
Bab. 42
"Pegangan, Rinda. Nanti lo jatuh. Mau ngebut, ini!" ingat Ghani. Karena langit tampak semakin gelap.
"Ya udah, jangan ngebut kalau gitu. Kenapa musti dibuat ribet sih!" sahut Rinda sedikit sewot. Sementara tangannya tetap tidak mau berpegangan pada pinggang Ghani.
"Kalau nggak ngebut, nanti keburu deras hujannya," beritahu Ghani lagi.
Pria itu mengurangi laju kendaraannya karena hanya menyetir dengan satu tangan. Sementara tangannya yang satu lagi tengah mencoba meraih tangan Rinda agar mau melingkar di pinggangnya.
"Kan ada jas hujan. Ya udah, make jas aja."
Ghani menghela napas ketika mendengar jawaban dari Rinda. Gadis yang ada di belakangnya saat ini, tidak bisa untuk tidak membantah ucapannya. Hampir kesemuanya Rinda bantah begitu saja. Membuat kepala Ghani ingin pecah.
"Tinggal megang gitu apa susahnya, Rinda?" geram Ghani yang tidak kuasa lagi menahan rasa kesalnya pada Rinda.
"Nggak mau. Nggak biasa," jawab Rinda jujur. Karena memang ia tidak pernah memegang pinggang seorang pria. Kecuali ayahnya sendiri.
"Ck! Kayak lo megang pacar lo gitu loh, Rinda. Anggap aja sekarang lo sedang dibonceng sama cowok lo. Jadi pegangan yang erat. Enggak malah memberi sekat," ujar Ghani menjelaskan.
__ADS_1
Rinda tetap menggeleng. "Enggak bisa. Gue nggak pernah punya cowok, Kak. Jadi ya nggak tau musti gimana!" sewot Rinda yang semakin kesal. "Udah deh, kalau ribet banget, mending gue naik taxi aja," putus Rinda kemudian.
Ghani menarik tuas remnya seketika. Membuat Rinda merosot ke depan dan tubuh bagian depannya membentur punggung Ghani. Gegas, Rinda mendorong punggung Ghani dan dirinya bergeser ke belakang. Ke tempatnya semula.
"Kan! Nggak bisa bawa motor," protes Rinda sembari memukul bahu Ghani.
Sedangkan Ghani masih dalam keterkejutannya. Ada dua hal yang membuatnya terkejut dan tidak percaya saat ini.
Yang pertama, kenyataan jika Rinda tidak pernah pacaran. Dan yang kedua, baru saja ia merasakan sesuatu yang kenyal dan lembut. Namun, terasa begitu nyaman serta menenangkan. Membuatnya ingin merasakannya lagi.
Ghani yang tengah berada di tepi jalan dengan mesin motor yang masih menyala walaupun tidak melaju, pria itu kemudian menoleh ke arah belakang dan memicingkan mata ke arah gadis di belakangnya.
Belum sempat Rinda menjawab, Ghani sudah menarik tuas gasnya dan motor yang mereka tumpangi saat ini pun melaju dengan sangat kencang.
"Huuuuaaaa!"
Teriak Rinda seketika dan secara refleks gadis itu melingkarkan tangannya dengan begitu erat di perut Ghani. Bahkan sampai menyembunyikan wajahnya di punggung Ghani. Ghani bisa merasakan dengan sangat jelas, detak dan hembusan napas Rinda yang menerpa di punggungnya.
Diam-diam Ghani tersenyum puas melihat reaksi Rinda yang seperti ini. Masih dalam keadaan memeluk dirinya. Sepertinya gadis ini sangat takut sekali jika dirinya mengebut seperti sekarang ini.
__ADS_1
Di menit berikutnya, tangan Rinda mencubit geram di bagian perut Ghani.
"Jangan ngebut-ngebut! Gue masih pingin nikah!" teriak Rinda yang tidak berani mengangkat wajahnya dari punggung Ghani.
Ghani berdecak dan melirik jengah ke arah Rinda yang ada di belakangnya.
"Lo udah nikah!" ingat Ghani.
"Iya juga, ya. Tapi kan gue belum kawin. Makanya jangan ngebut ngebut, Kak!" pinta Rinda lagi tanpa menelaah ucapannya sendiri.
"Nanti malam dikabulin. Sekarang pegang yang erat, biar cepet sampai rumah," sahut Ghani dengan suara beratnya.
Entah, perasaan Rinda atau memang suara Ghani yang berat-berat basah. Tetapi Rinda menyadari ada sesuatu yang tidak benar di sini.
"Eh, apanya yang dikabulin?" tanya Rinda sedikit bingung. Gadis itu mengangkat kepalanya dari punggung Ghani dan sedikit mengintip pria itu dari samping.
Ghani melepas tangannya sebelah kiri dan mengarah ke arah perutnya sendiri. Menumpukan tangan di atas tangan Rinda. Lalu mengusap lembut di sana.
Merasa ditatap oleh Rinda, Ghani menoleh ke samping.
__ADS_1
"Dikawininnya," ujar Ghani dengan sedikit menyengir. Membuat Rinda hampir terjatuh dari tempatnya. Beruntung, tangannya masih dipegang oleh Ghani.