Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Dapat Pacar Lagi


__ADS_3

Bab. 37


"Assalamu'alaikum, Buuuu ... Ibuuuuu!" teriak Rinda sembari melepas sepatunya dan masuk ke dalam rumah. "Ayem kamiiiiiinggg!" imbuhnya lagi melangkah menuju ke ruang tengah. Karena tidak menemukan ibunya di ruang depan.


Namun, sesampainya di ruang tengah, Rinda tidak menemukan ibunya. Lalu gadis itu menuju ke kamarnya sendiri dan mengambil dompet yang semalam tidak dibawakan oleh Ghani.


Setelah mengambilnya, Rinda segera turun dan keluar rumah lagi. Membayar taxi yang memang belum ia bayar.


"Terimakasih, Pak," ucap gadis itu sembari menyerahkan satu lembar uang berwarna merah.


"Loh, kembaliannya, Neng!" teriak pak supir yang akan keluar dari mobilnya.


Namun, dengan segera Rinda memberi kode untuk tidak keluar dari mobil.


"Kembaliannya untuk saku anak Bapak!" ucap Rinda yang sudah menutup gerbang rumah yang hanya setinggi bahunya saja.


"Terimakasih, Neng! Semoga Neng dapat pacar yang super ganteng dan baik!" ucap bapak supir itu dengan nada yang keras juga.


"Amiiinnn! Semoga dikabulin ya, Pak!" sahut Rinda.

__ADS_1


Kemudian gadis itu masuk ke dalam sambil menahan tawanya. Menyadari jika dirinya sangatlah konyol mengaminkan doa dari bapak supir taxi barusan.


"Ngapain kamu Dek? Senyum senyum? Kesambet?" tegur Nara ketika wanita itu baru keluar dari kamarnya.


"Loh, Kak Nara ada di rumah?" kaget Rinda. "Rinda panggil panggil nggak ada yang nyahut sama sekali," ujarnya.


Nara mendorong kening Rinda ketika sudah berdiri di hadapan adiknya.


"Baru aja laporan!" ucap wanita itu. "Lagian kenapa kamu senyum senyum? Aneh banget. Udah mau gil—"


"Kaaaakkk!" potong Rinda cepat. Tahu apa yang akan dikatakan oleh kakaknya.


"Ck! Cuma demam kehujanan aja mah udah langganan kan Kak," jawab Rinda. "Tadi tuh Rinda di doain sama pak supir taxi itu. Katanya biar dapat pacar yang ganteng dan baik. Ya udah, Rinda aminin aka," cerita Rinda mengenai kejadian yang membuatnya tertawa terus.


Nara menggelengkan kepala. "Kamu lupa? Kalau kamu itu udah nikah?"


Rinda mengangkat bahunya ke atas.


"Tapi kan kalau pacar memang Rinda belum punya, Kak. Siapa tau aja Rinda dapat beneran sebentar lagi," sahut Rinda begitu enteng dan tanpa beban sama sekali.

__ADS_1


Nara yang gemas dengan sikap adiknya pun melayangkan pukulan di lengan Rinda. "Ngawur aja kalau ngomong!"


Rinda hanya meringis. "Ibu memangnya ke mana sih, Kak?" tanya Rinda lagi.


"Ibu sedang arisan," jawab Nara sambil berjalan menuju ke dapur.


"Oh, ya sudah. Kalau gitu Rinda pulang ke rumah mama Ayumna dulu ya, Kak. Sekalian ini ambil dompet dan motor Rinda," ujar Rinda yang akan menaiki anakan tangga.


Mendengar hal tersebut, Nara memutar tubuhnya. Menatap heran ke arah sang adik yang tampak seperti kelelahan.


"Di sana nggak ada motor?" tanya Nara.


Rinda yang mendengar suara kakaknya lagi, gadis itu menghentikan langkah kakinya. Lalu menoleh ke arah Nara.


"Ada sih. Tapi ya gitu, motor sport semua. Kakak kan tau kalau Rinda nggak bisa bawa motor modelan kayak gitu. Yang ada malah Rinda ketiban," jawab Rinda dengan bibir yang merengut.


Nara paham akan hal itu. Karena memang adiknya ini ukurannya sangat mini, meskipun tampak menarik di tempat yang tepat.


"Ya udah, hati-hati bawa motornya. Jangan ngebut. Itu jas hujan ditaruh di jok dulu." ingat Nara sebelum kembali ke dapur.

__ADS_1


__ADS_2