Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Gaya Di Cafe


__ADS_3

Bab. 63


Ghani tersenyum ketika mengingat Rinda yang begitu kesal sehabis pulang dari cafe nya. Sebab, itu hanya alibi nya saja mengajak Rinda ke cafe. Nongkrong dan berbicara seperti pasangan kekasih pada umumnya. Tetapi justru Ghani mengajak Rinda ke ruangannya dan mereka main di sana.


Tentu, pria itu mencoba bermacam gaya yang ada di imajinasinya. Di mana kalau di dalam kamar tidak bisa dia lakukan. Dan yang lebih nagih, sensasinya sangat berbeda menurut pria yang sekarang ini berusia sembilan belas tahun tersebut. Tiga bulan lagi sudah genap di usia dua puluh tahun.


"Enggak enggak Yaang ... aku nggak apa-apain kamu nanti. Janji deh. Cuma ngobrol aja. Gimana?" ujar Ghani seraya terkekeh sendiri melihat raut kekesalan yang sekarang tampak di wajah Rinda.


"Beneran?" Rinda memastikan agar dirinya tetap bisa jalan dengan normal setelah keluar dari cafe suaminya.


Karena di kejadian sebelumnya, ia sudah sangat malu sama karyawan yang melihatnya sampai di gendong oleh Ghani. Di tambah lagi ia memakai baju milik Ghani yang jelas kedodoran di badannya. Jangan tanyakan bajunya dulu itu ke mana. Rinda ngeri sendiri pas tahu kondisi bajunya yang compang camping atas ulah tangan suaminya yang nakal itu.


Gemas dengan sikap Rinda yang curiga kepada dirinya, Ghani pun menempelkan tangan Rinda di mulutnya. Lebih tepatnya memasukkan salah satu jemari Rinda ke dalam mulutnya dan ia gigit dengan gemas.


"Akhh!" kaget Rinda yang langsung menarik tangannya dan mengibaskan ke udara. Terasa sakit. "Apaan sih, Kak!" sentaknya pada Ghani. Menatap tajam ke arah pria itu.


Bukannya merasa bersalah, Ghani justru terkekeh dan menarik tangan Rinda lagi lalu ia usap lembut serta mengecupnya singkat.


"Gemas aku Yaang sama kamu. Lagian, jadi cewek kom curigaan mulu. Aku suam—hmpp!"


Dengan cepat, Rinda membungkam mulut Ghani karena secara tidak sadar pria itu akan mengungkap status mereka yang sebenarnya. Mana di sekitarnya ada murid yang juga kabur dari acara lepas pisah. Tentu, melepas rindu dengan pasangan masing-masing. Padahal, walaupun nanti tidak bisa bertemu di sekolah lagi, mereka masih bisa main di rumah.

__ADS_1


"Kaaakk ...!" geram Rinda sambil mendelik. Mengingatkan suaminya melalui tatapannya tersebut.


Ghani menghela napas. Padahal dirinya sudah lulus dan bukan lagi murid di sekolah ini setelah dua jam mendatang.


Tidak ingin waktunya terbatas, baik berbicara maupun menyentuh istrinya sendiri, Ghani bangkit dari duduknya. Diikuti tatapan Rinda yang menengadah, menatap dirinya dengan raut bingung.


"Ke mana?" tanya Rinda.


Ghani menarik tangan Rinda hingga gadis itu berdiri. Lalu mengajaknya pergi dari sana.


"Cari toilet," jawabnya asal.


"Eh, Kak! Jangan mulai lagi, deh!" seru Rinda yang mulai panik.


Ghani menoleh ke samping lalu menarik ujung hidung perempuan yang berjalan di sampingnya hingga membekas merah. Sangking gemasnya.


"Ke cafe, Yaang. Kalau di sini terus, kuta nggak jadi ngobrol. Apa-apa musti dikhawatirin. Nggak bebas banget."


Sedangkan Rinda mengusap hidungnya yang terasa panas.


"Ya lagian kamu jawabnya juga aneh, Kak. Mana kutahu kalau mau ke cafe sekarang," sahut Rinda sembari menyerahkan tas kecil yang bertalikan rantai berwarna gold kepada Ghani.

__ADS_1


Ghani menatapnya bingung, namun tetap menerimanya dengan sebelah tangannya yang menganggur.


"Yaang ... masa aku disuruh ba—"


Rinda menoleh cepat. Melirik tajam ke arah Ghani.


"Kenapa? Malu, ya?" tanya Rinda dan mendapat anggukan dari Ghani. "Ya udah, siniin tas aku. Biar aku suruh Kak Johan aja bawain. Dia masih jomblo, kan?" lanjut Rinda dengan mata berbinar. Sengaja sekali menggoda suaminya.


Ghani menghentikan langkahnya seketika. Membuat Rinda otomatis juga ikut berhenti. Ingin melayangkan protes, namun dibuat terkejut oleh tindakan Ghani yang begitu nekad, menurutnya.


"Jangankan tasmu, Yaang. Kamunya aja bakalan aku bawain," ucap Ghani seraya membungkuk. Menaruh tangannya di belakang punggung serta di belakang lutut. Dengan satu gerakan, Rinda sudah berada di dalam gendongannya.


Membuat Rinda melingkarkan tangannya di leher Ghani, dan menyembunyikan wajahnya di bahu pria itu.


"Kenapa? Malu aku gendong, Yaang?" tanya Ghani menahan senyum sembari menatap wajah Rinda yang kini menempel di bahunya.


Rinda menetap Ghani sembari berucap, "buanget!"


Membuat Ghani menahan geramnya. Bisa-bisanya gadis ini malu bersamanya.


"Ck! Memang minta dienakin kamu, Yaang. Baiklah, gaya apa ya yang cocok buat siang-siang gini di cafe? Hmm?" ucap Ghani sambil mengedipkan matanya genit.

__ADS_1


Yuta yakin deh, pas awal baca judul pasti kalian pada keluyuran. Hayo, ngakuuu ... wkwk Eh, udah apa lagi nih? Mumpung Yuta manis. Eh, baik^^


__ADS_2