
Bab. 47
Keesokan harinya, Rinda yang sudah selesai menyantap sarapannya pun dengan segera pamit kepada mertuanya. Tiba-tiba saja ia mendapat pesan dari Felisha bahwa hari ini ada ulangan dadakan dari guru killer yang mereka idolakan.
Aneh, tetapi itulah kenyataannya. Meskipun guru itu sangat ... katakanlah kejam. Akan tetapi karena parasnya yang tampan dan tipe ideal untuk digandeng ketika datang ke kondangan, sehingga banyak dari murid SMA Dahlia pun mengidolakannya. Tidak terkecuali Rinda dan Felisha. Meskipun definisi mengenai idola mereka sangat berbeda.
"Kenapa buru-buru banget, Sayang? Kan ini masih setengah tujuh loh," tanya mama Ayumna mengikuti sang menantu keluar dari rumah.
Sedangkan Rinda tengah memundurkan motor maticnya yang semalam diantar ke rumah oleh orang suruhan Ghani.
"Iya, Ma. Ada ulangan dadakan ternyata," jawab Rinda yang tampak kebingungan. Karena tepat di belakang motornya ada motor Ghani di sana.
"Bisa?" tanya mama Ayumna yang seolah mengerti kesulitan yang Rinda alami.
Sedangkan Rinda menoleh ke belakang. Menarik sudut bibirnya ke atas hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Hehe ... enggak, Ma. Ada motornya Kak Ghani. Rinda nggak kuat mundurinnya," adu Rinda sembari tersenyum kikuk.
__ADS_1
Mama Ayumna sendiri memaklumi hal tersebut. Karena postur tubuh Rinda yang tidak besar-besar amat, kecil kemungkinan kalau gadis itu kuat.
"Minta tolong sama suamimu duku, gih. Atau kalau nggak kalian berangkat bareng aja, Sayang," usul mama Ayumna.
Cepat-cepat Rinda menggelengkan kepala sembari menggerakkan tangannya yang mengarah ke depan.
"Enggak-enggak, Ma. Rinda bawa motor aja sendiri. Ngeri banget kalau berangkat bareng Kak Ghani. Udah, Rinda nggak mau ngulang lagi," ujar Rinda yang menolak dengan sangat tegas usulan mama mertuanya.
"Loh, kenapa Sayang?" tanya mama Ayumna lagi dengan alis yang hampir bertaut.
"Fans nya Kak Ghani nyeremin, Ma," ucap Rinda dengan suara lirih. Membuat mama Ayumna tersenyum dan tidak heran dengan apa yang barusan dikatakan oleh menantunya.
"Jangan dengerin dia, Ma. Bohong!" sahut seseorang yang baru keluar dari rumah dan kini menghampiri mereka.
Rinda dan mama Ayumna menoleh ke arah Ghani.
"Aku jujur, Kak. Enggak bohong. Tanya aja tuh murid yang ada di sekolah. Arau kalau perlu, makai vote," elak Rinda yang memang benar adanya. "Apalagi kan Kak Ghani posisinya juga lumayan di sekolah. Beuuhhh ... cewek-cewek di sana pada mimpiin bisa gantiin posisi Kak Musi!" ucap Rinda keceplosan dan langsung mendapat tatapan tajam dari Ghani.
__ADS_1
"Termasuk kamu juga ya, Sayang?" timpal mama Ayumna.
Rinda tersenyum, membuat Ghani merasa lega. Karena paling tidak istrinya itu mempunyai rasa padanya. Pikir pria itu.
Akan tetapi, di detik selanjutnya gadis itu justru menggeleng dengan cepat.
"Rinda nggak suka sama sekali, Ma. Malahan kesel yang ada," jawab Rinda dengan sangat jujur sekali.
Membuat Ghani melotot, menatap tidak percaya ke arah gadis yang sudah halal untuk dirinya.
Sementara mama Ayumna malah tertawa terbahak mendengar jawaban dari menantunya. Menurut mama Ayumna, Rinda merupakan gadis yang jujur dan sangat polos. Lagi pula, tidak ada orang yang bisa mencintai dalam kurun waktu yang sangat singkat. Contohnya saja ia dengan sang suami dulu.
"Rindaaa ..." geram Ghani menatap datar ke arah Rinda. Tidak terima jika istrinya berkata segitu jujurnya di depan matanya sendiri.
"Apa, Kak? Orang aku di sini, make manggil-manggil. Buruan di minggirin gih motornya. Aku ada ulangan dadakan soalnya," pinta Rinda. Mengabaikan raut muka Ghani yang ditekuk.
Sementara mama Ayumna berusaha menahan senyumnya. Rupanya, putranya yang sangat cuek dan menolak ketika dijodohkan, tetapi malah jatuh lebih dulu pada pesona gadis polos dan apa adanya ini.
__ADS_1