
Bab. 54
Tanpa terasa pernikahan mereka berjalan enam bulan sudah. Dan minggu depan merupakan Ujian Nasional bagi Ghani.
Bukannya belajar dengan giat, pria itu justru mengajak istrinya untuk berkeliling kota mengendarai motor sport nya.
Meskipun masih malu dan belum terbiasa di bonceng seperti ini oleh cowok, walaupun cowok itu merupakan suaminya sendiri. Rinda masih belum terbiasa.
Setelah kejadian pengungkapan putusnya hubungan Ghani dan Musi, Ghani pun juga secara langsung menunjukkan hubungannya dengan Rinda. Bahkan mereka sering terlihat berangkat dan pulang bersama. Tanpa ada lagi yang ditutupi. Lebih tepatnya memang Ghani menginginkan hubungan mereka di publishkan.
Ghani juga dengan sengaja sering menggandeng tangan Rinda, ketika jam istirahat tiba atau di saat mereka baru tiba di sekolah. Tidak jarah luka Ghani selalu mengantar Rinda ke kelasnya.
Jangan tanyakan bagaimana malunya Rinda dan juga gemparnya hubungan mereka. Ghani yang terlihat lebih bucin dari kekasih sebelumnya, bahkan pria itu seolah ingin terus berada di samping Rinda.
Ada juga di suatu kejadian di saat Rinda ditembak oleh kakak kelasnya di lapangan basket, kebetulan cowok itu merupakan anggota club basket juga. Dengan suara yang lantang, tanpa melepas genggaman tangannya pada sang istri, Ghani mengatakan kalau Rinda merupakan miliknya dan juga istrinya. Berani mendekat, itu artinya harus berurusan dengan dirinya.
__ADS_1
"Yaang, kamu mau makan apa?" tanya Ghani ketika mereka masih berada di atas motor yang masih melaju dengan kecepatan sedang.
Rinda yang menikmati pemandangan di sekitarnya pun, tampak mendekatkan kepalanya ke arah sang suami. Lalu mendekatkan bibirnya kepada telinga Ghani.
"Gue pingin serabi, Kak!" ucap Rinda dengan suara yang keras. Karena suara bising dari kendaraan lebih keras daripada suaranya.
Ghani mengurangi laju kendaraannya. Sedikit menolehkan kepala ke belakang. Menatap sekilas wajah sang istri dengan tatapan sedikit sinis.
"Yaang, aku udah berapa kali bilang sama kamu?"
"Hah? Apanya Kak?" tanya Rinda tidak paham dengan maksud suaminya.
Rinda menepuk bahu Ghani sedikit keras.
"Itu aja mulu ancemannya. Ingat, kita masih sekolah, Kak. Jangan aneh-aneh dulu deh," ucap Rinda.
__ADS_1
Ghani kemudian menghentikan motornya dan menepi di pinggir jalan. Kemudian di sana ada yang jual serabi.
"Aku sebentar lagi lulus, Yaang. Aku juga udah punya penghasilan sendiri. Nggak minta sama Papa. Jadi nggak masalah dong, kalau aku punya anak sekarang," ujar Ghani yang masih terus membahas keinginannya.
Rinda jengah mendengarnya. Gadis itu memilih turun dari motor lalu melepas helmnya.
"Jangan bahas itu dulu, kalau aku belum lulus." bisik Rinda sembari mengecup pipi suaminya agar tidak cemberut seperti sekarang.
Ghani masih menekuk wajahnya. "Masa nggak dibolehin coba coba dulu, Yaang. Udah setengah tahun loh, Yaang. Aku pingin itu," rengek Ghani seraya menaruh kepalanya di bahu Rinda.
Rinda yang sudah terbiasa menerima sikap manja Ghani jika mereka sedang berdua, menatap jengah.
"Kak, malu. Diliatin Abangnya tuh!" ingat Rinda sembari menunjuk ke arah Abang penjual serabi yang tengah menahan senyumnya. Mungkin, beranggapan kalau mereka sepasang kekasih.
Ghani melirik ke arah Abang penjual serabi. Lalu kembali fokus kepada istrinya.
__ADS_1
"Biarin! Pokoknya janji dulu. Kapan kasih aku itu?" rengek Ghani.
Mumpung berada di luar dan tengah ditunggu oleh penjual serabi, tentu saja Ghani tidak akan menyiakan kesempatan.