
Bab. 55
Mumpung berada di luar dan tengah ditunggu oleh penjual serabi, tentu saja Ghani tidak akan menyiakan kesempatan.
"Kak, aku beli serabinya dulu. Nggak enak, Abangnya nungguin kita dari tadi," ucap Rinda mencoba mengalihkan topik.
Sebenarnya bukan karena ia tidak siap. Semenjak Ghani mempublishkan hubungan mereka sebagai kekasih, sejujurnya Rinda juga sudah menyerahkan seluruh hidupnya pada Ghani. Belajar mencintai dan memahami suaminya, serta menjadi seorang perempuan yang disukai oleh Ghani.
Akan tetapi, untuk urusan yang satu itu, bukan Rinda tidak siap akan rasa sakit yang kata orang-orang tidak tertahan. Namun, takut kalau sampai dirinya hamil di usia yang sangat muda. Karena mereka sama-sama belum berpengalaman. Kalaupun mengkonsumsi obat atau menggunakan alat kontrasepsi lainnya, Rinda juga tidak berani dengan dampak yang akan didapatnya nanti.
"Yaaangg ..." rengek Ghani tahu jika istrinya sedang menghindar.
Rinda memilih menjauh dan segera memesan serabi. "Di bungkus ya, Bang. Kuahnya dipisahin aja. Empat," ujar Rinda.
Sementara Ghani tidak lagi mendesak. Pria itu menatap kesal ke arah gadis yang sudah membuatnya benar-benar tergila gila dengannya. Tidak melihat Rinda satu jam saja, membuatnya begitu frustasi. Entah, bagaimana cara dirinya nanti jika sampai ia berangkat ke Amsterdam untuk melanjutkan kuliah. Mungkin Ghani memilih untuk menunda agar bisa pergi bareng bersama sang istri.
"Siap, Neng!" sahut Abang itu dengan penuh semangat. Sepertinya suka sekali jika melihat pasangan muda tengah mesra-mesranya seperti dua remaja yang dia lihat sekarang ini.
__ADS_1
Rinda memilih berdiri di samping penjual serabi, karena ia pasti akan ditagih oleh suaminya perihal permintaan yang sebenarnya sudah berlangsung selama satu minggu ini.
Entah kenapa, Rinda sendiri sedikit heran dengan Ghani. Satu minggu ini pria itu terus menerus meminta hal yang sama.
Meskipun tahu kalau menolak permintaan suami itu perbuatan yang tidak dibenarkan. Akan tetapi kondisi dan situasi mereka saat ini sangatlah rawan. Di tambah lagi Rinda masih kelas sebelas. Masih butuh satu tahun lagi untuk lulus.
Setelah mendapatkan apa yang dia pesan dan membayarnya, baru Rinda mendekat ke arah Ghani yang masih betah berada di atas motor sport nya.
"Udah, Kak. Pulang, yuk!" ajak Rinda. Namun tidak mendapat balasan dari Ghani.
"Mau pulang sekarang, atau aku naik ojek lain?" tanya Rinda sengaja menggoda suaminya. Karena Ghani tipe pria yang tidak suka berbagi miliknya. Entah apapun itu.
"Nggak boleh!" sahut Ghani cepat. Menatap tajam ke arah Rinda.
Bukannya takut, Rinda justru tertawa melihat sikap Ghani yang seperti anak kecil. Tidak sepeti Ketos jika sedang berada di sekolah.
"Loh, udah nggak ngambek lagi?" goda Rinda menahan tawa. Membuat Ghani mengeram gemas.
__ADS_1
"Beneran aku makan si sini loh kamu, Yaang!" ancam Ghani.
Rinda menggelengkan kepalanya cepat. Tidak mau kalau sampai Ghani lepas kendali.
"Iya, iya. Nggak bercanda lagi. Ya udah, ayo pulang sekarang, Kak. Udah pingin banget makan serabinya," ujar Rinda.
Ghani memicingkan matanya ke arah Rinda. Menatap menelisik gadis yang ada di depannya saat ini.
"Kamu ngidam, Yaang?" tanya Ghani dengan wajah serius.
Membuat Rinda melotot seketika. Lalu menjerit di saat menangkap senyuman tipis di bibir suaminya. Bibir yang selama ini selalu mengajari dirinya cara berpagut dengan baik dan benar.
"Kaaakk ....!" pekik Rinda karena sempat berpikir ke arah sana. "Anuin aja belum. Mana ada ngidam ngidam kek gitu, ih! Nyebelin banget jadi orang," kesal Rinda. Memberi cubitan di perut dan lengan Ghani.
Sedangkan Ghani terkekeh melihat wajah Rinda yabg bersemu. Malu sendiri dengan pikirannya yang mengarah ke sana.
"Makanya, ayo!" ajak Ghani lagi seraya memainkan alisnya dan menatapnya genit.
__ADS_1