
TAR DUAR
Sudah 1 minggu Satria dan lainnya menetap di desa itu, mereka terus berlatih bersama, tapi Satria belum juga bisa mengendalikan kekuatannya dengan sempurna...
"Sudah hampir 1 minggu kita di sini, dan aku sudah berlatih selama ini, tapi tetap saja sangat tidak mudah mengendalikan petir dengan tangan kosong" keluh Satria sambil menahan rasa sakit di tangannya
Melihat Satria yang kesakitan membuat Bening tak tahan dan menghampirinya sembari membalut luka Satria..
"Tuan! Lihatlah luka di tanganmu semakin parah, jika kau meneruskan latihanmu bisa-bisa kau akan kehilangan tanganmu" ucap Bening sambil membalut luka Satria
Madit yang khawatir dengan kondisi Satria mencari cara lain bagaimana agar Satria tidak bersentuhan langsung dengan petir itu tapi tetap bisa mengendalikannya...
"Kita harus cari cara lain agar tanganmu tidak terluka" ucap Madit
"Tapi apa Kak?" tanya Satria sembari memikirkan caranya
"Aku tahu! kenapa tidak menggunakan payung itu saja sebagai alat perantanya" jawab Bening
"Aih! payung aneh begini, tidak mau" ucap Satria
Mendengar perkataan Satria membuat Madit marah, bagaimanapun jeleknya bentuk payung itu, tetap saja itu adalah barang peninggalan dari Raja Surya, ayah Satria...
TOK
"Aduh!"
"Apa kau bukan putranya? Bagaimana bisa seorang anak menghina pemberian dari orangtuanya" ucap Madit
"Hemz, ia aku salah, tapi kak terkadang aku ingin pergi ke alam baka bertanya pada ayah kenapa dia memberiku sebuah payung dan bukannya sebuah senjata atau hal lainnya yang lebih berguna" ucap Satria
"Sudahlah, Jangan banyak mengeluh, kau lakukan saja dulu" tegas Madit
"Baiklah! Aku coba!" jawab Satria sambil memegang payung itu
Satria pun bersiap-siap mencoba menggunakan payung itu sebagai perantara sebelum petir menyambar ke tangannya langsung, tapi di saat Satria mulai menyerap petir tiba-tiba terjadi sesuatu dengan payung tersebut...
__ADS_1
TAR DUAR
Tak di sangka payung itu tiba-tiba bereaksi sendiri dan mulai bergerak dan sulit untuk di kendalikan...
"Kenapa ini! payungnya tidak terkontrol!" Satria yang kebingungan lantas berusaha mengendalikan payung tersebut tapi semakin Satria mengendalikannya dia merasa ada kekuatan besar yang merasuk ke tubuhnya...
"Aagrrh!!!" teriak Satria sambil tetap mempertahankan pegangannya pada payung itu
Madit dan Bening yang melihat kejadian itu langsung mendekati Satria dan berusaha melindunginya tapi mereka berdua terpental dan seluruh kekuatan mereka habis terkuras...
DUAR
BRUK BRAK
Madit terpental ke arah kiri, sementara Bening dia terpental cukup jauh dan menabrak sebuah batu besar, tapi karena kekuatan dewinya berfungsi sendiri saat dia dalam bahaya, jadi dia pun tidak terluka cukup parah....
"KAKAK!!! BENING!!!" teriak Satria
"Sial, tenagaku terkuras habis hanya dengan sekali pukulan" rintih Madit
"Ternyata perisai air ini sangat berguna, aku jadi tidak terluka parah karenanya" batin Bening sambil mencoba berdiri
"Tapi tuan..." ucap Bening
"Percayalah padanya" ucap Madit
Madit dan Bening pun hanya bisa melihat Satria dari jauh, perlahan Satria mulai mencoba untuk mengendalikan kekuatannya, walaupun usahanya itu menguras cukup banyak tenaganya, tapi dia tidak menyerah, dia terus berjuang...
Dan saat Satria sudah tidak sanggup lagi menahannya tiba-tiba dia seperti mendengar suara di telinganya "Kekuatan sebenarnya sudah mengalir di dalam dirimu, jangan menahannya tapi lepaskanlah"
Karena sudah tak sanggup lagi menahan akhirnya Satria mengikuti arahan suara itu dan dia melepaskan seluruh kekuatannya dan benar saja, tiba-tiba payung itu berubah menjadi sebuah tombak yang langkah...
Ternyata payung itu adalah senjata Raja Surya yang dia sembunyikan untuk melindungi putranya...
Satria yang sudah melepaskan seluruh kekuatannya pun lemas dan pingsan, dan tombak tersebut kembali menjadi payung usam...
__ADS_1
Madit dan Bening yang menyaksikan semua kejadian itu langsung membawa Satria kembali ke desa untuk di beri pengobatan...
Sesampainya di desa Madit langsung membuat ramuan untuk Satria, sementara Bening dia terus berada di sisi Satria sambil terus menatapnya...
"Bola matamu bisa keluar jika kau terus menatapnya begitu" ucap Madit sambil meletakkan ramuan obat di samping tubuh Satria
"Aku hanya mengkhawatirkannya" ucap Bening
"Jika orang lain melihatmu seperti ini, mereka akan menganggap kau adalah istri yang mengkhawatirkan suami" ucap Madit
Mendengar perkataan Madit membuat Bening merasa malu, pipinya mulai memerah dan jantungnya tiba-tiba berdebar kencang...
DEG
"A.. aku tidak... " Bening tak mampu menjawab perkataan Madit
"Sudahlah, lupakan saja, dia baik-baik saja, hanya perlu istirahat" ucap Madit
"Tapi ada yang aneh, seorang manusia biasa seharusnya sudah tidak selamat lagi karena dia sudah menggunakan seluruh kekuatannya, tapi lihatlah dia tetap hidup" ucap Bening
"Itu karena di dalam tubuhnya mengalir darah seorang dewi jadi dia tidak akan mudah untuk mati" ucap Madit
"Apa? Dewi? maksudmu ayah tuan dan ibunya, eh maksudku ayahnya menikahi seorang dewi?" tanya Bening terkejut
"Benar, bisa di bilang dewi itu adalah ikatan keduanya" jawab Madit
Bening sangat senang saat mendengar perkataan Madit, dia mulai berpikir dia dan Satria mungkin bisa bersama...
"Kalau begitu aku dan tuan bisa..." batin Bening
Melihat reaksi Bening yang berlebihan membuat Madit memukul kepalanya untuk menyadarkannya dari khayalan nya itu...
TOK
"Jangan berkhayal terlalu tinggi karena jika kau terjatuh rasanya akan sakit" ucap Madit
"Akh!!! Sakit!!!" teriak Bening sambil mengelus kepalanya
__ADS_1
Mendengar ucapan Bening membuat Madit senang karena jika terjadi sesuatu padanya akan ada Bening yang akan selalu menjaga Satria...