Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Kelulusan Rinda


__ADS_3

Bab. 65


Satu tahun kemudian.


Tidak terasa kini akhirnya Rinda lulus dengan nilai yang sangat membanggakan. Betapa tidak, gadis itu lulus dengan sangat sempurna. Bahkan orang tuanya sendiri pun tidak menyangka.


"Cieee ... adiknya Kakak ternyata pintar juga," goda Nara ketika menghampiri Rinda yang baru turun dari podium. Memeluk sang adik baru kemudian memberikan buket bunga pada Rinda.


"Ya kan ntar aku malu sama kamu, Kak, kalau sampai nilai ku rendah. Ntar para tetangga bakalan mencibir kek gini, ih, itu kakaknya seorang dokter, tapi adiknya kok nilainya jelek, ya!" ucap Rinda sembari menirukan gaya bicara salah satu tetangga di sebelah rumah orang tuanya.


Nara yang ada di depan Rinda pun langsung melayangkan pukulan di lengan sang adik.


"Hust! Nggak boleh gitu, Dek!" ingat Nara.


Sementara bu Mela menatap bangga kepada putri bungsunya tersebut. Di mana dulu yang selalu membuat dirinya teriak-teriak, kini nyatanya membawa nama baik keluarga dengan menjadi lulusan terbaik di sekolah ini. Bahkan ayahnya saja juga sampai memutihkan air matanya. Tidak menyangka kalau putri kecilnya yang manja itu bisa menjadi lulusan terbaik.

__ADS_1


Rasa bangga itu juga dirasakan oleh keluarga Ghani. Terutama mama Ayumna yang tidak henti tersenyum melihat Rinda memakai kebaya berwarna peach pilihannya.


"Mama juga bangga sama kamu, Sayang," ucap mama Ayumna.


Rinda mengangguk lalu berhambur di pelukan mama mertuanya.


"Semua juga atas dukungan dari Mama dan Papa yang tidak henti mengawasi Rinda belajar selama ini. Terimakasih, Ma, Pa," ucap Rinda. Lalu berpindah menatap ke arah kedua orang tuanya. "Terimakasih juga, Yah, Bu. Karena kalian sudah sabar menghadapi tingkah Rinda yang nakal," ucapnya pada kedua orang tuanya.


"Ck! Baru sadar kamu, Dek!" ledek Nara sembari menggelengkan kepala.


Momen haru yang berlangsung beberapa detik itu terpaksa sirna di kala celetukan dari Nara keluar.


"Kamu sedang apa, Yaang? Kok keliatannya sibuk banget?" tanya seorang pria yang hanya kelihatan wajahnya saja di layar ponsel yang ditaruh di atas bantal. Sementara sang pemiliknya entah kemana. "Yaang! Kamu masih ada di sana, kan?" tanya pria itu memanggil kekasih hatinya. Eh, bukan. Yang tepat ialah pemilik hatinya.


Sementara di sisi lain, Rinda cepat-cepat memasukkan beberapa baju ke dalam koper mini. Memberi sedikit tekanan, lalu menarik resleting dan menguncinya. Dengan gerakan cepat, Rinda menuju ke ranjangnya. Di mana sang suami sudah memanggil dirinya beberapa kali.

__ADS_1


"Ya, Mas?"


Rinda mengangkat ponsel dan mengarahkan tepat ke arahnya. Memperlihatkan sebagian dirinya di layar tersebut.


Saat melihat ke layar ponselnya, Rinda disuguhkan dengan wajah seorang pria yang kini tengah ditekuk. Seperti biasa. Jika Rinda lama menjawab panggilan atau membalas pesannya, pria itu selalu berekspresi seperti anak kecil yang tidak dikasih permen.


Ghani diam. Memilih aksi mogok bicara dengan istrinya karena dari tadi merasa di cueki oleh Rinda.


Rinda beberapa kali menarik napas. Menurunkan ego dan membujuk suaminya.


"Mas ... ada apa? Aku habis dari toilet, pipis. Enggak boleh? Hmm?" bohong Rinda. Namun gadis itu memasang wajah memohon.


Tentu saja Ghani tidak akan kuat berpura-pura ngambek pada Rinda. Pria itu mengangguk paham.


"Udah makan, Yaang?" tanya Ghani yang selalu memperhatikan kesehatan Rinda, meskipun jarak menjadi pemisah mereka untuk saat ini.

__ADS_1


"Nggak enak makan, Mas. Mulutku rasanya pahit banget," jawab Rinda. "Oya, Mas. Nanti malam aku ada acara sama anak-anak. Mau adain pesta gitu sebelum benar-benar pisah. Boleh, ya? Soalnya setelah ini entah kita bisa ketemu apa nggak," ijin Rinda yang jelas-jelas itu hanya bagian dari rencananya saja.


"Terus kita nggak bisa telponan dong, Yaang ... kalau kamu ada acara sama temen kamu," rengek Ghani yang selalu ingin melihat istrinya. Walaupun dari layar ponselnya.


__ADS_2