Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Kelahiran Alther


__ADS_3

Bab. 75


Semakin lama, rasa sakit itu semakin bertambah. Membuat Rinda meremas tangan suaminya beberapa kali yang berada di sampingnya saat ini.


Sedangkan pria yang berada di sampingnya itu menatap khawatir, melihat buliran bening yang terus bermunculan dari dahi serta pelipis sang istri.


"Sakit banget ya, Yaang?" tanya Ghani yang tidak pernah melepas tangannya dari sang istri.


Rinda mengangguk sembari mengatur napasnya dari mulut. Rasanya benar-benar sungguh nikmat. Mungkin rasa ini tidak akan bisa dia rasakan lagi, kalau tidak saat-saat seperti ini.


"Maafin aku ya, Yaang. Aku nggak tahu kalau bakal buat kamu sampai seperti ini," sesal Ghani tampak begitu jelas di wajahnya. "Kalau tahu seperti bakalan seperti ini, aku nggak akan bikin kamu hamil secepatnya. Maafin aku, Yaang," ucapnya lagi meminta maaf kepada Rinda dengan sangat-sangat.


Rinda menggelengkan kepalanya. Mungkin, waktu awalan mengetahui dirinya hamil, ia memang marah besar pada suaminya. Namun, dengan seiring berjalannya waktu, Rinda justru merasa bersyukur. Karena masih diberi kesempatan untuk merasakan semua ini. Sedangkan di luaran sana banyak perempuan yang menginginkan seperti dirinya.


"Enggak, Mas. Aku seneng kok kamu hamilin aku. Cuma yang nggak senengnya itu kamu nggak pernah terbuka dulu sama aku kalau pas punya rencana," balas Rinda dengan napas terengah.


Ghani tidak tega melihat istrinya merasakan sakit dan tengah menunggu bertambahnya pembukaan selanjutnya.


Pria itu menoleh ke samping, di mana ada mamanya di sana.

__ADS_1


"Ma, ini bisa nggak langsung Mama keluarin aja? Ghani nggak tega lihat Rinda seperti ini, Ma. Kasihan," ucap Ghani pada mamanya.


Mama Ayumna mengangguk mengerti. Seperti apa Ghani khawatir mengenai hal ini. Tetapi memang ini semua harus dilalui dan diikuti prosesnya. Kalau tidak ada masalah, mereka memang akan menunggu dan tidak akan menyuntikkan obat untuk merangsaang sang babang bayi agar mau segera keluar. Tetapi ya memang seperti ini prosesnya. Hanya saja untuk dijelaskan kepada Ghani pun juga percuma. Batin mama Ayumna.


"Kamu tenang saja, Gha. Rinda nggak akan kenapa-napa. Dia wanita yang kuat. Kamu bantu support dan selalu berada di sisinya. Oh. Ya. Jangan makai jam tangan. Lepas dulu itu jam tangan kamu," ingat mama Ayumna.


Di saat seperti ini masih sempat-sempatnya memikirkan hal tersebut.


Bukan karena apa, mama Ayumna teringat saat dirinya melahirkan Ghani dulu dan penampilan suaminya berakhir seperti apa. Daripada tangannya nanti semakin parah karena ada jam tangan di sana, lebih baik mengurangi dampaknya akan lebih aman.


"Kamu wanita kuat, Sayang. Bertahanlah," ucap mama Ayumna kepada Rinda. Menggenggam tangannya dengan lembut, sebelum dokter menyuruh mereka semua untuk keluar.


Tidak lama dari itu, sang dokter pun masuk dan semua orang yang berada di dalam ruangan itu disuruh keluar. Kecuali Ghani yang menemani Rinda.


Semua persiapan sudah selesai. Pembukaan yang di alami Rinda juga sudah waktunya. Para tim medis yang terdiri empat orang itu mengambil posisi masing-masing sesuai tugas mereka. Sedangkan Ghani berada di samping Rinda. Menggenggam erat tangan istrinya tanpa melepas barang sebentar saja.


"Maaasss .....!" teriak Rinda di saat janin yang ada di dalam kandungannya itu mendesak ingin keluar.


"Terus, Bu Rinda. Dorong terus," ucap sang dokter memberi arahan pada Rinda untuk mengejan lebih kuat lagi.

__ADS_1


Rinda mengatur napasnya, kedua tangannya berpegangan pada lengan Ghani yang sekarang ini posisinya berada di atas kepalanya.


"Ayo Sayang, kamu wanita kuat, kamu hebat, kamu pasti bisa, Yaang," ucap Ghani memberi dukungan pada istrinya dengan raut yang menyengir. Menahan rasa sakit yang teramat di kedua lengannya.


"Aku nggak bisa, Mas!" rengek Rinda yang terus berteriak.


"Bisa, Yaang! Bisa!" sahut Ghani dengan nada tak kalah tinggi. Beberapa kali pria itu mengepalkan tangannya, menahan rasa sakit yang diberikan oleh Rinda.


Betapa tidak, sesuai dugaan mamanya. Kemeja Ghani yang tadinya rapi, kini entah berapa kancing yang terlepas dari tempatnya. Serta lengannya yang penuh luka dsn juga darah keluar dari permukaan kulit yang terbuka. Akibat cakaran dari kuku tajam Rinda. Kebetulan juga Rinda belum sempat memotong kuku panjangnya itu.


"Huh huh huh .... huuuaaaa!"


"Ooeeeekk!"


Teriakan Rinda yang terakhir berbarengan dengan suara tangis seorang bayi yang berhasil berjuang untuk bisa melihat indahnya dunia. Membuat air mata Ghani menetes begitu saja di saat menyaksikan secara langsung perjuangan istrinya dalam melahirkan putra pertama mereka.


"Anakku keluar, Mas," ucap Rinda dengan suara lemas.


"Iya, Yaang. Anak kita sudah lahir," ralat Ghani yang juga lemas.

__ADS_1


"Siapa namanya, Mas?"


__ADS_2