Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Udah Sah


__ADS_3

Bab. 41


"Ya tapi kan nggak harus gini juga kali, Kak. Ambil kesempatan banget dah, jatuhnya!" protes Rinda yang masih terus terdengar.


Bahkan gadis itu berusaha untuk turun dari motor Ghani. Namun, dengan cepat Ghani cegah. Pria itu memasukkan tubuhnya di antara kaki Rinda. Membuat gadis itu memekik, namun segera membungkam mulutnya sendiri setelah sadar di mana mereka sekarang ini.


"Kak! Malu! Minggir, gue mau turun!" ucap Rinda dengan nada tertahan. Tidak suka dengan candaan Ghani kali ini.


Sedangkan Ghani dengan santai justru semakin membungkukkan tubuhnya hingga kini wajahnya begitu dekat dengan wajah Rinda.


"Masih mau protes, atau nurut sama gue?" Ghani menatap begitu intens ke arah Rinda. Tidak sedikit pun mengalihkan tatapannya dari sosok gadis yang ada di hadapannya saat ini.


Rinda menjadi gugup. Gadis itu berusaha untuk memalingkan wajahnya, namun segera di tahan oleh Ghani. Menahan dagu Rinda agar tetap menghadap ke arahnya. Meskipun tatapan Rinda mengarah ke sembarang arah.


"Apa-an sih, Kak. Malu tau. Kita ada di pinggir jalan, loh. Nanti dikiranya kita mesum. Padahal kan yang mesum lo doang," oceh Rinda lagi yang mencoba untuk mendorong tubuh Ghani.

__ADS_1


Melihat kepanikan di wajah Rinda dan memang mereka saat ini ada di pinggir jalan, Ghani segera menarik diri. Memberi jarak di antara mereka. Mengusap kepala Rinda lembut.


Kemudian pria itu melepas hoodie yang dia pakai, lalu memberikannya kepada Rinda. Membuat gadis itu menatap bingung.


"Pakai. Daripada nanti kehujanan lagi. Yang ada ngerepotin gue ntar," ujar Ghani lalu mengangkat tubuh Rinda tanpa permisi terlebih dulu setelah memberikan hoodienya pada Rinda.


Lagi dan lagi Rinda dibuat terkejut dengan sikap Ghani kepada dirinya yang sangat bahaya sekali. Karena memegang bagian tubuhnya yang belum pernah di sentuh oleh orang lain.


Kesal dengan sikap Ghani, setelah kakinya menginjak ke aspal, dengan gerakan cepat tangan gadis yang lebih kecil dari Ghani tersebut memukul bahu dan juga lengan pria yang ada di depannya.


Rinda melotot menatap ke arah Ghani. Mengerjapkan matanya beberapa kali. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat detik ini. Ghani tertawa? Sebuah keajaiban yang baru Rinda lihat kali pertamanya. Biasanya pria itu hanya tersenyum, meskipun itu sedang bercanda dengan teman-temannya.


"Udah, sah. Milik gue semua. Nggak usah protes." ingat Ghani membuat Rinda menarik semua kekaguman yang baru saja muncul dalam benak Rinda.


"Ck! Giliran kayak gini aja bilangnya milik gue milik gue. Coba kalo di pas di depan badut. Palingan cuma melengos doang," gumam Rinda menatap sinis ke arah Ghani.

__ADS_1


Gadis itu mengabaikan wajah bingung Ghani yang tidak mengerti maksud Rinda. Rinda lebih memilih memakai hoodie pemberian suaminya. Daripada nanti kehujanan lagi, yang ada dirinya amal pemandangan. Satu dua kali mungkin tidak apa-apa. Namun, jika sudah berkali kali, lama kelamaan yang ada dirinya kebanyakan pahala nantinya. Rinda tidak mau serakah. Ia ingin berbagi dengan yang lain.


"Kenapa motornya tadi?" tanya Ghani setelah Rinda memakai hoodienya.


Biar tidak ketahuan, Ghani menarik Zipper hoodie tersebut ke depan. Sehingga Rinda hanya terlihat bagian wajahnya saja. Itu pun harus berada di depannya.


"Habis kayaknya bensinnya. Terus ban yang depan itu kempes," ujar Rinda dengan suara pelan.


"Ya udah, pulang sama gue aja," sahut Ghani enteng. Lalu pria itu mengeluarkan ponselnya.


"Nggak mau! Motor gue mau taruh di ma—mmpphh!"


Kalimat Rinda tertelan kembali di saat Ghani membungkam mulutnya dengan sangat erat. Sedangkan pria itu tampak menempelkan ponsel di telinganya.


"Ambil motor di dekat taman kota. Kuncinya gue taruh di bawah ban depan." ujar Ghani pada seseorang yang ada di seberang sana.

__ADS_1


Rinda sendiri ingin melayangkan protes, tetapi tidak bisa. Karena tangan Ghani yang kekar itu masih melingkar di lehernya sembari membungkam mulutnya.


__ADS_2