Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Gue Suami Lo!


__ADS_3

Bab. 40


Di kala menambah kecepatan karena tidak ingin keduluan hujan yang turun semakin deras, Ghani seperti melihat sosok yang dia cari tengah berjongkok menatap ke arah motor maticnya.


Sontak membuat Ghani memutar arah laju kendaraannya dan mendekat ke arah yang ia duga itu adalah istrinya.


"Rinda?" panggilnya agar tidak keliru nanti saat ia benar-benar turun dari motornya.


Gadis itu mendongak mendengar namanya di panggil. Lalu menatap ke arah pria yang duduk di atas motor sport nya. Gadis itu tampak menelisik, siapa orang yang ada di depannya.


"Siapa?" tanya Rinda. Karena wajahnya yang tertutup helm juga mengenakan hoodie. Namun, jika di lihat dari celananya, sepertinya orang di depannya ini masih sekolah.


"Ck!"


Terdengar decakan dari pria itu dan kemudian dia langsung turun.


"Sama suami lo sendiri nggak kenal," keluh pria itu sembari membuka helmnya. Terlihatlah wajah kesal sari pria tersebut.


Bukannya merasa bersalah, Rinda justru menatapnya sinis.


"Ya bukan salah gue, lah. Orang Kak Ghani sendiri yang nyamar. Mana bisa dikenalin kalau wajahnya aja nggak keliatan sama sekali," balas Rinda yang tak kalah ketus.

__ADS_1


Ghani menghela napas. Jika berbicara dengan gadis yang satu ini, kenapa ucapannya selalu dibalas dan dibantah. Membuat semakin geram saja.


"Paling nggak ya kenalin suaranya," ujar Ghani sembari menaruh helmnya di atas tangki motor bagian depan. Lalu menatap ke arah motor Rinda.


"Ya mana bisa. Suara manusia itu terkadang ada yang sama. Apa lagi ini ketutup sama helm. Nggak jelas banget jadi orang."


Ghania menatap Rinda sambil mengatupkan rahangnya. Ingin sekali menjitak kepala gadis yang ada di hadapannya sekarang. Mungkin, bukan Rinda namanya jika tidak membantah.


"Kenapa motornya?" tanya Ghani yang memilih mengabaikan ucapan Rinda.


Rinda pun ikut menoleh ke arah motornya. Wajahnya langsung berubah cemberut.


Lagi dan lagi Ghani dilatih kesabarannya oleh gadis yang sialnya merupakan istrinya sendiri.


"Mogok?" tanya Ghani lebih jelas lagi. Pria itu masih bisa sabar untuk sekarang. Tetapi tidak tahu jika di menit berikutnya masih bisa sabar atau tidak.


"Iya, ngambek. Nggak mau jalan sampai sini setelah gue ajakan keliling dari tadi," ujar Rinda sambil berjongkok kembali.


Ghani mengerutkan keningnya. "Keliling?" ulangnya mengenai perkataan Rinda barusan.


Rinda yang sudah berjongkok di bawah pun mendongak ke atas. Menatap wajah Ghani dengan menyengir bodoh.

__ADS_1


"Iya, karena cari alamat rumah lo nggak ketemu ketemu," jawabnya yang semakin membuat Ghani ingin sekali mengarungi gadis yang sangat langka menurutnya.


"Terus gunanya hape lo buat apa?" sebisa mungkin Ghani tidak terpancing emosinya jika berhadapan dengan makhluk yang satu ini.


Rinda menatap ke arah sakunya lalu mengambil ponselnya. Menghidupkan layar, namun tetap tidak mau menyala.


"Mati," ucapnya begitu santai sambil mengarahkan ponselnya ke arah Ghani.


Entah, Ghani harus mengucap apa lagi mengenai perasaannya kali ini. Ia benar-benar marah, akan tetapi juga merasa kasihan pada Rinda. Pasti gadis itu merasa takut sedari tadi berada di sini sendirian.


"Berdiri!" titahnya dengan suara tegas. Tidak menatap ke arah Rinda. Karena takut kalau sampai ia melihat wajah tam bersalah gadis itu, tangannya akan lepas kendali.


"Hah? Ngapain? Gue capek dari tadi berdiri terus, Kak! Nggak ma—akhh!"


Gemas dengan perlawanan dari Rinda sedari tadi, bukan hal sulit bagi Ghani mengangkat tubuh gadis itu. Ia tidak peduli Rinda berteriak seperti ini. Dan mendudukkan Rinda di atas motor sport nya dengan posisi duduk miring.


Rinda sendiri terkejut tiada banding. Tidak menyangka kalau Ghani akan mengangkat tubuhnya dan menaruh dirinya di atas motornya. Di tambah lagi saat ini posisi tangan pria itu ada di sisi kanan dan kiri kakinya juga bertumpu pada motornya. Menatapnya lekat, membuat Rinda menelan salivanya dengan susah. Bukan baper. Melainkan takut kalau pria yang ada di hadapannya ini memakan dirinya di sini.


"K-kak ..."


"Bisa dengerin ucapan gue, nggak? Gue suami lo. Lo wajib nurut apa kata suami." tekan Ghani yang masih mengunci tatapannya dengan Rinda. Jaraknya begitu dekat. Bahkan tubuhnya membungkuk ke arah Rinda.

__ADS_1


__ADS_2