Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Memberi Kejutan


__ADS_3

Bab. 66


Ya. Selama satu tahun ini mereka memang saling menjaga komunikasi mereka dengan sangat baik. Bahkan Ghani juga sering menemani Rinda belajar, meskipun pria itu juga disibukkan dengan kegiatannya. Namun, tetap Rinda yang menjadi prioritas bagi Ghani.


"Yaang ... kamu lebih mentingin sama temen kamu dari pada telponan sama aku?" tanya Ghani lagi. Tampak sekali raut kegusaran di wajah pria yang kini memenuhi tampilan layar ponsel Rinda.


Sedangkan Rinda berusaha sekuat mungkin untuk tidak tertawa. Jujur saja, pria yang setahun lebih tua darinya tersebut tampak begitu menggemaskan jika seperti ini. Berbeda sekali dengan di media berita yang menampilkan sosok generasi Bagaskara yang dingin dan datar. Juga berbagai prestasi yang di raihnya di sana.


Walaupun bisa saja Ghani pulang tiga bulan sekali, namun pria itu tidak melakukannya. Semua itu Ghani lakukan untuk mempersingkat waktunya berada di sana.


"Cuma sebentar saja loh, Mas. Palingan cuma satu jam. Boleh, ya?" tanya Rinda dengan wajah memelas pada Ghani. Mengedipkan mata beberapa kali, mencoba untuk merayu sang suami.


Tampak Ghani mengusap wajahnya dengan sangat kasar.


"Johan pulang, kan?" tanya Ghani sebelum menjawab pertanyaan Rinda.

__ADS_1


Rinda tampak terdiam. Dia tahu Johan pulang kemarin lusa dari Felisha. Sebab, pria itu merupakan pacar Felisha saat ini.


"Iya. Kenapa, Mas?" balas Rinda dengan raut tidak mengerti.


"Ya udah. Aku suruh Johan jaga kamu," putus Ghani kemudian. Membuat mata Rinda melebar tidak percaya.


"Loh, ya nggak bisa dong, Mas. Mereka lagi lepas kangen loh pasti. Masa aku dijadiin obat nyamuk. Enggak, ah!" tolak Rinda dengan bibir manyun.


"Mau atau nggak sama sekali." tekan Ghani dengan wajah serius.


"Iya," balas Rinda dengan nada lirih. Raut mukanya pun juga berubah. Tidak seceria tadi.


"Kamu marah? Hmm?" tanya Ghani yang menangkap perubahan raut wajah sang istri.


Sementara Rinda memilih diam. Tidak menjawab. Suasana itu berlangsung beberapa menit, hingga pada akhirnya Rinda memutuskan untuk mengakhiri sambungan telepon mereka.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, Mas. Aku mau tidur. Ngantuk banget," ucap Rinda. Tidak ada senyuman di bibir gadis itu.


"Yaang, tunggu Yaang! Kamu marah sama aku? Hmm? Perihal aku minta Johan buat awasin kamu atau karena aku nggak datang pas lulusan kemarin?" tanya Ghani memperjelas di mana letak kesalahannya.


Rinda tetap diam. Tidak mengelak atau mengiyakan.


"Yaang, maaf, kalau masalah lulusan kamu, karena aku nggak bisa ambil cuti. Apa lagi peresmian perusahaan cabang yang ada di sini nggak bisa diwakilkan. Kalau untuk masalah Johan, itu karena aku nggak mau kalau ada yang ganggu kamu, Yaang. Seenggaknya Johan yang bantu aku ngawasin kamu. Semua demi kebaikan kamu juga, Yaang. Atau aku suruh pengawal yang ada di rumah buat temenin kamu? Ya?" jelas Ghani. Berusaha untuk membujuk sang istri agar tidak merajuk lagi kepada dirinya.


Sebenarnya Ghani ingin ada di sisi Rinda di saat hari penting istrinya tersebut. Namun, posisinya sebagai pengganti papa Langit, tidak bisa Ghani wakilkan pada siapapun. Termasuk asistennya, Leo.


Sedangkan Rinda tetap diam. Tidak memberi respon apapun.


"Udah, Mas. Aku ngantuk," ujar Rinda yang kemudian langsung memutuskan sambungan video call di antara mereka.


Tidak tahu saja Rinda, jika perbuatannya itu membuat Ghani benar-benar kelimpungan. Di tambah lagi Rinda langsung mematikan ponselnya. Sehingga tidak bisa dihubungi balik.

__ADS_1


__ADS_2