
Bab. 53
Sementara itu Ghani membawa Rinda ke ruang UKS dan pria itu menguncinya dari dalam, setelah menyuruh petugas ruangan tersebut untuk segera pergi.
Tentu, petugas UKS yang bertugas pun tidak berani membantah di kala anak dari pemilik yayasan sekolah tersebut memberinya perintah. Daripada pekerjaannya ditanggalkan, lebih baik menuruti perintah dari anak remaja itu.
"Kak, lo udah gila, ya? Ngapain nyuruh Pak Ridwan keluar segala? Nanti kalau kita dipanggil ke ruang BK gimana?" protes Rinda sesaat setelah pak Ridwan keluar dari ruangan tersebut.
Sementara Ghani hanya tersenyum tenang. Pria itu tidak takut akan apa yang ditakutkan oleh istrinya.
"Cuma minjem bentaran doang. Nggak akan sampai dilaporkan," ucap Ghani yang tetap saja tidak bisa membuat Rinda tenang.
"Minjem minjem! Kayak yang punya sekolah aja!" cibir Rinda.
Ghani mengangkat sebelas alisnya. Menatap heran ke arah Rinda yang tengah berjalan menuju pintu.
'Dia apa nggak paham kali ya, suaminya ini kaya raya?' batin Ghani.
Perasaan, namanya papanya dan juga dirinya sering sekali mejeng di internet. Seorang pengusaha ternama dengan putra jeniusnya yang sudah memiliki banyak usaha, sering kali tertuliskan di bawah foto mereka berdua.
'Jangan bilang kalau dia nggak pernah buka internet.' curiga Ghani setelahnya.
"Kak, mana kuncinya? Bentar lagi udah masuk, loh!" pinta Rinda di saat tidak menemukan kunci pintu ruangan UKS tersebut.
__ADS_1
"Yaang, lo nggak pernah buka internet, ya?" tanya Ghani yang mengabaikan pertanyaan Rinda.
Rinda mengernyit. "Sering. Buat baca komik sama novel doang," jawab Rinda.
Kemudian Ghani melangkah mendekat ke arah Rinda. Lalu mengurung gadis itu dan memepetnya hingga ke pintu ruangan UKS.
"Masih nggak tau suamimu itu siapa?" tanya Ghani penasaran.
Entah, dirinya yang tidak begitu terkenal atau memang istrinya ini yang tidak pernah mengikuti perkembangan dunia bisnis.
"Ck! Nggak usah mulai deh lo, Kak. Jangan pura-pura amnesia di depan gue. Nggak ngaruh. Udah, bukain pintunya dulu. Gue nggak mau bolos. Yang ada Ibu malah ngomel, ntar," pinta Rinda lagi.
Tidak ingin meladeni permainan suaminya yang entah tengah memerankan peran apa kali ini. Pikir Rinda.
Sedangkan Rinda benar-benar kesal dibuat Ghani.
"Mau lo apa sih, Kak? Lo itu Arghani Natakara Bagaskara. Udah, puas!" balas Rinda dengan tatapan begitu jengah. Mencoba mendorong dadaa Ghani agar menjauh darinya, namun pria itu tetap mempertahankan posisinya. "Dan satu lagi, jangan manggil gue yaang yaaangan lagi. Yang ada ntar salah paham semua." ingat Rinda.
Bukannya apa. Ghani memang terkenal di sekolah dan dijuluki sebagai pangerannya SMA Dahlia. Jika sampai hal seperti di kantin tadi terjadi lagi dan sampai beritanya keluar ke sekolah lain, yang ada dirinya bakalan menjadi pusat perhatian.
Lama-lama Ghani begitu gemas dengan gadis yang ada di depannya saat ini. Di luaran sana, banyak gadis yang berlomba untuk bisa menarik perhatiannya, bahkan menjadi kekasihnya dan mereka akan melakukan segala cara. Namun, gadis di depannya ini sangat berbeda. Dia selalu menolak dan menolak dirinya berkali-kali.
"Aku nggak tampan, ya?" tanya Ghani menatap serius sembari mengunci tangan Rinda dan mengangkatnya di atas kepala.
__ADS_1
"Tampan," jawab Rinda begitu enteng.
"Kamu nggak tertarik sama aku?" cecar Ghani lagi.
Rinda terdiam dengan tatapan matanya yang mengarah tepat ke arah mata Ghani.
"Gue masih normal, Kak. Tentu aja tertarik, tapi dikit doang."
Ghani tersenyum senang mendengarnya. Lalu pria itu dengan cepat mengecup bibir Rinda yang sedari tadi menggodanya.
Cup!
"Hukuman lo nggak patuh," ucap Ghani lalu mengecupnya lagi. "Udah kubilang, manggilnya aku kamu. Bukan lo gue," ingatnya lagi.
"Loh, Kak Ghani sendiri tadi yang manggil gu—aku git—"
Cup!
"Nggak patuh lagi, kan?"
Ghani tersenyum miring menatap Rinda yang tampak terkejut dengan sikapnya barusan.
"Iihhh ... apa-an sih, lo Kak! Jangan ambil kesempatan deh!"
__ADS_1
"Ck!" Ghani berdecak sembari mengangkat sebelas alisnya. "Sepertinya istrinya Ghani ini minta diajari ciuman yang lebih dalam lagi. Hmm?" Ghani pun menggoda seraya tersenyum genit. Membuat Rinda tersipu malu.