
Bab. 36
Gimana tidak.geram, jika gadis yang sudah bersertifikat miliknya tersebut tengah digoda oleh cowok lain. Parahnya ini anak kelas sepuluh. Di mana tepat adik kelas Rinda.
Di tambah lagi, kenapa juga itu cewek malah senyam senyum kayak gitu. Ganjen banget jadi orang. Mana di minum juga lagi es dari cowok tengil tersebut. Baru aja sembuh, udah minum sembarangan yang tidak tahu higienis atau tidak. Batin Ghani yang menggerutu kesal melihat interaksi Rinda dengan cowok yang tidak dia kenal.
Belum lagi harus mendengar dua temannya yang sedari tadi membicarakan Rinda. Bukan membicarakan kejelekan gadis itu, melainkan tengah memuji Rinda yang memang terlihat imut. Kulitnya yang cenderung putih bersih, lalu terkena sinar matahari yang begitu terik di siang seperti ini, mrmbuatnya menjadi kemerahan dan justru terlihat sangat menggemaskan.
Tidak tahan mendengar Rinda dipuji, Ghani memutuskan untuk pergi dari sana.
"Lo mau ke mana, Gha? Bukannya mau mantau kinerja anak-anak?" tanya Dimas sedikit heran.
Sedangkan Johan hanya mengangkat bahunya tidak mengerti, di saat Ghani mengabaikan pertanyaan Dimas.
"Lagi dapet kali. Makanya kek begitu," ucap Johan.
"Udah, deh. Biarin aja. Yang penting bagian tempat yang mau dipakai buat pentas, udah siap. Tinggal hubungi tukang pasang nya aja," sahut Dimas yang tidak mau pusing.
Membantu kegiatan osis saja sudah membuatnya pusing. Apa lagi masih ditambahi dengan masalah Ghani. Oh, tidak! Mending Dimas pergi ke cafe dan melatih vokalnya lagi. Tentu saja, cafe miliknya sendiri.
"Ya udah, kalau gitu lo bilangin ke mereka kalau segini aja udah cukup. Suruh istirahat, gih! Kasian panas-panasan kayak gini. Ntar kalau ada yang pingsan, kita sendiri yang repot," ujar Johan. Lagi pula semua juga sudah selesai. Tinggal koordinasi ke yang bersangkutan dan menunggu bintang tamu di acara yang akan berlangsung akhir pekan tersebut.
__ADS_1
Dimas pun membubarkan mereka dan menyuruh mereka untuk kembali ke kelas. Namun sebelum itu harus membereskan perlengkapan yang sebelumnya dipakai.
Ketika pulang sekolah, Rinda sedikit bingung. Pasalnya selama ini dirinya mengendarai motor. Namun, pagi tadi dia berangkat bareng bersama Ghani. Dan tidak mungkin dirinya pulang bersama dengan pria itu juga.
"Masa pulang bareng lagi, sih? Mana duitnya tadi juga udah habis buat beli makan siang sama Felisha," keluh Rinda yang berdiri di dekat tempat parkir.
"Hei! Lo nggak pulang? Nungguin siapa?" ketika Rinda akan memutar tubuhnya, ia dikagetkan oleh seseorang yang menepuk pundaknya. Siapa lagi kalau bukan Felisha.
"Ngagetin aja sih, lo!" kesal Rinda yang mendapat kekehan dari temannya tersebut.
"Lagian lo bengong mulu. Ada apa? Nggak bawa motor kan lo? Mau gie anter?" tawar Felisha.
"Nggak! Nggak usah. Makasih. Gue bisa naik bus, kok." elak Rinda. Padahal uang di sakunya tinggal sepuluh ribu saja. Kurang lima ribu untuk dirinya naik bus.
"Beneran?" tanya Felisha menatap curiga dengan tingkah Rinda.
Rinda mengangguk mantap. Mencoba meyakinkan sahabatnya.
"Iya, Felishayang. Gue naik bus aja. Palingan lima belas menit juga dateng," ujar Rinda begitu yakin dan tersenyum tenang ke arah Felisha.
Felisha terdiam sebentar, lalu gadis itu akhirnya mengangguk juga.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau gitu gue pulang duluan," pamit Felisha yang kemudian pergi meninggalkan Rinda setelah Rinda memberi anggukan.
Sepeninggal Felisha, Rinda bisa bernapas lega.
"Akhirnya ... untuk saat ini nggak ketahuan," gumam Rinda. Kemudian Rinda mengeluarkan ponselnya. "Apa gue nelpon ayah aja, ya? Suruh jemput sebentar."
Namun, sebelum Rinda menelpon ayahnya, ada sebuah notif pesan masuk ke ponselnya.
Suami Lucknut
Jangan pulang dulu. Gue ada rapat osis bentar. Tunggu di perpus.
Rinda melongo membaca pesan dari pria itu.
"Ck! Enak aja nyuruh gue nunggu. Males banget," decak Rinda. "Mending naik taxi aja. Nanti bayar kalau udah sampai rumah Ibu." putus Rinda yang benar-benar naik taxi tanpa membalas pesan dari Ghani.
Tentu saja, karena ulahnya yang tidak membalas pesan tersebut mampu membuat seseorang begitu geram di tempat duduknya sekarang ini.
"Ck! Cuma dibaca doang. Awas saja lo!" geram Ghani membuat gadis yang ada di sampingnya menatap heran.
"Ada apa sih, Yaang?" tanya gadis itu dengan suara lirih. Karena mereka sekarang berada di ruang osis dan memang sedang ada rapat.
__ADS_1