Ketos Itu Suamiku

Ketos Itu Suamiku
Sang Bijak Leo


__ADS_3

Bab. 67


Setelah panggilannya di matikan secara sepihak oleh istrinya sendiri, Ghani melempar apa saja yang ada di dekatnya. Bantal serta guling sudah tidak ada lagi di atas tempat tidur. Membuat seseorang yang juga berada di dalam kamarnya pun menatap heran.


"Kenapa lo?" tanya pria itu heran. Karena tiba-tiba saja Ghani mengamuk tidak jelas.


"Pesanin tiket malam ini juga!" titah Ghani menahan amarah yang bergemuruh di dalam hatinya.


Pria yang tak lain ialah asisten Ghani tersebut mengangkat alisnya.


"Ke?"


"Pulang ke Indonesia!"

__ADS_1


"Lo gila!" sentak asisten Ghani yang bernama Leo. Pria itu sampai berdiri dari tempatnya dan menatap garang ke arah Ghani. "Besok kita ada presentase dengan perusahaan sebelah. Jangan gila aja lo!"


Leo masih heran dengan sikap Ghani. Padahal beberapa menit yang lalu pria itu tampak sumringah karena mendapat telepon dari istrinya. Namun, kenapa sekarang berubah begitu menyebalkan dan seolah otaknya tidak jalan sama sekali.


"Batalin!" titah Ghani yang kemudian berusaha untuk menghubungi istrinya lagi namun nomor Rinda berada di luar jangkauan. Semakin membuatnya bertambah kesal saja.


Leo mengambil banyak yang kini ada di bawahnya.lalu melemparnya begitu saja kepada bosnya itu.


Ghani menatap sinis ke arah Leo. Mengangkat sebelah sudut bibirnya ke atas. "Lo belum tahu aja rasanya nahan rindu sama orang yang lo sayang. Apa lagi ini gue sendiri," cibir Ghani.


"Gimana mau rasain itu semua, kalau lo kasih gue kerjaan dobel dobel mulu!" balas Leo yang sangat berani. Membuat Ghani mengeraskan rahangnya.


"Ck! Pokoknya pesanin sekarang atau gue yang berangkat sendiri." ancam Ghani. Tatapannya begitu serius.

__ADS_1


Jelas napas terdengar dari mulut Leo. Entah harus bagaimana lagi ia menghadapi atasan yang sangat labil seperti itu. Padahal beberapa bulan mengawasi Ghani, pria yang tujuh tahun lebih muda darinya tersebut baik-baik saja.


Tidak membuatnya kesulitan sampai seperti ini, walaupun terkadang di kala rapat tiba-tiba saja menundanya hanya karena mendapat telepon dari sang istri. Leo masih memaklumi. Mungkin, mereka sedang berada di fase yang menggebu-nggebu.


Akan tetapi, untuk saat ini tidak bisa Leo mentolerir sikap Ghani yang bucinnya minta ampun kepada gadis yang ia tidak tahu seperti apa rupanya.


"Mending lo tenangin diri dulu deh, Gha. Lo pikir aja, mungkin karena batrenya habis atau dia memang sangat ngantuk. Kalaupun lo terbang malam ini tanpa memberi kabar sebelumnya, lo nggak tahu dia ada di rumah atau enggak, kan? Sedangkan lo tahu sendiri kalau dia mau lanjutin kuliah ke Malang. Yang ada kalian tetap nggak bisa ketemu. Sedangkan kerjaan lo besok itu nggak bisa gue wakili. Lo tahu betul itu," jelas Leo dengan bahasa dan sudut pandang yang lebih luas lagi. Tidak tergesa-gesa seperti yang Ghani lakukan.


Ghani terdiam. Ucapan Leo tidak salah. Percuma saja jika dirinya pulang sekarang juga. Terlebih lagi tanpa memberitahu Rinda.


Ghani mengambil napas dalam-dalam, lalu menghembuskan dengan pelan. Mencoba untuk meredam emosinya sesaat.


"Ya. Yang lo omongin benar," ucap aghani lirih. Mencoba untuk pasrah dan akan menelponnya lagi besok. Barang kali benar apa yang dikatakan oleh Leo. Kalau istrinya memang benar-benar capek atau kalau tidak ya batrenya habis.

__ADS_1


__ADS_2