Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Opertingking


__ADS_3

Bab. 62


Rinda masih menatap suaminya yang belum menjawab pertanyaan darinya. Gadis itu penasaran, walaupun ia bisa menebak. Karena pengumuman itu disampaikan oleh kepala sekolah mereka ketika memberikan sambutan di upacara bendera sebelum hari ujian di mulai. Dan masih melekat dalam ingatannya. Tidak memungkiri juga jika rasa takut itu terbesit dalam diri.


"Mas," panggil Rinda lagi.


Gadis itu sengaja menggunakan panggilan sayangnya jika di rumah kepada Ghani. Dan biasanya pria itu tidak tahan jika Rinda memanggilnya dengan panggilan seperti itu. Sebab, Ghani merasa lebih gemas lagi dari sebelumnya kepada gadis yang sudah tidak jutek jutek amat padanya.


"Sayaaaangg ....!"


Bukan Rinda. Melainkan Ghani yang mengeram menahan rasa gemasnya dan hanya bisa menggantung tangannya di udara. Mereka masih berada di sekolah. Itulah mengapa Ghani tidak bisa langsung memeluk dan melabuhkan beberapa kecupan di wajah imut Rinda. Seperti yang biasa ia lakukan ketika dipanggil seperti itu. Karena Rinda sangat jarang sekali memanggilnya dengan sebutan tersebut. Kecuali kalau ada maunya. Contohnya saja sekarang.


"Mas ... jawab," pinta Rinda dengan tatapan begitu teduh. Malah terlihat semakin menggemaskan di mata Ghani.


"Yaang ... jangan berekspresi seperti minta ku enak enakin. Ini di sekolah loh, Yaang," rengek Ghani yang tidak tahan.

__ADS_1


Meraup wajahnya dengan kasar, lalu menyugar rambutnya ke belakang serta menjambaknya sedikit. Menandakan pria itu seolah benar-benar frustasi. Ini ujian terberatnya dari pada ujian nasional kemarin kemarin.


'Shiit! Menahan sesuatu nggak enak banget, anj*r!' teriak Ghani dalam hati. Karena ia merasa mulai ada yang mendesak di bawah sana.


Sementara Rinda masih dengan posisinya dan juga ekspresinya. Ia akan terus seperti ini sampai pria yang ada di hadapannya tersebut benar-benar memenuhi rasa penasaran di dalam diri.


Ghani menarik napas, laku membuangnya kasar.


"Iya deh, iya. Aku nyerah, Yaang. Udah, jangan berekspresi seperti itu lagi. Dari pada aku makan kamu di toilet sekolah," ujarnya frustasi. Menoleh ke sembarang arah.


Tentu saja, Rinda langsung menyunggingkan sebuah senyuman yang teramat manis, setelah mendapat apa yang ia mau.


"Lalu?" tanya gadis itu yang tidak sabaran. Meskipun ada rasa takut yang samar ia rasakan.


"Kita ke cafe aja, yuk!" ajak Ghani. Karena ia bakalan tahu endingnya seperti apa.

__ADS_1


Rinda mengernyit. "Kok malah ke cafe? Kan bicara di sini juga bisa, Kak. Ini lagi ada acara, loh! Nggak sayang Kak Ghani tinggal gitu aja?"


Ghani menggeleng lalu meraih tangan Rinda dan ia genggam dengan begitu lembut. Menatapnya penuh kasih sayang tiada batas.


"Sayang ... ini privasi kita. Aku nggak mau ada yang denger obrolan kita, sekalipun itu teman deket kita. Hmm?" ucap Ghani dengan nada yang sangat sangat lembut. Pokoknya jauh beda banget seperti awal-awal mereka ketemu.


Walaupun jika sama orang lain masih tetap datar dan dingin. Namun, tidak untuk wanitanya.


Rinda tidak langsung mengiyakan.


"Memangnya mau ke cafe mana?" tanya Rinda memastikan lebih dulu.


Takut-takut kalau sampai di bawa ke cafe suaminya sendiri. Yang ada bukan berbicara, tetapi berolahraga di atas sofa. (Eits! Jangan opertingking dulu, Yaang. Kan kalo di sofa lebih semangat. Soalnya musti jaga keseimbangan. Eh!)


Maaf, kemarin libur enggak bilang². Yuta lagi anu soalnya. iya, anu ...

__ADS_1


__ADS_2