhnya ke arah Rinda, hingga sempurnalah penyatuan jiwa dan raga mereka. Membuat Rinda merintih dalam desahaan. Bahkan jari jemari Rinda meremas bahu Ghani dengan sangat kuat. Merasakan nyeri di bagian paling pribadinya.
Rintihan bercampur suara desahaan kini memenuhi ruang kerja Ghani. Jangan tanyakan lagi apakah ruangan Ghani masih rapi arau tidak. Bahkan beberapa berkas yang tadi tertata rapi di atas meja kerja, kini berserakan di lantai akibat digeser oleh pemiliknya sendiri.
Ghani benar-benar tidak memberi Rinda jeda sedikit pun. Pria itu menyalurkan rindunya yang begitu dalam kepada sang istri. Serta tidak hanya di sofa saja mereka melakukan itu. Di beberapa titik ruangan, Ghani manfaatkan dengan sebaik mungkin dsn selalu membuat Rinda mendesaahkan namanya.
"Mas, udah dulu. Itu ada telpon. Angkat dulu gih!" ucap Rinda dengan napas terengah. Karena Ghani masih memacunya di bawah sana.
"Biarin aja, Yaang. Ini lebih penting dari apapun." balas Ghani. Karena masih ada sesuatu yang ia kejar. Yakni menuju puncak.
__ADS_1
Sementara Rinda yang merasa kakinya sungguh sudah lemas, serta kelelahan dalam melayani suaminya kali ini, merasa ada sedikit angin segar di saat sebuah telpon masuk ke ponsel suaminya.
"Di angkat dulu, Mas. Siapa tau penting," bujuk Rinda dengan harapan suaminya menyudahi apa yang mereka lakukan.
Ghani mengeram kesal. Kenikmatannya terganggu gara-gara dering dari ponselnya yang terus berbunyi.
Dengan kasar Ghani meraih ponselnya dan semakin mengeratkan rahangnya di kala nama Leo muncul di layar.
"Ada apa!" tanyanya dengan nada tinggi.
"Lima menit rapat akan segera dimulai. Lo jangan enak enakan mulu di dalam," ingat Leo bisa menebak apa yang Ghani lakukan dengan istrinya. Sampai-sampai mengunci ruangannya dari dalam.
"Ck!" decak Ghani. "Undur aja sampai jam tiga. Kurang gue kalau satu jam doang," ujar Ghani yang kemudian menutup sambungan di antara mereka. Membuat Leo mengumpat kesal dan yang jelas tidak bisa Ghani dengar lagi.
Rinda menelan salivanya dengan susah payah. Matanya melebar menatap pria yang mengungkung dirinya di atas meja dengan satu kakinya terjuntai ke bawah. Sedangkan yang satu lagi berada di pundak Ghani.
'Gila! Beneran nggak bisa jalan lagi ini gue. Ini aja udah jalan satu jam, dia malah bilang rapat jam tiga. Alamat bengkak deh anu gue.' batin Rinda.
Namun, tidak berani menolak. Sebab, semakin Ghani ditolak, pria itu akan benar-benar menambah hukumannya.
__ADS_1
Ingat, ya. Yuta nggak nanggung loh😚