Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Salah Tangkap


__ADS_3

Bab. 56


"Kak, kamu nggak belajar? Kan besok mau ujian," ujar Rinda ketika mendapati suaminya yang malah main game di ponselnya.


Ghani hanya meliriknya sekilas. Dia melakukan mogok bicara setelah apa yang diinginkan tidak dituruti oleh istrinya.


Rinda menghela napasnya. Ia tahu apa yang di lakukan oleh suaminya.


"Nanti deh, kalau Kak Ghani udah lulus. Aku mau," ujar Rinda lagi ketika diabaikan oleh suaminya sendiri.


Saat ini mereka berada di dalam kamar mereka. Mereka masih tinggal bersama kedua orang tua Ghani. Karena memang orang tua Ghani tidak menginginkan mereka untuk tinggal di rumah Ghani sendiri. Meskipun Ghani sebenarnya sudah punya rumah. Baru setelah mereka lulus sekolah, mama Ayumna dan papa Langit mengijinkan mereka jika mereka masih ingin tinggal sendiri.


Mendengar perkataan Rinda barusan, membuat senyum tipis terbit dari bibir Ghani. Rupanya, aksi mogok bicaranya sedari makan malam tadi berhasil juga.


Pria itu menaruh ponselnya di sofa, lalu menarik istrinya yang masih berdiri di dekatnya. Hingga tubuh Rinda jatuh ke atas pangkuannya.


"Kalau malam ini, boleh aju tidur di kasur, Yaang?" tanya Ghani.

__ADS_1


Meskipun hubungan mereka sudah dekat, namun Ghani tetap tidur di sofa. Karena takut kalau sampai dia khilaf seperti yang pernah terjadi dan hampir saja melakukan hal ahem ahem secara paksa.


"Tidur di sofa capek, Yaang. Pegel semua. Malam ini pingin dikelonin kamu. Biar besok lancar otaknya," rengek Ghani dengan tatapan genitnya.


Rinda yang berada di pangkuan Ghani pun menggeliat. Karena suaminya tersebut menaruh dagunya di bahu dirinya yang terbuka. Sebab sekarang ini Rinda mengenakan baju tidur tanpa lengan. Hanya seutas tali yang mengaitkan sisi lainnya.


"Kak ... jangan gini, ih! Geli!"


Sebisa mungkin Rinda menjauhkan kepala suaminya dari sana. Namun tangan Ghani melingkar di perutnya dengan sangat erat.


Sebenarnya dia tidak berniat mengatakan hal tersebut. Ghani hanya ingin menyadarkan Rinda, kalau dirinya mempunyai batasan sabar.


Deg!


Rinda tersentak di saat mendengar ucapan suaminya akan mencari wanita lain jika dirinya terus mengulur waktu.


Satu minggu yang lalu, Rinda sendiri sudah konsultasi dengan mama mertuanya. Tentu saja gadis itu meninggalkan rasa malunya di kamar sebum berkonsultasi pada mama Ayumna.

__ADS_1


Mama Ayumna tidak melarang. Hanya saja jika Rinda masih ingin meneruskan sekolahnya dan masih ingin kuliah, beliau menyarankan Ghani untuk memakai pengaman. Itu pencegahan paling aman untuk keduanya. Dari segala pencegahan yang ada.


Rinda menoleh ke belakang. Sedikit ragu dan malu mengatakannya. Namun, ia tidak mungkin menggantung suaminya terus menerus dan tidak mau kalau sampai ada wanita lain di dalam pernikahan mereka.


Ghani menangkup dagu Rinda dan langsung menyambar bibir gadis itu dengan lembut dan penuh perasaan. Lalu menarik diri, menjeda kegiatan mereka yang semakin panas dalam posisi yang masih sama.


"Yaang?" Ghani menatap sayu ke arah Rinda yang tengah menunduk. Meminta persetujuan untuk melakukan hal yang lebih dari ini. "Boleh sekarang?" tanya Ghani dengan suara yang berat.


Rinda memberanikan diri, lalu mengangguk samar.


"Tapi pakai pengaman, ya?" pinta Rinda.


Mata Ghani terbeliak. Terkejut dengan permintaan istrinya barusan.


"Hah? Pengaman apanya, Yaang?" tanyanya lebih jelas lagi.


Karena ia hanya meminta untuk tidur dalam satu ranjang. Tidak pisah pisah lagi. Namun, sepertinya ia mendapati tanggapan lain dari istrinya.

__ADS_1


__ADS_2