
Di istana
Sejak kembali dari perjalanannya bersama Rania, Eza terus melamun, dia terus berpikir apa sebenarnya yang kurang darinya, kenapa Rania terus menolaknya...
"Apa aku kurang tampan? Atau aku masih kurang hebat? Sebenarnya kriteria pria idamanmu itu seperti apa sih? " batin Eza
TAP TAP
Terdengar suara langkah kaki yang berjalan mendekati Eza yang tengah melamun…
"Pangeran, Ada apa denganmu? Kau terlihat seperti wanita saja" ucap Zarta hewan suci sekaligus sahabat Eza sambil menepuk pelan pundak Eza
"Hemz, entahlah Zar, sebenarnya aku ini kurang apa sih? Kenapa dia terus saja menolakku" ucap Eza
Mendengar ucapan Eza membuat Zarta tak bisa menahan tawanya...
"Hahaha"
"Aku ingin mendengar saranmu, bukan mendengar kau menertawakanku begini" ucap Eza sambil mengerutkan alisnya
"Maaf pangeran, aku pikir anda tidak kurang apapun, mungkin untuk saat ini putri memang belum bisa membuka hatinya untuk siapapun" sahut Zarta
"Aku harap begitu, tapi jika dia sampai menyukai orang lain, aku tidak akan pernah membiarkan orang tersebut hidup" ucap Eza sambil menggapalkan tangannya
"Pangeran, bukankah itu namanya pemaksaan, kau tidak bisa memaksa orang lain untuk menyukaimu pangeran" ucap Zarta
"Tapi aku sud…"
Tiba-tiba Iney (Dewi) datang dari belakang membawa teh dan langsung memotong pembicaraan Eza...
"Apa yang di katakan Zarta itu benar pangeran" sahut Iney
"Tapi Iney, tetap saja rasanya hati ini tidak akan pernah ikhlas untuk melepasnya bersama orang lain" ucap Eza sambil berjalan ke arah balkon
Zarta dan Iney pun tidak bisa mengatakan apapun dan hanya berdiri di belakang Eza menemaninya, sementara itu di waktu yang sama di ruangan lainnya terlihat seorang pria yang sedang memakai baju bermotif bunga ungu di bantu oleh para pelayan...
"Pangeran ini teh anda" ucap Pelayanan 1 sambil meletakkan teh di atas meja
__ADS_1
Setelah selesai berganti pakaian pangeran Eddar langsung menyuruh semua pelayannya pergi...
"Kalian pergilah" ucap Eddar sambil duduk
Saat Eddar tengah menikmati teh hijau nya, tiba-tiba seseorang datang menghadapnya...
TAP TAP
"Salam pangeran" ucap Runbi (Dewi) memberi salam
"Kau menemukannya?" tanya Eddar sambil mulai meminum tehnya
"Maaf pangeran, saya belum menemukan jejak pangeran Satria" jawab Runbi
Mendengar jawaban Runbi membuat Eddar marah dan meyiramkan teh yang dia pegang tepat di wajah Runbi...
Runbi yang tidak bisa menghindar hanya bisa terdiam sambil menahan rasa sakit akibat percikan air panas dari teh tersebut...
SYUUT
"Dasar tidak berguna, hanya menemukan seorang bocah ingusan saja kau tidak bisa" ucap Eddar dengan nada marah
"Beri saya kesempatan sekali lagi pangeran, saya pasti akan menemukannya" ucap Runbi sambil berlutut di hadapan Eddar
"Pangeran maafkan saya, kali ini saya pasti akan melakukan yang terbaik" ucap Runbi sambil memegang kaki Eddar
Eddar yang masih kesal dengan pekerjaan Runbi lalu mendorong Runbi hingga dia terduduk di lantai, sementara Sirbi (Uragus) yang dari tadi hanya melihat dari depan pintu kini masuk dan memotong pembicaraan mereka...
"Pangeran jangan terlalu kejam kepada Runbi" ucap Sirbi sambil berjalan mendekati Eddar
"Sirbi" batin Runbi
"Aku rasa dia pantas untuk itu" ucap Eddar
"Hehehe, jika hanya seperti ini saja, aku pikir Runbi tidak akan pernah sadar pangeran" ucap Sirbi
"Ya kau benar, wanita bodoh ini memang tidak akan pernah mengerti" ucap Eddar
Mendengar ucapan Eddar membuat Sirbi tersenyum dan mulai membelai tubuh Eddar dengan lembut...
Melihat perlakuan Sirbi yang begitu murahan membuat Runbi tidak bisa menahannya lagi dan langsung menyerangnya dengan kekuatannya...
__ADS_1
"Uptaria" teriak Runbi
***TAR
BRUK***
Sirbi langsung terpental dan terluka cukup parah, melihat hal itu Eddar tidak tinggal diam, dia langsung menyerang Runbi balik dengan membacakan mantra penyiksa pengikut...
"Sintar tarpi sila guradia" ucap Eddar
Runbi yang tidak bisa melawan siksaan itu langsung bergeliat kesakitan...
"Aarggh" teriak Runbi sambil terus bergeliat di lantai
Sirbi yang tadinya tergeletak di lantai kini sudah bisa berdiri kembali sambil mengelap darah di bibirnya...
"Sudahlah pangeran, aku baik-baik saja" ucap Sirbi
Eddar yang melihat Sirbi sudah bisa bangkit kembali langsung menghentikan mantranya dan menghampiri Sirbi...
"Ayo aku bantu kau duduk" ucap Eddar sambil membantu Sirbi duduk
Runbi yang dari tadi tergeletak di lantai kini berusaha untuk berdiri...
Eddar tidak memperdulikannya, dia bahkan menyuruhnya pergi meninggalkan mereka berdua, padahal luka yang di berikan Runbi pada Sirbi tidak sebanding dengan luka yang Runbi peroleh...
Walaupun begitu Runbi tidak bisa berkata apapun, dia hanya bisa pergi sambil berjalan tertatih dan menangis...
Di waktu yang sama, Satria dan lainnya kini sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Iga...
Mereka pergi dengan menunggangi Krinton...
"Tuan, apa kita harus menunggangi mereka begini?" tanya Bening yang merasa takut duduk di atas punggung Krinton
"Ini akan mempercepat kita sampai di sana Bening" jawab Satria
"Kalau begitu kenapa kita tidak terbang saja tuan, aku akan membawamu ke sana jauh lebih cepat dari ini" ucap Bening
"Terbang akan membuat orang memperhatikan kita" ucap Satria
"Begini juga sama, orang akan memperhatikan kita" ucap Bening
__ADS_1
"Jika kita terbang orang akan mengetahui bahwa Satria adalah seorang Kesatria sempurna dan itu bisa membuat kita di ketahui oleh para pembunuh, tapi jika seperti ini mereka hanya akan menganggap Satria sebagai Kesatria level rendah dan tak akan peduli" jelas Madit
"Kalian berpeganganlah, aku akan mempercepat langkahku" ucap Krinton